Rabu, 14 Rabiul Awwal 1441 H / 13 November 2019

Gelandangan Revolusioner

Redaksi – Minggu, 29 September 2019 09:00 WIB

Eramuslim.com – Kisah para gelandangan Yogyakarta mempertahankan Republik. Menjadi informan tentara dan laskar melawan Belanda.

*

Hukum di Indonesia melarang pergelandangan. Ini tersua dalam Wetboek van Strafrech (Wvs) atau Kitab Undang-Undang Hukum Pidana buatan kolonial pada 1915 dan Rancangan KUHP 2019. Hukuman untuk orang menggelandang adalah penjara tiga sampai enam bulan pada WvS dan denda sejuta rupiah pada RKUHP.

Apa salahnya menggelandang sampai dipukul rata jadi urusan pidana? Dalam sejarah perjuangan kemerdekaan Indonesia, menggelandang pernah menjadi tindakan heroik untuk mempertahankan Republik. Ini terjadi di Yogyakarta semasa 1948—1949. Di sinilah pusat pemerintahan Republik Indonesia setelah Sekutu dan Belanda menguasai Jakarta pada 1947.

Tapi tak lama kemudian, Yogyakarta pun berada dalam kendali pasukan Belanda pada Desember 1948. Mereka menawan Sukarno dan Hatta. Kedaulatan Republik terancam. Diplomat Republik kemudian mengupayakan perundingan dengan Belanda, sembari coba menarik dukungan negara-negara lain agar menekan Belanda.

Jang A. Mutallib dan Sudjarwo dalam “Gelandangan dalam Kancah Revolusi”, seperti termuat di Gelandangan Pandangan Ilmuan Sosial, menyebut strategi diplomasi sebagai ujung tombak perjuangan agak ruwet dan perlu kemampuan akademis. Kebanyakan rakyat Yogyakarta tak banyak memahami prosesnya. Angka melek huruf masih rendah.

Halaman selanjutnya →

Halaman 1 2 3

Ikuti update terbaru di Channel Telegram Eramuslim. Klik di Sini!!!

Baca Juga

Perlawanan Dari Gejayan

Rabu, 25/09/2019 08:30

Perang Salib di Zaman Revolusi

Selasa, 10/09/2019 09:00

Historia Lainnya

Trending