Selasa, 20 Zulhijjah 1441 H / 11 Agustus 2020

Salim, Hatta, Duterte, Mobil Menteri: ‘Leiden Is Lijden’

Redaksi – Senin, 23 Zulhijjah 1440 H / 26 Agustus 2019 10:30 WIB

Melihat keluhan Tahja, lagi-lagi ingatan kemudian berputar pada sosok para pendiri bangsa. Mereka dahulu benar-benar hidup sederhana. Seusai rapat penting, atau pun rapat di parlemen, kita terbiasa membaca kisah betapa mereka pulang pergi naik sepeda. Atau, betapa sederhana baju yang mereka miliki yang kadang ditambal dan ditisik. Mereka tak adanya bedanya dengan orang awam yang juga sederhana.

Kisah yang sangat legendaris adalah kisah mengenai sosok ’The Old Grand Man’, H Agus Salim. Di sini ada kisah menarik yang ditulis langsung oleh MR Moh Roem yang juga koleganya. Tulisannya di muat di Majalah sosial ekonomi terkemuka ‘Prisma’ menjelang paruh akhir 1970-an.

photo

Keterangan Foto: Bung Karno dan H Agus Salim berjalan pagi di Brastagi, Sumatra Utara pada tahun 1948. Lihat penampilan dan gaya kedua bapak bangsa ini yang sederhana namun elegan.

Kisah yang ditulis langsung oleh Moh Roem sangat menarik. Apalagi Roem sendiri bukan tokoh atau pemimpin bangsa ‘kacangan’. Dia dalah seorang diplomat dan salah satu pemimpin Indonesia di perang kemerdekaan Indonesia. Selama Soekarno presiden, ia menjabat sebagai Wakil Perdana Menteri, Menteri Luar Negeri, dan kemudian Mendagri. Dia paling terkenal untuk mengambil bagian dalam Perjanjian Roem-Roijen.

Mr Roem yang asli Temanggung dan kakeknya mendiang ’Mas Adi Sasono’ di malajah Prismea itu menulis begini:

Suatu hari di tahun 1925, Kasman dan Soeparno mengajak saya ke rumah Haji Agus Salim di Gang Tanah Tinggi, Jakarta. Kasman dan Soeparno adalah pelajar Stovia kelas dua bagian persiapan. Saya pelajar kelas satu.

Pada permulaan tahun itu, Samsuridjal mendirikan Jong Islamieten Bond, dan Haji Agus Salim menjadi penasihatnya. Kasman dan Soeparno, anggota pengurus cabang Jakarta, ingin tahu kapan Haji Agus Salim mulai memberikan kursus agama Islam.

Ajakan ini saya sambut gembira. Saya sudah sering mendengar nama Haji Agus Salim. Saya dengar dia adalah seorang pemimpin rakyat, pemimpin Sarekat Islam, terkenal pandai tentang agama Islam dan mahir menggunakan berbagai bahasa.

Dari Asrama Stovia di Gang Kwini ke Tanah Tinggi ditempuh selama 10 menit naik sepeda. Jalan yang diaspal hanya sampai stasiun Senen, seterusnya jalan tanah biasa dan berlubang-lubang. Lewat jalan ini dengan sepeda, bagaikan naik perahu di atas air yang berombak.

← Halaman sebelumnya Halaman selanjutnya →

Halaman 1 2 3 4

Ikuti update terbaru di Channel Telegram Eramuslim. Klik di Sini!!!

loading...

Baca Juga

Historia Lainnya

Trending