Kamis, 12 Muharram 1444 H / 11 Agustus 2022

Apakah Akan Melupakan Kejahatan AS di Iraq?

Presiden AS Barack Obama memerintahkan agar pasukan tempur AS meninggalkan Iraq mulai 31 Agustus 2010 mendatang. Mengapa Obama membuat keputusan politik menarik pasukan tempurnya dari Iraq? Keputusannya itu tidak lain hanyalah, karena perang AS di Iraq dan Afghanistan sudah tidak lagi mendapatkan dukungan dari rakyat AS. Sementara itu, Nopember mendatang akan berlangsung pemilihan Kongres, yang akan menentukan nasib Partai Demokrat dan Obama.

Begitu mudahnya keputusan itu diambil oleh Obama, menyudahi perang di Iraq, yang sebelumnya keputusan perang itu diambil oleh Presiden George Walker Bush. Dengan segala implikasinya. Sekalipun pasukan tempur AS akan meninggalkan Iraq, tidak berarti negeri ‘1001 Malam’ itu akan terbebas sepenuhnya dari campur tangan AS. AS tetap menentukan arah pemerintah Iraq, pasca Saddam Husien, di mana AS telah menempatkan ‘orang-orang keperacayaan’, yang akan terus melanjutkan misi dan kepentingan AS di negeri itu.

Barack Obama yang berbicara di depan veteran perang Iraq itu menegaskan : “Saya menyatakan bahwa pada 31 Agustus 2010, misi tempur AS di Iraq akan berakhir, dan itulah yang kita lakukan, seperti yang kita dijanjikan dan sesuai dengan jadwal”. Keputusan itu diambil Obama sebagai pemenuhan janji kaum Demokrat, yang pernah disampaikan kepada publik AS saat Obama berkempanye presiden.

Betapapun, keputusan perang yang diambil Presiden George Walker Bush, menginvasi Iraq, yang hanya berbekal informasi dari CIA, yang sebenarnya disinformasi, dan hanya dijadikan dasar untuk membuat keputusan politik, yaitu menyerang Iraq. Dasar keputusan yang bersumber dari CIA itu, hanyalah rekaan, manipulatif, yang sebenarnya memang kepemimpinan Gedung Putih sudah memiliki keputusan melakukan invasi ke Iraq. Bahwa lraq memiliki senjata pemusnah massal, dan Saddam Husien bagian dari Al-Qaidah, semuanya hanya rekaan bohong dan penuh dengan manipulatif.

Seperti menjelang akhir kekuasaannya, dan sebelum meninggalkan Gedung Putih, Presiden Bush, mengakui kesalahannya, dan informasi yang digunakan sebagai dasar mengambil keputusan itu, hanyalah rekaan dan salah. Inilah sebuah kejahatan yang dilakukan Presiden Bush dan pemerintahannya, yang telah menghancurkan Iraq, tanpa dasar alasan yang memadai. Inilah sebuah kejahatan kemanusiaan yang seharusnya Presiden Bush mempertanggungjawabkannya. Tidak cukup hanya Presiden Obama mengambil keputusan menarik pasukan tempur dari Iraq, tanpa bertanggung atas tindakan perangnya terhadap rakyat Iraq.

AS telah meninggalkan negeri Iraq yang hancur lebur, jutaan kematian rakyat Iraq, terberaikannya keluarga-keluarga di Iraq, banyaknya rakyat Iraq yang meninggalkan Iraq (migrasi) akibat perang yang sangat dahsyat. Belum lagi, kehancuran infrastruktur di Iraq, dan negeri itu menjadi porak-poranda selama perang berlangsung.

Tetapi, sebuah warisan yang paling getir, yang ini merupakan buah dari invasi militer AS terhadap Iraq, adalah terjadinya perang saudara antara kelompok Syiah dan Sunni. Bahaya laten yang mengancam masa depan Iraq, dan akan mencabik-cabik negeri ini, perpecahan dan konflik dalam bentuk perang saudara, yang akan memakan waktu panjang, yang tak akan habis-habis, akibat konflik yang bersifat sektarian.

Suhu konflik antara Syiah dan Sunni di Iraq, tak lain, memang dikehendaki oleh AS, yang tujuannya untuk terus melemahkan Iraq, pasca AS meninggalkan Iraq. Tak ada satupun kekuatan politik yang dapat mengelola negara secara efektif, sebagai akibat perang saudara, yang tidak akan pernah berhenti. AS akan mewariskan pemerintahan baru yang sangat lemah, dan tidak efektif, seperti yang terjadi sekarang ini. Meskipun, kelompok Syiah menjadi kekuatan politik utama di Iraq, tetapi nampaknya tidak akan efektif, karena harus menghadapi saingan politiknya kelompok Sunni.

Tetapi, skenario AS yang ingin terus melemahkan Iraq, bukan hanya menciptakan konflik antara kelompok Syiah dengan Sunni, tetapi AS mendorong konflik yang lebih luas, antara kelompok Sunni dengan Sunni lainnya, yang satu mendukung kepentingan AS di Iraq. Perang antara kelompok perlawanan Sunni, dan menghadapi kelompok Sunni yang menjadi alat kepentingan AS di Iraq sudah terjadi, dan mengakibatkan hancurnya kekuatan politik di Iraq. Demikian pula, AS mendorong terjadinya konflik antara kelompok Syiah yang pro-AS dengan kelompok Syiah yang pro-Iran, yang masing-masing menggunakan kekuatannya untuk berebut pengaruh.

Jadi, situasi di Iraq pasca penarikan pasukan tempur AS dari wilayah itu,  tidak berarti Iraq menjadi negeri yang berdaulat, merdeka, dan damai, tanpa konflik, justru ini baru awal dari konflik yang akan lebih dahsyat memperebutkan kekuasaan di Iraq antara berbagai golongan dan kelompok di Iraq. Semuanya itu sudah merupakan strategi AS terhadap Iraq. Dengan begitu Iraq tetap berada dalam genggaman AS, karena negeri Paman Sam itu mempunyai kepentingan yang lebih besar terhadap Iraq, yaitu minyak.

Pidato Obama di depan para veteran perang itu, hanyalah politik ‘cosmetik’ belaka, yang tujuannya untuk mengangkat kembali citra AS di depan publik, yang sudah mulai muak dengan perang di Iraq dan Afghanistan. Ini hanyalah politik pencitraan, dan bukan substansi yang sungguh-sungguh dari Gedung Putih, yang ingin menyudahi perang di Iraq. Wallahu’alam.

Ikuti update terbaru di Channel Telegram Eramuslim. Klik di Sini!!!

loading...

Baca Juga

Soros dan Tamatnya Amerika Serikat?

Jumat, 30/07/2010 10:50

Ancaman Israel Terhadap Indonesia

Kamis, 22/07/2010 11:04

Bersyukurlah Oleh Karunia Allah

Senin, 19/07/2010 10:27

Dapatkah Kita Menjadi Lebih Sabar?

Rabu, 14/07/2010 11:11

Kemiskinan Tak Pernah Berkurang?

Senin, 12/07/2010 11:31

Editorial Lainnya

Trending