Selasa, 20 Zulhijjah 1441 H / 11 Agustus 2020

Salim, Hatta, Duterte, Mobil Menteri: ‘Leiden Is Lijden’

Redaksi – Senin, 23 Zulhijjah 1440 H / 26 Agustus 2019 10:30 WIB

Haji Agus Salim kami jumpai duduk di serambi dan menyambut kami dengan ramah. Sikapnya sangat menarik. Sesudah bersalaman, ia mulai bicara, yang ditujukan kepada Kasman, ’’Hari ini anda datang secara biasa. Kemarin peranan sepeda dan manusia terbalik.”

Saya tahu, kemarin Kasman datang sendiri. Dan dia yang melihat saya serta Soeparno tidak mengerti apa yang dibicarakan, lantas menjelaskan. ’’Kemarin saya datang, dan ditunggangi sepeda, bukan saya yang menunggangi sepeda.” Kemarin dia di tengah jalan dikejar hujan, dan mengalami nasib seperti yang diceritakan Haji Agus Salim. Tanah liat yang setengah basah melekat pada roda sepedanya, dan tak dapat berputar sama sekali.

Kasman menyambung, ”Dan kemarin saya katakan, ’Jalan pemimpin bukan jalan yang mudah. Memimpin adalah jalan yang menderita’. ”

Ucapan Kasman tidak mempunyai arti sastra kalau dikatakan dalam bahasa Belanda. Dalam bahasa Belanda ada dua kata yang berbunyi sama, tapi ditulis berbeda: leiden (memimpin) dan lijden (menderita). Waktu itu Kasman berkata, “Een leidersweg is een lij- densweg. Leiden is lijden. ”

Waktu itu Kasman sudah menunjukkan bakat pemimpin. Dia mengucapkan kalimat itu dengan suara yang agak lain, dengan tekanan lebih tegas. Dan di kemudian hari terbukti, bahwa apa yang dikatakan Kasman itu merupakan ramalan tentang dirinya. 


Empat kali dia dijebloskan ke penjara oleh yang berkuasa. Sekali di zaman Belanda, tiga kali di bawah rezim Sukarno. Dua kali dia dibebaskan pengadilan, dan dua kali dihukum. Soalnya bukan karena kejahatan, tetapi karena yang apa dia katakan. Kasman memang seorang yang senang dan pandai bicara. Scorenya masih lumayan, 2 lawan 2.Penderitaan yang dialami seorang pemimpin adalah masuk penjara. Tetapi tidak berarti pemimpin tidak hidup bahagia. Bahagia dalam keluarga. Bahagia hidup bercita-cita.


Setelah 1915, kehidupan Salim jauh dari keadaan nyaman: kurang uang belanja untuk hidup, pindah dari satu kontrakan ke kontrakan lain. Hal ini biasa bagi dia dan keluarganya. 

“la pernah tinggal di rumah kontrakan di Tanah Tinggi yang jalannya berlumpur di musim hujan, atau menumpang di rumah seorang kawannya,” tulis Amrin Imran dalam Perintis Kemerdekaan: Perjuangan dan Pengorbanannya (1991).

Padahal Sarekat Islam yang dipimpinnya termasuk partai besar di zaman kolonial. 

Sebagai orang cerdas, Salim tahu bagaimana menikmati hidup. Termasuk bagaimana tinggal di hunian yang jelek dan bocor ketika hujan. Saat hujan, Salim bersama anak-anaknya menampung air hujan dalam baskom yang kemudian digunakan untuk main kapal-kapalan. Begitulah caranya menghibur sekaligus mendidik anak-anaknya dalam kesederhanaan. 



Mohamad Roem dan Kasman Singodimedjo muda pernah mengunjungi bedeng kontrakan Salim sekitar 1920-1930-an. Pengalaman itu diceritakan Roem dalam tulisan di Prisma No 8, Agustus 1977 tersebut, Tulisan Roem diberi judul, “Haji Agus Salim, Memimpin adalah Menderita.” 



Bagi mereka, Salim adalah contoh pemimpin yang berani susah. Kasman, seperti diingat Roem, mengambil kesimpulan: “Jalan pemimpin bukan jalan yang mudah. Memimpin adalah jalan yang menderita. Seperti bunyi pepatah kuno Belanda: leiden is lijden—memimpin adalah menderita.” 



← Halaman sebelumnya Halaman selanjutnya →

Halaman 1 2 3 4

Ikuti update terbaru di Channel Telegram Eramuslim. Klik di Sini!!!

loading...

Baca Juga

Historia Lainnya

Trending