Kamis, 5 Rabiul Awwal 1439 H / 23 November 2017

Ajakan Meniru Hormati Firaun

Redaksi – Senin, 23 Syawwal 1438 H / 17 Juli 2017 08:00 WIB

Eramuslim.com – Dalam rezim Komunis, seperti halnya Rezim Komunis Korea Utara, pemimpin adalah tuhan. Yang bisa menentukan segala hal, bahkan umur rakyatnya. Pemimpin di negara komunis adalah pemimpin yang memiliki kekuasaan absolut. Jangankan jika rakyat punya salah, jika tidak disukai saja, pemimpin di negara komunis, bisa menjatuhkan hukuman mati terhadap rakyatnya. Sebab itu, semua orang yang tinggal di negeri komunis mau tidak mau TERPAKSA menghormati pemimpinnya. Jika tidak, nyawa jadi taruhannya.

Anehnya, ada seorang pejabat di negeri antah berantah beberapa waktu lalu menyerukan agar rakyatnya meniru rakyat Korut dalam hal menghormati pemimpinnya. Ini jelas aneh bin ajaib. Apakah Sang Raja mau dihormati karena ditakuti, bukan dicintai? Tentu tidak elok yang seperti itu. Dan Sang Raja harusnya meluruskan pernyataan anak buahnya tersebut, walaupun dia hanyalah pelayan dari Bunda Suri.

Mahendradatta punya komparasi yang cerdas dan BENAR. Jika ingin menjadi pemimpin yang dihormati, tirulah Jepang. Di Jepang, seorang pejabat yang tidak becus bekerja, ketahuan korupsi, ketahuan bohong, maka dia dengan sendirinya harus minimal minta maaf dan mengundurkan diri, atau bahkan melakukan harakiri, agar tidak menangggung malu bagi dirinya dan keluarganya.

Di negeri antah berantah, para pejabatnya tidak punya rasa malu. Di negeri antah berantah ini hampir semua pejabatnya cuma punya keserakahan, syahwat yang besar, hobi korupsi, dan hobi berbohong. Seorang pemimpin yang dalam masa kampanye sesumbar akan menolak utang luar negeri jika terpilih, begitu abrakadabra menjadi penguasa ternyata dia mencetak rekor utang terbesar dalam sejarah negerinya. Sudah terlalu banyak kebohongan demi kebohongan yang keluar dari mulutnya, namun dia tetap saja mengeluarkan jurus ngeles dan ngeles, seolah ratusan juta rakyatnya orang goblok semuanya.

Dan dengan sendirinya, banyak rakyatnya yang kemudian antipati dan tidak hormat pada pemimpin yang seperti ini.

Machiavelli menulis, “Rasa hormat kepada pemimpin hanya bisa ditumbuhkan dalam dua cara, dengan pedang atau dengan kecintaan.” Rasa hormat rakyat kepada pemimpinnya yang muncul karena kecintaan itu hanya bisa diraih jika sang pemimpin bekerja siang malam demi memakmurkan rakyatnya sendiri, bukan memakmurkan rakyat di negeri lain sembari menindas rakyatnya sendiri. Pemimpin yang suka bohong, suka menipu rakyatnya, jelas tidak akan bisa mendapat rasa hormat dari rakyatnya.

Ada pepatah bijaksana: Orang bijak lebih memerlukan cermin dan orang pandir bin tolol selalu saja memerlukan teropong. Kalau pejabat negara antah berantah itu bijak, bercerminlah, kenapa rajanya tidak mendapatkan penghormatan dari rakyatnya. Bercerminlah. Jangan muka jelek, cermin diganti-ganti atau bahkan dihancurkan. Yang harus diganti ya yang bercermin itu jika mau mendapatkan muka yang bagus.

Pemimpin di negeri rezim komunis, seperti halnya Pemimpin di Korea Utara, adalah Firaun abad Milenial. Tentu saja, ini bertentangan dengan negeri antah berantah yang katanya menjunjung tinggi prinsip-prinsip demokrasi. []

Resensi Buku : PreOrder Digest 10, Untold History 2 , Penggelapan Sejarah Sejak Pergerakan Nasional Hingga Reformasi

Ikuti update terbaru di Channel Telegram Eramuslim. Klik di Sini!!!

loading...

Baca Juga

Bom Panci dan Teroris Ndeso

Senin, 10/07/2017 08:15

Sejarah Itu Berulang

Sabtu, 08/07/2017 07:30

Editorial Lainnya

Trending