Selasa, 3 Safar 1442 H / 22 September 2020

NU dekat PKI, NU Hadapi PKI: Kisah Konflik Santri-Komunis

Redaksi – Selasa, 1 Zulqa'dah 1441 H / 23 Juni 2020 12:00 WIB

“Medan perjuangan  itu  disini, di  Jakarta, bukan di  hutan…!”  tiba  tiba  KH M Isa Anshary  memecah keheningan. Suaranya setengah berteriak. “Seorang  pemimpin tidak  pantas meninggalkan anak buah  begitu  saja!” lanjunya dengan suara  seperti  menahan geram.

KH Saifuddin Zuhri kemudian mengaku bahwa dirinta tak  punya keberanian  untuk  menatap wajah  KH M Isa Anshary saat itu. Tak  juga ada keberanian berkomentar  demi   persahabatan  dan  toleransi. Meski begitu dirinya  paham, kepada siapa sindiran  dalam  nada  amat  marah  itu diajukan oleh KH Isa Anshari.

Ketika  tiba  di  kantor  Persis, Isa Anshari pun turun dari mobil. Dia tak  lupa  mengucapkan terima  kasih  sabil  mengelus   tanganku.

Kisah ini ada dalam buku biografi KH Saefuddin Zuhri. Dia banyak menulis hal tentang pengalama hidupnya itu. Di sana tertulis begini misalnya:

Perkawanan  dan pertikaian  politik kadang  persoalan  hanya  kecocokan  antar pribadi.  Bisa jadi   akrab secara pribadi, tapi  tidak  cocok  dengan kelompoknya. Atau dalam  satu  kelompok politik dan keagaman  sama, namun tidak suka  dengan  pribadinya. Dan berbagai  variasi dari hubungan  komunikasi  antar pribadi   tokoh  tokoh politik.

Namun  yang pasti  dalam  cacatan  perjalanan politisi  dahulu,   perkawanan   lebih  alami. Termasuk  hal  akrab  satu  sama  lain.  Sukiman Wiyosanjoyo  (tokoh Masyumi)  lebih   dianggap bisa diterima  di  kalangan NU, seperti  dibanding  sosok  Natsir yang  lebih dekat  ke  pemikiran  organisasi  Persis. Akan tetapi  dalam  riwayat, juga dikisahkan  kedekatan  M Natsir  dengan  Kyai  Masykur  tokoh  NU  yang lain.

Kiai  Saifuddin Zuhri  juga  memberikan catatan  dalam  memoirnya, bahwa  suatu saat  meneirma kunjungan KH  Faqih Usman, salah seorang   tokoh Masyumi (Muhammadiyah)  yang berpengaruh di Kantor PBNU di Jl Kramat Raya, Jakarta. Kunjungan ini baginya bukan hal istimewa karena sejak  zaman revolusi  antara dirinya dengan KH Fasqih Usman telah  bersahabat  dengan  baik, sekalipun usia terpaut 10 tahun. Apalagi, KH Faqih Usman juga salah seorang  tokoh barisan Sabilillah  yang  mendampingi  KH  Masykur  dan  bahkan pernah  menjadi atasannya.

Kala itu, KH Faqih Usman datang berkunjung untuk melihat-lihat  kantor PBNU  yang  masih  baru. Dari  ruangan bawah  hingga  ke  ruangan-runagan bagian atas,   dari bagian  belakang hingga  ke  bagian depan dicermatinya dengan lengkap.  Ia  memberi komentar  bahwa gedung itu  cukup lumayan  dan termasuk  murah. Ia  memuji  pula  bahwa  letaknya  amat strategis.

“Lho,  ternyata  NU  ini amat dekat  dengan PKI, ya?” seru  KH  Faqih Usman  setengah berteriak. Pekikan suara  itu  mungkin   hanyalah ekspresi  dari  hasil tatapannya, setelah  melihat  dari  tingkat  dua  bahwa  ternyata  gedung kantor  PBNU  berhadap-hadapan  dengan kantor CC-PKI.

Tapi  teriakan KH Faqih Usman, bagi KH Syafeuddin Zurhri bisa juga dianggap sebagai suatu sindirian. Ini karena pada masa itu, beberapa  orang  Masyumi  ada yang senang  mengampanyekan  NU  “dekat”  dengan PKI.

Dan memang Jalan Kramat  Raya  memanjang  dari ujung  satu   di  Senen Raya  dan  diujung lain di Salemba kala itu ruas jalan penting dalam dunia politik Indonesia.  Di  jalan  itu  terdapat empat  kantor partai politik.  Pada deretan sebelah  timur  dengan berjarak  antara 200-300  meter dari kantor PB NU, berdiri  kantor  DPP  Masyumi—terletak  di ujung  jalan  kramat raya atau sekarang kantor Dewan  dakwah Indonesia),  lalu  sebelahnya  kantor  CC   PKI  yang persis  berada di depan kantor   PBNU yang hanya berada di seberang jalan. Lalu, yang  terletak  mendekati  kawasan Salemba  raya  berdiri kantor PNI. Jadi  Kantor Masyumi, PKI dan PNI  berada   pada satu  baris.

← Halaman sebelumnya Halaman selanjutnya →

Halaman 1 2 3

Ikuti update terbaru di Channel Telegram Eramuslim. Klik di Sini!!!

loading...

Baca Juga

Historia Lainnya

Trending