Selasa, 1 Jumadil Awwal 1443 H / 7 Desember 2021

Pasukan Salib Menang? Sejarah Membuktikan Sebaliknya

Redaksi – Jumat, 12 November 2021 09:47 WIB

Pasukan Salib mengalami kekalahan berturut-turut dalam sejarah. Suasana Perang Salib memperebutkan Yerusalem.

Eramuslim.com – Sejarah membuktikan, Pasukan Salib hanya sesaat menikmati kemenangan. Selebihnya, mereka menderita berbagai kekalahan atau terpaksa menyepakati gencatan senjata.

Orientalis Philip K Hitti membagi keseluruhan dua abad Perang Salib dalam tiga periode.

Periodisasi yang digagas penulis buku The History of Arabs ini diawali dengan masa penaklukan Pasukan Salib (1096- 1144).

Kerja sama antara Paus Urbanus II dan Kaisar Alexius I dapat mengonsolidasikan semangat dan kekuatan umat Kristen- Barat. Pidato sang paus dalam Konsili Clermont pada 26 November 1095 menjadi gong mobilisasi massa besar-besaran.

Belum sampai ke Asia, gerakan ini justru telah membuat onar di tengah komunitas non-Muslim. Di Jerman, mereka membunuh banyak kaum Yahudi.

Di Hungaria, gerombolan yang dipimpin Pierre l’Ermite itu juga merampok rumah-rumah penduduk setempat. Lepas dari Konstantinopel, pergerakan mereka dapat ditumpas pasukan Dinasti Seljuk.

Pasukan Salib angkatan selanjutnya dipimpin Godfrey dari Bouillon. Berbeda dari sebelumnya, bala tentara salibis kali ini lebih terstruktur rapi. Pada 7 Juni-15 Juli 1099, mereka berhasil memorakporandakan Yerusalem.

Tidak hanya membumihanguskan bangunan-bangunan Islam, mereka juga membantai puluhan ribu penduduk setempat, entah itu lelaki, perempuan, tua, muda, anak-anak, maupun Muslim, Yahudi, atau Kristen Ortodoks.

Setelah itu, berdirilah kerajaan-kerajaan Kristen-Barat di sepanjang wilayah antara Turki hingga Suriah. Kerajaan Yerusalem, Edessa, dan Tripoli masing-masing dipimpin Godfrey dari Bouillon, Raja Baudouin, dan Raja Raymond.

Halaman selanjutnya →

Halaman 1 2 3

Ikuti update terbaru di Channel Telegram Eramuslim. Klik di Sini!!!

loading...

Baca Juga

Berita Nasional Lainnya

Trending