Rabu, 14 Rabiul Awwal 1441 H / 13 November 2019

Kisah Laskar Perempuan di Bandung Pemenggal Kepala Tentara Gurkha

Redaksi – Jumat, 12 Juli 2019 05:55 WIB

“Asrama LASWI kena!”, teriak Saartje.

Akibat pemboman itu, Markas LASWI hancur lebur. Empat anggota LASWI gugur dan 10 orang lainnya luka-luka termasuk Saartje. “Sampai masa tuanya, dia pendengarannya tidak normal, gendang telinganya pecah,” kata Toeti kala masih hidup.

Aksi pemboman itu memang termasuk “tidak biasa” bagi mereka. Selama bermarkas di Majalaya, Toeti dan kawan-kawannya selalu merasa aman-aman saja. Belakangan diketahui bahwa tempat itu “bocor” karena ada mata-mata. Dan mata-mata itu tak lain adalah tukang cendol yang kata Toeti langsung diadili dan ditembak mati oleh para pemuda Pesindo (Pemoeda Sosialis Indonesia) wilayah Soreang.

Salah satu nama beken lain dari LASWI adalah Soesilowati. Laiknya pejuang lelaki, ia pun terlibat langsung di garis depan. Bahkan Soesilowati tak sungkan-sungkan untuk bertarung satu lawan satu dengan prajurit musuh. Salah satu korban dari kegarangan “maung bikang” (macan betina) ini adalah seorang perwira muda dari Gurkha Riffles, sebuah kesatuan elite BIA (British India Army) yang diturunkan di palagan Bandung.

Dalam Memenuhi Panggilan Tugas Jilid I: Kenangan Masa Muda, Jenderal (Purn) A.H. Nasution mengisahkan bahwa para pejuang Bandung sempat jengah dengan kehadiran para perempuan di medan laga. Dikhawatirkan mereka hanya membuat kesulitan saja dan akan mudah ditangkap oleh musuh.

Dalam situasi tersebut, pada suatu pagi di tahun 1946, markas Nasution di Jalan Kepatihan, Bandung tetiba didatangi oleh seorang perempuan muda. “Dia datang dengan menunggang seekor kuda,” kenang A.H. Nasution.

← Halaman sebelumnya Halaman selanjutnya →

Halaman 1 2 3

Ikuti update terbaru di Channel Telegram Eramuslim. Klik di Sini!!!

Baca Juga

Bantuan CIA Untuk Polri

Jumat, 05/07/2019 18:10

Historia Lainnya

Trending