Jum'at, 13 Muharram 1444 H / 12 Agustus 2022

Mengambil Ibroh Dari Kekuasaan

Ibaratnya seperti meneguk air laut. Sekali meneguknya pasti akan berulang keinginan meneguknya kembali. Tak akan pernah ada orang yang merasa cukup dengan sekali berkuasa. Tak ada penguasa yang rela, dan dengan ikhlas melepaskan kekuasaannya. Itulah hakekat kekuasaan dan penguasa. Karena, kekuasaan itu selalu diidentikkan dengan penghormatan, hak-hak istimewa, kekayaan, kemewahan, dan status. Setiap orang menginginkan kekuasaan. Karena dengan kekuasaan segalanya dapat dicapai dan diwujudkan.

Sekalipun orang yang berkuasa dirinya dihiasi dengan sejumlah aksesoris yang sangat sempurna, dan sering dengan sebutan sebagai pengabdian kepada rakyat. Bungkus yang dibungkuskan kepada jati diri seorang penguasa dengan rapi, dan segalanya selalu dikatakan untuk kepentingan rakyat. Seakan dirinya melebur dengan rakyat. Mimpinya adalah kesejahteraan rakyat. Bicaranya adalah kemakmuran rakyat. Pidatonya adalah membela rakyat. Kata ‘rakyat’ seperti tidak pernah habis-habis, yang selalu ada dalam mimpi, bicara, dan pidato. Setiap lima tahun sekali rakyat mendapatkan perhatian yang tak pernah terbayangkan sebelumnya oleh mereka. Betapa mulianya rakyat, di saat menjelang pemilihan. Rakyat di saat itu menjadi sebuah ‘kata’ yang sangat luar biasa ‘magisnya’.

Sampai-sampai, kemiskinan disulap menjadi kejehteraan, kegagalan disulap menjadi keberhasilan, kebathilan disulap menjadi kebenaran, kebohongan disulap menjadi kejujuran, korupsi dan mencuri uang rakyat disulap menjadi bersih dan amanah, utang disulap menjadi surplus, dan semuanya dipatrikan ke dalam pikiran rakyat melalui media. Sebuah gambaran betapapun paradoknya, tapi orang yang berkuasa dapat mengendalikan dan menguasai pikiran rakyatnya. Melalui sebuah manipulasi. Dan,hanya dengan angka-angka, yang selalu disuguhkan kepada rakyat.  Karena ada sebuah kaidah yang mengatakan, kebohongan yang diulang-ulang akan menjadi kebenaran. Sampai tak ada seorangpun yang menolaknya. Semuanya mengatakan ‘amiin’ terhadap kebohongan itu.

Pernah ada penguasa di negeri ini, yang berkuasa dalam jangka waktu yang panjang, lebih dari tiga puluh tahun. Dan, setiap lima tahun sekali dipilih, partai yang digunakan sebagai kendaraannya, meniti kekuasaan selalu menang mutlak, bahkan yang terakhir kali mendapat suara 74 persen. Karena, sang ‘penguasa’ dapat menggunakan semua instrument negara untuk mencapai tujuannya. Dan, setiap lima tahun sekali selalu ada kata ‘meLanjutkan’ amanah rakyat.

Dan usai pelantikan wakil rakyat ditempat yang akan menantukan nasib rakyat, maka ia dipilih lagi menjadi pemimpin, dan tak ada yang menyainginya. Penguasa ini juga menggunakan jargon yang sangat sakti yaitu ‘pembangunan’. Pembangunan untuk rakyat. Pembangunan untuk memakmurkan rakyat. Pembangunan untuk mengentaskan kemiskinan rakyat. Pembangunan untuk mewujudkan negara yang adil dan makmur.

Watak penguasa di manapun sama. Mereka tak ingin berhenti dari kekuasaan. Selalu ingin berkuasa kembali. Kekuasaannya tak ingin dibatasi oleh apapun, termasuk konstitusi yang ada. Sekalipun eksplisit di dalam konstitusi itu ada pembatasan. Tapi, pasti ia tak ingin melepaskan kekuasaannya, yang sudah sangat dinikmatinya. Di zaman modern ini banyak penguasa, yang kemudian membentuk dinasti. Kekuasaannya dialihkan kepada anaknya, istrinya, saudaranya, dan kroni-kroninya. Kekuasaan tidak boleh beralih ke tangan orang lain, yang bukan menjadi ‘trah’ keturunannya, atau orang yang mempunyai hubungan dekat, serta orang yang menjadi kepercayaannya. Inilah yang kemudian muncul kata ‘nepotisme’. Akhirnya kekuasaan sifatnya menjadi sangat pribadi.

Rakyat hanya diperhatikan saat-saat menjelang pemilihan. Usai pemilihan bukan lagi gilirannya rakyat yang diperhatikan. Tugas rakyat sudah selesai. Tugas rakyat hanya sampai dibilik suara. Memberikan suaranya. Cukup sampai disitu. Rakyat jangan lebih dari itu. Apalagi, rakyat yang pikiran dan persepsinya sudah dapat dikendalikan dan dikuasai oleh penguasa. Ibaratnya mereka adalah orang hidup, yang hakekaktnya sudah ‘mati’, karena mereka tidak lagi memiliki pendapat. Semuanya sudah diarahkan yang sesuai dengan keinginan penguasa.

Pengelolaan dan kebijakan negara terserah penguasa dan orang-orang yang sudah berjasa menjadikan sang penguasa berkuasa kembali. Semuanya cukup dengan mengucapkan terima kasih kepada rakyat yang sudah memilihnya. Apakah rakyat akan mengalami kemajuan hidup mereka? Tidak ada yang tahu. Karena, yang tahu hanyalah sang ‘penguasa’ dan yang ada di dalam lingkaran kekuasaan, yang membuat kebijakan atas nasib rakyat. Wallahu’alam.

Ikuti update terbaru di Channel Telegram Eramuslim. Klik di Sini!!!

loading...

Baca Juga

Siapa Layak dan Berhak Dipilih Umat?

Jumat, 03/07/2009 11:20

Uang, Uang, dan Uang

Senin, 29/06/2009 14:00

Umat : Antara Harapan dan Kekawatiran

Selasa, 23/06/2009 11:58

JK : Lugas, Santun, dan Kejujuran

Senin, 15/06/2009 13:44

Editorial Lainnya

Trending