Selasa, 20 Zulhijjah 1441 H / 11 Agustus 2020

Kode Bahaya Masa Revolusi, Ketika “Hayya ala shalah” jadi “Aya Walandaaa…!”

Redaksi – Rabu, 16 Zulqa'dah 1441 H / 8 Juli 2020 11:02 WIB

Eramuslim.com – Bermacam isyarat diciptakan oleh rakyat untuk memperingatkan gerilyawan Republik akan kehadiran tentara Belanda.

Sukanagara, Cianjur Selatan pada 1947. Soma baru saja melantunkan azan ashar saat sudut matanya menangkap gerakan beberapa serdadu Belanda di jalanan kampung. Tetiba dia ingat beberapa gerilyawan Republik yang sedang mandi di sungai belakang surau.

“Saya yang tadinya mau teriak “hayya’ ala shalah”ku bakat geumpeur (karena saking gugup) dan takut-nya, jadi teriak ‘aya walandaaaaa” (ada Belandaaa),” kenang lelaki berusia 92 tahun itu.

Namun lantunan azan Soma yang tak lazim itu, lekas ditangkap oleh para gerilyawan dan penduduk kampung. Secepat kilat mereka langsung menghindar dari kawasan itu. Ada yang langsung masuk hutan, ada juga yang yang pura-pura mengerjakan sesuatu. Kelompok terakhir itu adalah orang-orang kampung yang tak sempat menyelamatkan diri.

Kode di masa Perang Kemerdekaan (1946-1949) memang bisa bermacam-macam. Umumnya di kampung-kampung, tanda bahaya atau informasi datangnya tentara Belanda disebarkan dengan bunyi kentongan yang dilakukan secara estafet dari kampung ke kampung.

Namun menurut eks pejuang di wilayah Banyumas Iman Sardjono (91), cara itu terlalu “berisik” dan mudah didentifikasi musuh. Tak jarang akibat bunyi kentongan itu, tentara Belanda justru bisa tahu mana saja kampung yang berpihak kepada kaum Republik.

Halaman selanjutnya →

Halaman 1 2 3

Ikuti update terbaru di Channel Telegram Eramuslim. Klik di Sini!!!

loading...

Baca Juga

Nabi Muhammad pun Perangi Pengkhianat

Selasa, 30/06/2020 11:30

Historia Lainnya

Trending