Sabtu, 4 Ramadhan 1442 H / 17 April 2021

NWO Untold, Sejarah Rahasia Freemasonry dan Iluminaty (8)

Redaksi – Selasa, 17 Rajab 1442 H / 2 Maret 2021 12:55 WIB

eramuslim.com – Sejak segolongan dari Bani Israil membuat patung-patung untuk disembah mengikuti kaum pagan Mesir kuno, menyisipkan ayat-ayat bikinan sendiri yang mendukung Kabbalah ke dalam Taurat, sejak itulah banyak di antara golongan bangsa Yahudi yang kemudian jatuh terperosok ke dalam kepercayaan yang salah dan sesat. Walau demikian, tetap ada hingga kini orang-orang Yahudi yang tetap berjalan lurus mengikuti ajaran Taurat Musa a.s. Bisa jadi, sekarang ini mereka diwakili oleh kelompok orang Yahudi yang anti kepada Zionisme-Israel. Hal tersebut sesuatu yang lumrah dan biasa.

Kaum Yahudi penganut Kabbalah, yang karena beberapa ajaran mistismenya menjadi kelompok-kelompok rahasia dan tertutup terhadap ‘orang luar’, meneruskan tradisi ini turun-temurun secara lisan. Beberapa tradisi ajaran pagan ini diyakini ditulis dalam perkamen-perkamen dan naskah-naskah kuno, namun yang tertulis ini dibuat dengan sandi-sandi dan kode tertentu, dan juga disimpan di suatu tempat yang dianggap aman. Tradisi lisan inilah yang kemudian disebut sebagai Kabbalah. Jadi, ketika Bani Israil berjumpa dengan ajaran pagan ini, namanya belumlah Kabbalah, namun yang lain dan tidak diketahui secara pasti mana nama yang dahulu dipakai.

ASAL MUASAL BIARAWAN SION

cabalaJika Harun Yahya dan penulis lainnya menganggap Bani Israil terkontaminasi dengan ajaran paganisme yang dilakukan oleh para pendeta penyihir yang berada di sekeliling Fir’aun, sehingga mencampakkan ketauhidan dengan memegang erat ajaran Kabbalah yang berasal dari kata Ibrani ‘Qibil’ yang bermakna: menerima. Maka seorang Z.A. Maulani dengan berdasarkan penelitian literaturnya merujuk akar Kabbalah dan asal-muasal Biarawan Sion lebih jauh lagi, ke masa-masa di mana Nabi Ibrahim a.s., Bapak Para Nabi, masih hidup.

Menurut Maulani, sejak Bani Israil terlahir dari anak keturunan Ishaq, telah ada sebagian yang cenderung pada kesesatan. Apakah kesesatan itu sesuatu yang sudah inheren berada dalam diri mereka atau karena faktor eksternal, hal ini tidak diketahui secara pasti.

Yang jelas, bagian dari Bani Israil awal yang telah condong pada kesesatan ini membentuk satu kelompok tersendiri, bersifat tertutup dan penuh dengan kerahasiaan, dan memelihara ajaran Kabbalah. Shamir atau Samiri yang diabadikan namanya dalam Al-Qur’an merupakan salah satu pendeta tinggi Kabbalah.

Beberapa waktu setelah berakhirnya pendudukan Romawi atas Palestina, para pendeta tinggi Kabbalah merekam secara tertulis ajaran Kabbalah ini ke atas papyrus berupa gulungan (Scroll) sebagai usaha agar ajaran itu dapat diwarisi kepada generasi Yahudi berikutnya. Tugas menyalin ajaran Kabbalah itu dibebankan kepada dua orang petingginya yakni Rabi Akiva ben Josef yang menjadi The Grand Master Pendeta Sanhedrin, dan wakilnya, Rabi Simon ben Joachai. Saat itu Kabbalah tersusun dalam dua kitab: Sefer Yetzerah (Kitab Genesis yang menguraikan proses penciptaan alam semesta menurut Kabbalah), dan Sefer Zohar (Kitab Keagungan).[1]

Kitab Zohar penuh dengan ayat-ayat yang hanya bisa dipahami dengan memecahkan kode-kode dan sandi-sandinya. Amsal dan ayat-ayat dalam Kitab Zorah hanya bisa dipahami dengan bantuan Kitab Yetzerah yang berfungsi sebagai kitab tarjamah. Beberapa abad sesudah Masehi, di Eropa muncul lagi sebuah kitab Kabbalah yang diberi nama Sefer Bahir atau Kitab Cahaya. Walau pada awalnya hanya ditulis dalam bahasa Ibrani, atas pertimbangan pragmatisme kemudian juga disalin dalam bahasa latin. Ketiga kitab itu samapi saat ini menjadi pegangan suci para penganut okultisme (Gereja Setan dan Kabbalah).

zohar_640x360Di Palestina, kelompok persaudaraan Kabbalah dipimpin oleh Herodus II (Herodes), Gubernur Romawi untuk Yerusalem, yang dibantu dua orang: Ahiram Abiyud dan Moav Levi. Herodus II memimpin kaum Kabbalis melawan penyebaran ajaran Yesus dan berupaya membangun kembali Haikal Sulaiman di Yerusalem sebagai basis gerakan mereka. Majelis Tertinggi Kabbalah yang terdiri dari sembilan pendeta tertinggi menggelar sidang pada tanggal 10 Agustus 43 Masehi. Sidang itu dipimpin langsung oleh Herodus II dan menyepakati akan mengakhiri kegiatan Yesus serta para muridnya. Sebelumnya, Herodus II inilah yang telah memerintahkan penyembelihan terhadap Nabi Zakaria a.s. dengan memakai gergaji pemotong kayu. Ia juga yang bertanggungjawab dalam kasus pembunuhan Nabi Yahya a.s. dan memerintahkan agar mempersembahkan kepala Nabi Yahya yang telah dipenggal di atas sebuah nampan ke hadapannya.

Dengan kekuasaannya, Herodus memerintahkan Majelis Tinggi Pendeta Sanhedrin, badan tertinggi pada hirarki kependetaan Yahudi, agar mengeluarkan dekrit hukuman mati berdasarkan hukum Romawi di atas kayu salib terhadap Yesus dengan tuduhan telah menghujat Tuhan. Dengan waktu singkat berdiri pula empatpuluhan gereja Kabbalis di Palestina dan kemudian menyebar ke seluruh kekaisaran Romawi dan membangun akarnya di Eropa.

Apakah dengan ini berarti Tahta Suci Vatikan merupakan hasil kerja dari Herodus II? Jika benar, mengapa Kaum Kabbalis yang mengejawantah dalam organisasi Templar dan Freemason kemudian hendak menghancurkan Tahta Suci Vatikan dan membangun Tahta Suci di Yerusalem bagi The Second Coming Yesus Kristus, seolah kaum Kabbalis ini adalah kaum pembela Yesus?

Halaman selanjutnya →

Halaman 1 2

Ikuti update terbaru di Channel Telegram Eramuslim. Klik di Sini!!!

loading...

Baca Juga

NWO Untold (6)

Jumat, 26/02/2021 11:25

History Lainnya

Trending