Ahad, 8 Safar 1442 H / 27 September 2020

Hoegeng, Polisi Anti Suap

Redaksi – Selasa, 1 Zulqa'dah 1441 H / 23 Juni 2020 17:37 WIB

Dengan ramah, Ketua Panitia menyatakan kegembiraan atas pengangkatan Hoegeng sebagai pejabat baru di Medan. Selanjutnya, jurus pamungkas pun dikerahkan. Dia menawarkan rumah dan mobil untuk membantu Hoegeng bertugas. Hoegeng mengucapkan terimakasih namun menolak pemberian itu. Orang Tionghoa itu pun hanya bisa melongo dan segera pamitan.

Dua bulan kemudian, orang yang sama “mengerjai” rumah dinas Hoegeng, di Jalan Rivai 26. Ketika Hoegeng akan menempati rumah itu, dia dikejutkan dengan kiriman perabotan rumah tangga yang serba mahal. Barang-barang itu antara lain: piano, lemari, meja dan kursi tamu, bufet, meja makan, kulkas, tape rekorder, dipan-dipan jati, dan entah apalagi.

Sogokan itu benar-benar membuat Hoegeng marah. “Cina tukang suap itu memang badung,” kata Hoegeng. Dia mengultimatum orang yang pernah menyambutnya di Belawan dulu agar mengeluarkan barang itu dari rumah dinas. Hingga waktu yang ditentukan, barang sogokan itu belum juga diambil. Hoegeng pun habis kesabaran. Dia memerintahkan anggota kepolisian yang membantu kuli mengeluarkan perabotan mewah itu dan meletakkannya di pinggir jalan begitu saja.

Menurut Hoegeng, seluruh pendapatannya sebagai polisi barangkali tidak dapat membeli barang-barang itu. Memutuskan untuk membuang barang-barang pemberian itu agak disayangkan juga oleh Hoegeng. “Akan tetapi itu lebih baik ketimbang saya melanggar amanah almarhum ayah saya dan mengkhianati sumpah jabatan sebagai penegak hukum di Republik ini,” kenang Hoegeng dalam otobiografinya.

Disikut Sesama Pejabat

Menurut Aris Santoso, dkk, selama Hoegeng memimpin reskrim, tidak terhitung banyaknya kasus penyelundupan dan perjudian di Sumatra Utara yang berhasil dibongkar. Kasus-kasus yang ditangani banyak sekali. Frekuensinya tidak terhitung lagi. Benar-benar daerah rawan hukum.

“Dalam banyak kasus, senantiasa tertangkap juga beberapa orang Cina yang terlibat dalam sindikat perjudian. Sekali gebrak, bisa ditangkap dua atau tiga orang,” tulis Aris Santoso, dkk. Acap kali Hoegeng menangkap basah anggota tentara atau polisi yang menjadi backing usaha ilegal seperti itu selama operasi.

Selepas tugas di Medan, karier Hoegeng terus melesat. Berturut-turut Hoegeng menjabat Kepala Jawatan Imigrasi (kini Dierjen Imigrasi) dan Menteri Iuran Negara (kini Dirjen Pajak). Pada 1968, Hoegeng diangkat menjadi Kapolri menggantikan Soetjipto Joedihardjo. Di masa puncak kariernya inilah Hoegeng kembali mengalami ujian terberat sebagai abdi negara.

Dua kasus menggemparkan terjadi di masa kepemimpinan Hoegeng. Pada 1969, Hoegeng berhasil membongkar penyelundupan mobil mewah yang dilakukan kelompok Robby Tjahyadi. Robby Tjahyadi sendiri dikenal sebagai penyelundup kelas kakap yang punya koneksi dengan pejabat teras dalam pemerintahan.

Setahun berselang, Hoegeng juga turun tangan menguak kasus pemerkosaan gadis bernama Sumarijem alis Sum Kuning yang melibatkan anak pembesar sebagai tersangka pada 1970. Anehnya, tidak lama kemudian, pada 2 Oktober 1971, Hoegeng dipensiunkan dengan alasan peremajaan. Adapun pengganti Hoegeng ialah Mohamad Hasan yang merupakan senior Hoegeng.

← Halaman sebelumnya Halaman selanjutnya →

Halaman 1 2 3 4

Ikuti update terbaru di Channel Telegram Eramuslim. Klik di Sini!!!

loading...

Baca Juga

Historia Lainnya

Trending