Rabu, 12 Jumadil Awwal 1444 H / 7 Desember 2022

Bangsa yang Diperbudak Koruptor?

Mestinya besok menjadi hari yang akan menyatukan seluruh kekuatan elemen bangsa, bersatu-padu menyatakan perlawanan, perang, tidak akan menyerah melawan para koruptor, yang sudah menjadikan Indonesia sebagai bangsa pariah, alias terbelakang.

Negara yang memiliki kekayaan alam, dan potensi alam yang tak terhingga, tak memberikan apa-apa kepada rakyatnya, kecuali sebuah kemiskinan yang sangat absurd.

Tidak ada syak lagi. Tidak ada kecurigaan. Tidak ada perbedaan. Semuanya harus memiliki tekad dan kemauan yang sama. Seluruh anak bangsa ini harus menyatakan, bahwa korupsi dan koruptor menjadi musuh bersama.

Korupsi dan koruptor harus diberantas sampai seakar-akarnya. Tidak boleh hidup lagi di bumi pertiwi Indonesia. Korupsi dan koruptor bukan hanya penyakit sosial, tetapi sudah menjadi ancaman yang nyata. Ancaman bagi eksistensi dan masa depan seluruh anak bangsa.

Perbuatan korupsi dan pelakunya koruptor kejahatannya melebihi penjajah Belanda, yang sudah menjajah dan menguras seluruh hak hidup bangsa Indonesia selama tiga setengah abad. Korupsi dan koruptor kejahatannya melebihi penjajah Jepang, yang menghancurkan kehidupan bangsa ini, meskipun mereka hanya bercokol selama tiga setengah tahun. Tapi, tindakan penjajah Jepang terhadap bangsa Indonesia, tak kalah biadabnya dibanding dengan Belanda.

Dibandingkan dengan kedua penjajah itu,  korupsi dan koruptor masih lebih berbahaya bagi masa depan kehidupan bangsa.

Perbuatan korupsi dan koruptor tidak kalah jahatnya dibandingkan dengan PKI yang telah melakukan pemberontakan beberapa kali, dan puncaknya di tahun 1965. Seharusnya, jika PKI dinyatakan sebagai bahaya laten, baik gerakan, tindakan, dan ideologinya, maka korupsi dan koruptor juga harus dinyatakan sebagai bahaya laten. Tidak lagi ada toleransi terhadap korupsi dan para koruptor.

Sikap dan pandangan seperti inilah yang seharusnya dimiliki seluruh anak bangsa ini. Tidak akan pernah mencapai kejayaan dan kemajuan, sebuah negara dan bangsa, bila masih dikuasai para pelaku koruspi dan koruptor.

Negeri yang besar ini akan menjadi hancur dan hanya menjadi kenangan sejarah, kalau bangsa dan rakyatnya tidak dapat mengenyahkan para pelaku korupsi. Bangsa ini akan menjadi bangsa yang bangkrut, bila kalah melawan koruptor.

Darah-darah rakyat disedot para koruptor dengan sangat kejinya. Tanpa belas kasihan. Mereka sangat tega melihat penderitaan rakyat. Mereka hidup diatas penderitaan rakyat. Mereka menikmati penderitaan dan kesengsaraan rakyat. Mereka membiarkan rakyat menjadi melarat. Tanpa ada sedikitpun rasa iba terhadap kondisi dan nasib rakyat. Mereka berusaha membuat permanen kondisi yang sangat tidak adil dan buruk yang dihadapi oleh rakyat banyak ini. Tidak peduli. Bagaimana nasib yang dialami rakyat banyak.

Berapa banyak uang yang sudah dikorup dan dikeduk oleh para koruptor? Berapa banyak uang yang sudah dirampok dan dicuri oleh mereka?Tak terhitung. Kasus-kasus besar yang berkaitan dengan korupsi semua hilang ditelan angin.

Kasus BLBI Rp 650 triliun rupiah,. tak pernah bisa dibuka. Semua yang punya kuasa telah kalah ditekuk oleh para koruptor. Edi Tanzil melenggang membawa pergi uang Rp 1.3 triliun. Syamsul Nursalim Rp 27 triliun. Soeharto berapa banyak? Tak pernah dapat dibuktikan oleh pengadilan. Sekarang kasus Bank Century yang menelan uang rakyat Rp 6,7 trilun. Apakah kasus ini akan dibongkar?

Mereka selalu dapat selamat dan tidak pernah terjerat oleh hukum. Mereka seperti orang yang tidak dapat disentuh oleh kekuasaan hukum. Seperti bayang-bayang yang sangat menakutkan. Bagi siapa saja. Maka tak pernah ada para penguasa yang sudah berkuasa, dan memakan uang rakyat yang jumlahnya tak dapat disebutkan, itu dapat dihukum.

Kekuasaan dapat menyelamatkan dari jangkauan hukum. Kekuasaan dapat melindunginya dari segala tindakan hukum. Kekuasaan pula lah, yang akhirnya dapat menyingkirkan bagi orang-orang yang ingin membongkar dan mengadili kejahatan para penguasa yang sudah melahap uang rakyat. Sehingga, orang-[orang yang ingin melakukan penegakkan keadilan selalu kalah melawan  kekuatan kekuasaan.

Apakah momentum peringatan hari ‘Anti Korupsi se-Dunia’, yang jatuh tanggal 9 Desember, besok ini, akan dapat menjadi pendorong dan memotivasi seluruh rakyat Indonesia untuk membebaskan negeri ini dari penjajahan dan perbudakan yang dilakukan para pelaku korupsi dan koruptor?

Kegagalan dan kerberhasilan hanya akan ditentukan oleh bangsa Indonesia. Apakah masih memiliki komitment, kesungguhan, serta kejujuran hati nurani, dan tidak dapat dibelokkan oleh apapun dan siapapun dalam rangka memberantas korupsi ini.

Kalau bangsa ini memiliki komitment yang kuat, dan tekad yang membaja, serta kesungguhan dan kejujuran, tentu Indonesia masih memiliki optimisme bagi masa depannya. Wallahu ‘alam.

Ikuti update terbaru di Channel Telegram Eramuslim. Klik di Sini!!!

loading...

Baca Juga

Menunggu Keajaiban Dari Senayan

Rabu, 02/12/2009 13:06

'Bom Waktu' Bank Century

Rabu, 25/11/2009 10:23

Dapatkah Mafia Peradilan Diberantas?

Senin, 23/11/2009 10:21

Penyebab Musibah Adalah Kemaksiatan

Jumat, 20/11/2009 14:54

Tim Delapan, dan Apa Sikap SBY?

Senin, 16/11/2009 09:51

Editorial Lainnya

Trending