Senin, 10 Jumadil Awwal 1444 H / 5 Desember 2022

Arab Saudi Tetapkan Idul Adha 9 Juli, Indonesia 10 Juli, MUI Bilang Begini

Redaksi – Jumat, 1 Juli 2022 10:20 WIB

Pemerintah melalui Kementerian Agama (Kemenag) menetapkan awal Zulhijah 1443 H pada Jumat, (1/7/2022) dan memutuskan Idul Adha 10 Zulhijah diputuskan akan jatuh pada Minggu,(10/7/2022) 2022.

Eramuslim.com – Arab Saudi telah menetapkan Hari Raya Idul Adha jatuh pada 9 Juli 2022. Keputusan itu, berdasar penampakan bulan Idul Adha, Hari Arafah (Youm ul Hajj) telah dikonfirmasi pada Jumat, 8 Juli 2022 dan perayaan Idul Adha akan dimulai pada Sabtu, 9 Juli 2022.

Keputusan Arab Saudi berbeda dengan Indonesia. Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Agama (Kemenag) menetapkan 1 Zulhijah 1443 Hijriyah jatuh pada Jumat, 1 Juli 2022. Dengan demikian, maka Hari Raya Idul Adha 1443 Hijriah jatuh pada Ahad 10 Juli 2022.

Penetapan itu setelah Kemenag melakukan sidang Isbat pada Kamis kemari. Keputusan penetapan 1 Duzlhijjah didasarkan dari pantau hilal di 86 titik seluruh wilayah Indonesia. Proses pengamatan hilal kemudian menjadi pertimbangan penting dalam sidang isbat.

Lantas bagaimana menyikapi perbedaan itu? Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI), Abdullah Jaidi menjelaskan hal tersebut.

Abdullah Jaidi menjelaskan bahwa umat Islam yang berada di Indonesia sudah dianjurkan untuk berpuasa dari tanggal 1 sampai 9 Dzulhijjah sebelum perayaan Hari Raya Idul Adha.

Dia bilang, keputusan pemerintah bisa menjadi patokan umat muslim di Indonesia terkait waktu puasa Dzulhijjah 1-7 hari, dan puasa Tarwiyah 8 Dzulhijjah, serta puasa Arafah 9 Dzulhijjah.

 

“Kita ini kalau mau Puasa Arafah tanggal berapa? Karena Arafah itu adanya di sana (Arafah di Arab Saudi-red). Kenapa kita bingung? Kita ini dianjurkan puasa dari 1 Dzulhijjah sampai 9 Dzulhijjah,” kata Jaidi.

Jaidi menyebut bahwa umat muslim di Indonesia bisa menjalankan puasa hingga sabtu, 9 Juli 2022 mendatang bila mengikuti keputusan pemerintah yang telah menetapkan perayaan Hari Raya Idul Adha pada 10 Juli 2022.

Ketua MUI tersebut juga menjelaskan bahwa jika terdapat perbedaan terkait ahli hisab, maka semestinya keputusan pemerintah menjadi solusi untuk ditaati terlebih dahulu. Hal itu juga sudah menjadi putusan oleh fatwa para ulama.

Jaidi juga berpesan bahwa umat muslim di Indonesia sebaiknya harus bisa saling menghormati satu sama lain terkait dengan perbedaan jatuhnya perayaan Hari Raya Idul Adha di tahun ini. Hal tersebut dikarenakan pada tahun ini, terjadi perbedaan antara pemerintah dengan PP Muhammadiyah.

Hal yang sama disampaikan oleh Ketua Lembaga Falakiyah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (LF PBNU), KH Sirril Wafa mengatakan hari Arafah adalah hari atau tanggal 9 Dzulhijjah.

 

Menurutnya, tidak mutlak sama dengan hari pelaksanaan wukuf di Arafah, kecuali kalau umar Islam sendiri tengah berada di Arab Saudi.

“Jadi, kalau di Indonesia tanggal 9 Dzulhijjah hari Sabtu, hari itu namanya hari Arafah yang disunnahkan puasa, meskipun pada saat yang sama di Saudi sudah beridul adha dan haram berpuasa karena di sana sudah tanggal 10 Dzulhijjah,” katanya dilansir NU online.

“Di sinilah perlunya pemahaman yang lurus agar masyarakat muslim tidak terombang-ambing dengan adanya beda penetapan idul adha antara Indonesia dan Arab,” kata ahli ilmu falak asal Kudus, Jawa Tengah itu.

Meskipun demikian, Sirril tidak mempermasalahkan bagi mereka yang harus sama dengan Arab Saudi.

“Kalau ada yang mempunyai pemahaman bahwa hari Arafah harus sama dengan Saudi, yaitu pilihan mereka. Di lingkungan NU dan banyak ormas lain, tidak sependapat dengan pemahaman seperti itu,” katanya.

 

Lebih jauh, Kiai Sirril menjelaskan bahwa hari Arafah adalah sekadar penamaan hari untuk tanggal 9 Dzulhijjah yang disunnahkan puasa menurut penanggalan masing-masing negara.

“Tidak mutlak bersamaan dengan pelaksanaan wukuf di Padang Arafah,” tegasnya.

Dalam sejarah, umat Islam tetap melaksanakan puasa Arafah meskipun di Saudi tidak menyelenggarakan ibadah haji tidak ada peristiwa wukuf, karena situasi perang.

“Perbedaan ini layaknya seperti beda waktu shalat antara dua lokasi,” pungkas dosen Fakultas Syariah dan Hukum UIN Syarif Hidayatullah Jakarta itu.(FAJAR)

Ikuti update terbaru di Channel Telegram Eramuslim. Klik di Sini!!!

loading...

Baca Juga

Berita Nasional Lainnya

Trending