Kamis, 10 Rajab 1444 H / 2 Februari 2023

Gara-Gara Daging Babi

Waktu baru menunjukkan pukul 10.00 pagi di Beijing, Cina. Waktu salat Jumat masih tiga jam lagi. Seorang laki-laki terlihat mendekati masjid.

Lelaki itu sejenak berdiri ragu di depan masjid. Ada rasa enggan untuk melangkahkan kaki ke dalam masjid, apalagi setelah melihat tulisan di pintu gerbang masjid yang ditulis dalam bahasa Cina, Inggris dan Arab berbunyi “Hanya untuk Muslim.”

Tapi lelaki itu menepis keraguannya dan memberanikan diri memasuki masjid.

“Ada yang bisa saya bantu?” tiba-tiba seorang lelaki menyapanya, imam masjid itu.

“Saya ingin menjadi seorang muslim,” ujar lelaki yang disapa.

Imam masjid tersenyum dan menyambut lelaki yang ingin masuk Islam itu. Ia membawanya ke kantor “Komunitas Muslim” yang terletak di dekat bangunan masjid. Sang imam menyodorkan tiga buku kecil tentang Islam. Ia ingin lelaki itu lebih mempelajari tentang agama Islam, agama yang ingin dipeluknya.

Lelaki muda itu ternyata bukan hanya membaca semua buku tersebut, tapi membaca banyak buku lainnya tentang Islam. Ia pun sering mengajak beberapa imam di masjid untuk berdiskusi untuk membuktikan bahwa ia tahu apa yang ingin ia lakukan.

Akhirnya, seorang imam menuntunnya mengucapkan dua kalimat syahadat dan lelaki muda itu resmi menjadi seorang muslim.

Lelaki itu adalah Jang, yang setelah masuk Islam mengganti namanya menjadi Salim. Setelah bersyahadat, Salim menceritakan mengapa ia ingin menjadi seorang muslim.

“Semuanya berawal dari daging babi,” kata Salim sambil tersenyum.

Ajaran Islam untuk makan makanan secukupnya, termasuk larangan makan daging babi, memicu rasa ingin tahu Salim dan mendorongnya untuk mencari tahu lebih jauh tentang Islam.

“Saya meneliti jurnal-jurnal medis dan membaca banyak buku untuk mencari jawabannya,” ujar Salim.

Ia menemukan jawabannya mengapa Islam mengharamkan daging babi. Islam memandang babi najis karena hewan itu pemakan segala atau omnivora. Babi tidak membedakan antara daging atau tumbuhan dalam kebiasaan makannya. Berbeda dengan sapi atau domba misalnya, yang hanya makan tumbuhan. Sejumlah ilmuwan juga mengatakan bahwa makan daging babi, bisa menyebabkan sedikitnya 70 macam penyakit pada manusia.

“Saya menemukan kesimpulan yang sama dalam pengobatan tradisonal Cina yang tidak merekomendasikan makan daging babi dan menyebutnya sebagai daging yang paling tidak sehat dan berbahaya,” tutur Salim.

Atas pengalamannya itu, Jang tertarik dengan agama Islam dan memutuskan untuk masuk Islam. Ia kini menjadi bagian dari komunitas Muslim di Cina yang menurut data resmi jumlahnya lebih dari 30 juta orang.

Islam sudah merambah negeri Cina melalui para pedagang, di era Dinasti Tang sekitar 1300 tahun yang lalu. Bahkan catatan sejarah ada yang menyebutkan bahwa sahabat-sahabat Rasulullah Muhammad Saw pernah mengunjungi Cina.

Meski komunitas Muslim di Cina cukup besar, mereka kerap menjadi target penindasan dan diskriminasi pemerintah Cina yang berhaluan komunis. Tetapi siapa yang bisa menghalangi cahaya Islam dan hidayah yang Allah Swt berikan pada umatnya. Jang atau Salim adalah salah satu contohnya. Ia mendapatkan hidayah itu dengan latar belakang yang unik, hanya karena masalah daging babi. (ln/oi)

catatan: gambar hanya ilustrasi

Ikuti update terbaru di Channel Telegram Eramuslim. Klik di Sini!!!

loading...

Rekomendasi

Pemimpin Saya Masih Prabowo Subianto

Sabtu, 29/06/2019 06:51

Episode Sebuah Perubahan

Jumat, 01/05/2009 08:22

Hukum Shalat di Mobil Secara Rutin

Selasa, 20/05/2014 08:00

Musafir Tetap Wajib Sholat

Kamis, 27/08/2020 15:00

Menutup Wadah Makanan di Malam Hari

Senin, 24/02/2020 15:15

Derita Suami

Sabtu, 07/11/2009 14:14

Baca Juga

Dakwah Mancanegara Lainnya

Trending