Sabtu, 21 Muharram 1444 H / 20 Agustus 2022

Fundamentalis Kotor?

Dua kata fundamentalis dan kotor. Dua kata yang paradok. Dua kata ini dalam realitas kehidupan, sebenarnya tidak mungkin bisa bertemu satu dengan lainnya. Menjadi seorang fundamentalis, tetapi juga sekaligus menjadi seorang yang hidupnya kotor.

Fundamentalis yang dalam bahasa arabnya disebut “ushuliyun” adalah orang-orang yang memegang teguh ajaran agamanya (Islam) dengan komitmen yang utuh alias kaffah. Menjadikan inti ajaran Islam, tauhid rububiyah dan uluhiyah menjadi dasar prinsip hidupnya, menolak segala bentuk syirik yang akan menjerumuskannya ke dalam sikap yang “ambigu” (mendua).

Tidak mungkin menjadi seorang yang taat dalam Islam, sebagai mukmin, tetapi menikmati segala yang menjadi larangan Islam. Memakan makanan yang bersumber dari hal-hal yang haram, mubah, dan najis. Tidak mungkin menjadi seorang yang taat dalam Islam, sebagai mukmin, dalam kehidupannya sehari-hari toleran dengan kebathilan, kemungkaran, dan memolopori kesesatan dan kedurhakaan terhadap Allah Ta’ala. Tidak mungkin menjadi seorang yang taat dalam Islam, sebagai mukmin, lalu menjadikan orang-orang kafir, musyrik, dan munfik itu menjadi sahabatnya yang setia. Menyerahkan loyalitasnya, dan meminta perlindungan kepada musuh-musuh Allah, dan dengan ridha.

Tidak mungkin seorang yang taat dalam Islam, sebagai mukmin, tetapi hidupnya talbiz (bercampur) dengan kehidupan jahiliyah. Mengaku mukmin, tetapi dalam berpolitik dan bermualah lainnya, menggunakan standar Machiavelli, yang menghalalkan segara cara. Tidak ada lagi pembatas, segalanya menjadi boleh untuk mencapai tujuan yang diinginkannya. Tidak ada lagi yang membedakan antara mukmin dan kafir. Statusnya sebagai muslim dalam bermualah, menggunakan standar  Machiavelli.

Orang-orang yang mengaku aktivis Islam, pergerakan Islam, dan da’i, tetapi dalam praktek muamalahnya, tidak mencerminkan sebagai seorang yang menggunakan standar nilai-nilai Islam, tetapi menggunakan standar jahiliyah, prinsip-prinsipnya Nicolo Machiavelli, yang  menghalalkan segala cara.

Mungkinkah menginginkan tegaknya prinsip Islam dengan cara yang bathil? Mungkinkah membangun menara masjid, yang sumbernya uangnya dari hasill uang haram? 

Di zaman orang yang sudah kehilangan idealisme dan komitmen terhadap agama (Islamn), kecenderungan orang menjadi sangat permisif, dan membolehkan apa saja, dan memanfaatkan apa saja dan siapa saja dalam rangka mencapai tujuan.

Kehidupan menjadi sangat pragmatis dan oportunistik. Segalanya menjadi tidak memiliki dasar dan landasan agama (Islam). Kemudian agama (Islam) dilogikakan sesuai dengan keinginannya. Agama menjadi alat bukan menjadi sebuah landasan dan yang menentukan.

Mereka mempunyai standar ganda di depan para pengikutnya mereka bisa berwajah “malaikat”, tetapi di tempat lain, ketika bermuamallah dengan orang luar, mereka bisa  berwajah  mirip “setan”. Inilah paradok-paradok yang sekarang ini berlangsung dalam kehidupan yang sangat menyesakkan, dan membuat masa depan menjadi buram.

Kehidupan yang ada sekarang yang serba pragmatis, tak ada lagi yang bisa mengatakan “tidak” terhadap yang dilarang oleh agama (Islam). Tak heran sekarang ini banyak orang yang mengaku “pemimpin” dan “tokoh” umat, yang sejatinya mereka tak lain, para Machiavellis sejati. Wallahu’alam.

Ikuti update terbaru di Channel Telegram Eramuslim. Klik di Sini!!!

loading...

Baca Juga

Nasib Jepang dan Indonesia?

Kamis, 17/03/2011 10:22

Ancaman Krisis Global?

Senin, 14/03/2011 09:30

Presiden SBY Tak Bernyali?

Selasa, 08/03/2011 09:45

Editorial Lainnya

Trending