Senin, 3 Zulhijjah 1443 H / 4 Juli 2022

Bisakah Kita Berbicara dengan Allah

Assalaamu ‘alaikum wr. Wb.

Ustadz yang dirahmati Allah, saya bertemu dengan orang yang mengaku bisa bercakap-cakap dengan Allah. Apakah ini mungkin dilakukan? Mohon penjelasannya disertai dalil Al-Qur’an & Hadits.

Terima kasih,

Wassalaam.

Assalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Bercakap-cakap dengan Allah SWT itu hanya dilakukan oleh para nabi, itupun tidak semua nabi. Hanya nabi tertentu yang disebutkan bercakap-cakap dengan Allah, sebagaimana tercantum di dalam Al-Quran.

Rasul-rasul itu Kami lebihkan sebagian mereka atas sebagian yang lain. Di antara mereka ada yang Allah berkata-kata dan sebagiannya Allah meninggikannya beberapa derajat. (QS. Al-Baqarah: 253)

Di antara nabi yang disebutkan secara tegas telah melakukan percakapan langsung dengan Allah SWT adalah nabi Musa alaihissalam.

Dan rasul-rasul yang sungguh telah Kami kisahkan tentang mereka kepadamu dahulu, dan rasul-rasul yang tidak Kami kisahkan tentang mereka kepadamu. Dan Allah telah berbicara kepada Musa dengan langsung. (QS. An-Nisa’: 164)

Dan juga nabi Muhammad SAW yang pernah berbicara langsung dengan Allah SWT di sidradil muntaha, saat beliau melakukan mi’raj.

Namun lebih sering Allah SWT berbicara kepada para nabinya lewat perantaraan malaikat Jibril. Sehingga saat itu sebenarnya tidak terjadi cakap-cakap langsung antara nabi dengan Allah SWT.

Selain para nabi dan rasul, ada juga sebagian orang yang diberikan ilham oleh Allah SWT. Sehingga seolah dia bercakap-cakap dengan Allah SWT. Misalnya hikmah yang Allah SWT berikan kepada hamba-Nya, Luqman Al-Hakim.

Dan sesungguhnya telah Kami berikan hikmat kepada Luqman, yaitu, "Bersyukurlah kepada Allah. Dan barangsiapa yang bersyukur, maka sesungguhnya ia bersyukur untuk dirinya sendiri; dan barangsiapa yang tidak bersyukur, maka sesungguhnya Allah Maha Kaya lagi Maha Terpuji."(QS. Luqman: 12)

Meski ayat ini memberi isyarat bahwa Allah berbicara kepada Luqman, namun umumya para ulama tidak memasukkan Luqman sebagai nabi dari para nabi Allah. Sebab tidak juga kita dapati secara eksplisit bahwa terjadi dialog langsung antara Luqman dengan Allah. Ayat ini hanya mengatakan bahwa Allah SWT memberi hikmah kepadanya.

Mengaku Bercakap-cakap dengan Allah

Kalau para nabi tidak semuanya bercakap-cakap dengan Allah SWT, bahkan yang pernah bercakap-cakap itu pun tidak selalu setiap saat berdialog dengan Allah SWT, maka tentu saja orang biasa tidak mungkin melakukannya, terutama di zaman setelah turunnya nabi terakhir, Muhammad SAW.

Sebab bercakap-cakap dengan Allah SWT adalah Allah SWT berbicara kepadanya dan dia berbicara kepada Allah SWT. Kalau berbicara kepada Allah SWT, sudah pasti bisa dilakukan. Sedangkan kalau Allah SWT yang berbicara langsung kepadanya dengan kata-kata dan wahyu, adalah hal yang mustahil.

Bahkan para ulama sepakat bahwa kalau ada orang yang mengaku di zaman ini menerima wahyu dari Allah SWT, dia adalah seorang yang kafir. Karena yang mendapat wahyu hanyalah para nabi. Dan tidak ada nabi sesudah nabi Muhammad SAW.

Bahkan nabi Isa ‘alaihissalam saat nanti kembali turun, sebagaimana disebutkan dalam banyak hadits shahih, juga tidak dalam kapasitas sebagai nabi. Artinya, dia pun tidak mendapat wahyu, walau beliau pernah jadi nabi.

Mana mungkin orang biasa tiba-tiba mengaku bisa bercakap-cakap dengan Allah, kecuali dia telah berdusta.

Wallahu a’lam bishshawab, wassalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Ahmad Sarwat, Lc

Ikuti update terbaru di Channel Telegram Eramuslim. Klik di Sini!!!

loading...

Baca Juga

Belajar Islam Ikut Jamaah Hijrah

Selasa, 17/04/2007 05:49

Tasawuf Vs Ilmu Ghaib

Senin, 02/04/2007 07:36

Mencari Tahu Siapa Pencuri?

Selasa, 27/03/2007 07:16

Doa untuk Orang yang Meninggal

Rabu, 21/03/2007 08:40

Nasib Mantan Musyrik

Selasa, 20/03/2007 05:22

Aqidah Lainnya

Trending