Selasa, 21 Safar 1441 H / 22 Oktober 2019

Aneh, Sri Mulyani Tidak Tahu Utang Gede-Gedean Digunakan Untuk Apa

Redaksi – Sabtu, 9 Zulqa'dah 1440 H / 13 Juli 2019 02:55 WIB

Kondisi masih diperparah keadaan keuangan yang semakin mencemaskan karena utang luar negeri sudah menumpuk, sementara utang baru sedang akan dibuat lagi. Apalagi kalau kita jadi pindah ibukota negara, sementara rencana pindah ibukota itu tidak ada di dalam rencana APBN. Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara ( APBN) pada periode April 2019 mengalami defisit sebesar Rp 101,04 triliun.

Defisit ini lebih besar ketimbang periode yang sama pada tahun lalu yang hanya Rp 54,9 triliun.Defisit anggaran Rp 101 triliun atau 34,1persen dari alokasi defisit tahun ini. Ini lebih dalam defisitnya dibandingkan April tahun lalu Rp 54,9 triliun. Dan defisit anggaran ini terjadi karena pendapatan negara yang stagnan. Pada April 2019 pendapatan negara mencapai Rp 530,7 triliun atau 24,51 persendari target APBN 2019.Sementara itu, dari realisasi belanja negara, tercatat mencapai Rp 631,78 triliun atau sudah 25,67 persen dari pagu APBN 2019. Realisasi tersebut sekitar 8,38 persen lebih besar dibandingkan realisasi APBN pada periode yang sama tahun lalu sebesar Rp 582,95 triliun.

Dalam empat bulan terakhir, defisit APBN kita sudah hampir mencapai Rp 300 Trilyun. Kondisi keuangan ini cukup rawan karena juga terjadi defisit perdagangan dengan nilai impor yang jauh lebih tinggi dibandingkan nilai ekspor.Defisit APBN akan menjadi masalah besar jika pendapatan pajak berada di bawah target, sementara yield obligasi naik. Pasar keuangan global sudah faham jika negara kita hidup dari utang. Karena itu, kita akan makin sulit menjual surat utang, kecuali dengan biaya bunga tinggi. Jadi, utang dipastikan akan bertambah dan berlipat.

Kondisi ekonomi ini diperberat lagi dengan ekonomi dunia yang  sedang mengalami perlambatan. Bank Dunia memangkas proyeksi pertumbuhan ekonomi global pada 2019 menjadi 2,6% dari sebelumnya 2,9%. Melambatnya laju pertumbuhan ekonomi global tahun ini disebabkan lesunya perdagangan internasional. Perlambatan ekonomi dunia juga diperparah oleh pesimisme yang dibuat oleh Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump. Belum lagi, perang dagang yang ditabuh oleh Trump terhadap China membuat aktivitas perdagangan dunia menciut. Alhasil pertumbuhan ekonomi bakal melambat. Aktivitas perdagangan dunia yang melambat juga membuat ekonomi China bakal turun. Buat Indonesia semua ini tidak menguntungkan.(kl/konfrontasi)

← Halaman sebelumnya

Halaman 1 2

Ikuti update terbaru di Channel Telegram Eramuslim. Klik di Sini!!!

Baca Juga

Berita Nasional Lainnya

Trending