Rabu, 14 Zulhijjah 1441 H / 5 Agustus 2020

Kisah KH Saifuddin Zuhri, Menteri Agama di Era Nasakom

Redaksi – Selasa, 1 Zulqa'dah 1441 H / 23 Juni 2020 12:30 WIB

Eramuslim.com – Kyai Saifuddin Zuhri, merupakan salah satu tokoh NU organisatoris yang rajin menulis. Sosok ini langka untuk kalangan NU. Kemampuan organisatorisnya dibuktikan dari jenjang ranting hingga menjadi Sekjen PBNU.

Saat itu NU sebagai partai politik. Beliau juga pejuang dan kyai kampung dalam arti kehidupan awalnya di kota Sokaraja, bukanlah disandarkan bahwa beliau adalah anak Kyai yang memiliki Pesantren besar. Hanya dari kakeknya, dikisahkan bahwa buyutnya adalah salah satu prajurit Diponegoro yang berperang di daerah Begelen.

Darah kejuangan inilah yang menempa kemampuan organisatorisnya sejak menjadi murid kyai setempat, seperti Kyai Syatibi hingga gurunya yang paling dikenang yaitu Ustadz Mursyid yang Syahid melawan Belanda pada agresi pertama tahun 1946. Tentu masih ada guru guru Kyai Saifuddin yang lain, termasuk belajar ke Mambaul Ulum di Solo selama 13 bulan.

Kemampuan organisatoris tersah sejak menjadi dai yang ditugaskan sayap pemuda NU (ANNO). Saat itu masih usia belasan (sekitar 14-15 tahun). Sembari belajar di SR dan sekolah Arab dan juga mengaji pada kyai-kyai setempat, kyai Saifuddin juga rajin menulis dan mengikuti perkembangan informasi dari koran-koran yang terbit saat itu. Hobi tersebut semakin diasah dengan menjadi koresponden beberapa surat kabar.

Kemampuan Kyai Saifuddin semakin terasah ketika belajar di Solo selama 13 bulan, yang mana saat itu beliau menjadi wartawan dalam rangka menunjang pembiayaan sekolah. Setelah dari Solo, kembali ke Sokaraja dan dipasrahi menjadi Sekretaris Konsul NU Banyumas (meliputi Purwokerto, Sokaraja, Purbalingga, Banjarnegara, Cilacap dan Kebumen). Hal itu dijalani sampai Jepang masuk ke Indoensia.

Halaman selanjutnya →

Halaman 1 2 3

Ikuti update terbaru di Channel Telegram Eramuslim. Klik di Sini!!!

loading...

Baca Juga

Historia Lainnya

Trending