Kamis, 17 Zulqa'dah 1441 H / 9 Juli 2020

Ketika Soeharto Marah pada Menteri

Redaksi – Selasa, 8 Zulqa'dah 1441 H / 30 Juni 2020 06:00 WIB

“Tugasnya mengawasi selama periode 30 tahun Jepang taat memenuhi segala syarat yang ada dalam perjanjian yang disebut Master Agreement. Dan kita punya staf, tentu. Staf itu mesti dibayar, ada anggarannya, kalau enggak salah namanya Rekening 16,” kata Soehoed sebagaimana diceritakan Tjipta Lesmana dalam Dari Soekarno sampai SBY: Intrik & Lobi Politik Para Penguasa.

Di samping sebagai Ketua Otorita Asahan, Soehoed juga diangkat menjadi menteri perindustrian dalam Kabinet Pembangunan III. Dia menjabat selama lima tahun (1978–1983).

Pada suatu waktu, ketika tidak lagi menjabat menteri, Soehoed mendengar anggaran untuk staf Proyek Asahan tidak turun. Dia kemudian menanyakannya kepada menteri terkait, tapi tidak ditanggapi.

Sebagai Ketua Otorita Asahan, Soehoed kemudian mengadu kepada Presiden Soeharto. Dia disarankan berbicara dengan Menko Ekuin, Ali Wardhana. “Saya minta sama Menko Ekuin, tidak ditanggapi juga. Akhirnya saya datang lagi pada Pak Harto,” kata Soehoed.

“Bagaimana? Sudah hasil?” tanya Soeharto.

“Kita berusaha saja enggak berhasil,” kata Soehoed.

“Ok, sekarang tunggu saja perintah nanti sore,” kata Soeharto.

Menteri Perindustrian A.R. Soehoed membuka Rapat Konsensus Standar Industri di Balai Sidang Senayan, Jakarta, 11 Juli 1978. (Perpusnas RI).

Sorenya, Soehoed dipanggil menghadap Cendana. “Wah, saya pikir ini ada apa lagi,” kata Soehoed.

Rupanya Soeharto mengumpulkan semua menteri urusan ekonomi termasuk wakil presiden.

“Di situ beliau memarahi mereka di hadapan saya,” kata Soehoed.

Kepada para menteri itu, Soeharto mengatakan: “Saudara harus sadar bahwa Proyek Asahan ini penting sekali! Ini proyek jangka panjang, dan perlu ditunjang dengan anggaran yang cukup. Semua perhatikan ini!”

Semua yang hadir tersentak, diam. Semua menundukkan kepala, nyaris tidak ada yang berani melihat wajah Soeharto.

Menurut Tjipta Lesmana, Soehoed mengaku amat terperanjat melihat presiden membentak-bentak para menterinya. Dia kaget karena sadar bahwa dirinya sudah bukan menteri lagi.

“Sebagai orang yang tidak menteri lagi, tentu ya repot juga saya. Tapi, akhirnya dipenuhi juga [dana tersebut],” kata Soehoed.

Setelah itu, Menteri Keuangan Radius Prawiro meminta Soehoed untuk berbicara tentang Proyek Asahan kepada pers. Namun, Soehoed berkeberatan.

“Ah, masak saya? Saya kan enggak ada urusan? Yang ribut, Pak Harto kan sama kalian. You sendiri sajalah,” kata Soehoed.

Presiden Soeharto meresmikan Proyek Asahan pada 6 November 1984. Kontraknya dengan Jepang berakhir pada 9 Desember 2013. Pemerintah Indonesia kemudian mengambil alih saham pihak konsorsium.

PT. Inalum (Persero) resmi menjadi BUMN pada 21 April 2014 berdasarkan Peraturan Pemerintah No. 26 Tahun 2014.

Sementara itu, Badan Pembina Proyek Asahan dan Otorita Pengembangan Proyek Asahan yang dibentuk dengan Keputusan Presiden No. 5 Tahun 1976 dinyatakan berakhir pada 2018.(end.sumber: Historia)

Penulis: Hendri F. Isnaeni

← Halaman sebelumnya

Halaman 1 2

Ikuti update terbaru di Channel Telegram Eramuslim. Klik di Sini!!!

loading...

Baca Juga

Historia Lainnya

Trending