Senin, 21 Jumadil Akhir 1441 H / 17 Februari 2020

Dua Jurnalis di Wuhan Pengungkap Virus Corona ‘Hilang’, Apa Sebabnya?

Redaksi – Jumat, 14 Februari 2020 19:21 WIB

Video itu menampilkan ibu Chen yang bercerita bahwa Chen telah hilang sehari sebelumnya.

Melalui sebuah video YouTube, teman Chen, Xu Xiaodong kemudian menuduh bahwa Chen telah dikarantina secara paksa.

Apa yang dikatakan pihak berwenang China?

Pihak berwenang China tetap membisu tentang hilangnya dua jurnalis warga tersebut.

Hingga berita ini diturunkan, belum ada pernyataan resmi dari pihak berwenang tentang di mana keberadaan Fang Bin dan Chen Qiushi, atau sejak kapan dan dimana keberadaan mereka jika dikarantina.

Peneliti dari Amnesty Internasional, Patrick Poon mengatakan masih belum jelas apakah Chen atau Fang “dibawa pergi oleh polisi atau ditempatkan di bawah `karantina paksa` “.

Poon meminta pihak berwenang untuk “setidaknya” menghubungi anggota keluarga untuk menyampaikan keberadaan Chen dan Fang.

“Pihak berwenang China harus memberi tahu keluarga mereka dan memberi mereka akses memilih dan mendapatkan pengacara. Kalau tidak terjadi maka itu adalah bukti bahwa mereka berisiko disiksa atau diperlakukan sewenang-wenang,” kata Poon kepada BBC.

Mengapa mereka menghilang?

Beijing dikenal kerap menekan para aktivis yang vokal menyampaikan kritik atas kasus corona, dengan tujuan untuk menunjukan bahwa wabah corona dapat dikendalikan.

Menurut peneliti Human Rights Watch (HRW), pihak berwenang China saat ini “lebih fokus untuk membungkam kritik karena mengandung penyebaran virus”.

Sebelumnya, seorang dokter di Wuhan yang bernama Li Wenliang, diperingatkan untuk tidak menyebarkan “komentar palsu” setelah meningkatnya kekhawatiran tentang virus awal Desember lalu.

Hingga akhirnya, Li terjangkit virus corona dan meninggal dunia.

Kematian Li menyebabkan gelombang kemarahan dan pemberontakan di sosial media. Otoritas China terpana, dan bereaksi dengan berusaha untuk menyensor setiap komentar kritis tentang kematian Dr. Li.

“Pemerintah Cina yang otoriter memiliki sejarah dalam melecehkan dan menahan warga yang berbicara kebenaran atau mengkritik pihak berwenang selama keadaan darurat publik, misalnya, selama SARS pada 2003, gempa Wenchuan pada 2008, kecelakaan kereta Wenzhou pada 2011 dan ledakan kimia Tianjin pada 2015,” kata peneliti HRW Yaqiu Wang kepada BBC.

Wang mengatakan, China perlu “belajar dari pengalaman dan memahami bahwa kebebasan informasi, transparansi dan penghormatan terhadap hak asasi manusia akan memudahkan pengendalian penyakit, bukan malah menghambatnya”.

“Pihak berwenang sendiri melakukan tindakan merugikan dengan [diduga] menghilangnya Fang dan Chen,” tambahnya.

Di situs berita China, Weibo, muncul beberapa komentar yang menyebutkan tentang Chen dan Fang – dan tampaknya tulisan akan segera disingkirkan oleh sensor China yang selalu waspada.

“[Mereka] menulis ulang sejarah,” kata satu komentar. “Perlahan itu akan seperti [tidak pernah ada] seseorang yang bernama Chen Qiushi.”(*glr)

← Halaman sebelumnya

Halaman 1 2 3

Ikuti update terbaru di Channel Telegram Eramuslim. Klik di Sini!!!

loading...

Baca Juga

14 TKA Cina Dikarantina di Bekasi

Jumat, 14/02/2020 19:00

Berita Lainnya

Trending