Rabu, 8 Rabiul Awwal 1444 H / 5 Oktober 2022

Hanya Menggunakan Al-Quran karena Menganggap Hadits Banyak yang Palsu

Assalamua’laikum wr. wb.

Pak ustadz, saya pernah diajak oleh salah satu oraganisasi Islam untuk masuk dalam kelompok tersebut. Dalam setiap penyampaian da’wahnya mereka jarang sekali menyampaikan dalil dari hadist melainkan langsung dari Al-Qur’an karena menurutnya hadits yang ada sekarang banyak yang palsu. Bagaimana menurut pak Ustadz? Jazakumulloh.

Wassalamua’laikum wr. wb.

Assalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Hadits yang palsu memang ada dan banyak beredar di tengah masyarakat. Namun semua hadits palsu itu pasti ketahuan kepalsuannya. Sebab kita punya ilmu takhrij hadits dan ribuan judul kitab hadits, baik yang memuat hadits shahih dan juga hadits palsu. Sehingga sama sekali tidak ada masalah untuk mengidentifikasinya. Cukup kita cari dalam kitab-kitab itu dan dengan mudah bisa kita identifikasi.

Jasa para ulama hadits sejak mula pertama munculnya hadits palsu sedemikian besar untuk mengatasi kendala ini. Nama seperti imam Al-Bkhari, Imam Muslim dan lainnya bagaikan trademark tersendiri untuk keshahihan suatu hadits. Sebab mereka telah melakkan penelusuran terhadap para perawi hadits mulai dari zaman mereka hidup hingga ke level shahabat.

Semua orang yang dikatakan pernah meriwayatkan hadits telah diselidiki dengan seksama dan sangat ketat. Nyaris mustahil ada pemalsu hadits yang lolos dari lubang jarum seleksi mereka. Dengan adanya kritik sanad hadits ini, jangankan orang yang sengaja memalsu hadits, para perawi yang ingatannya kurang atau terbolak-balik dalam meriwayatkan hadits, akan tertulis secara abadi dalam kitab rijalul hadits.

Bahkan bukan hanya kualitas ingatan dan hafalan mereka yang dinilai, tetapi akhlaq, perilaku, adab dan sopan santun mereka di tengah masyarakat, ikut dijadikan bahan penilaian dengan sangat ketat. Sehingga seorang perawi hadits yang ketahuan makan di pasar, meski hal itu bukan perkara haram, namun dianggap telah menjatuhkan muru’ah (kehormatan atau kewibawaan) seorang perawi hadits. Sehinga oleh para ulama hadits, levelnya bisa anjlok ke bawah. Hadits yang diriwayatkannya bisa jadi tidak masuk dalam daftar hadits shahih.

Anda bisa bayangkan betapa teliti dan ketatnya kritik sanad hadits yang telah berjalan sejak awal mula berdirinya agama ini. Jadi sangat tidak mungkin beredar hadits palsu di tengah masyarakat tanpa terdeteksi bahwa hadits itu palsu.

Para ulama hadits telah mewariskan kitab-kitab hadits yang telah disepakati ulama sedunia sepanjang zaman tentang keshahihannya. seperti kitab shahih Bukhari yang disebut sebagai kitab tershahih kedua setelah Al-Quran. Di bawahnya ada kitab Shahih Muslim yang berisi hanya hadits-hadits shahih. Namun bukan berarti hadits shahih itu hanya ada dalam dua kitab itu saja. Masih begitu banyak lagi hadits shahih yang tidak terdapat dalam kedua kitab itu.

Kembali lagi tentang hadits palsu di atas, yang jadi masalah bukannya kita tidak bisa bedakan kepalsuan suatu hadits, tetapi yang jadi masalah adalah keawaman umumnya umat Islam dalam ilmu hadits. Sehingga masih saja ada di antara mereka yang terjebak dengan hadits-hadits palsu.

Tapi hanya mereka yang awam dan tidak pernah belajar agama secara serius saja yang akan mengalaminya. Kalau suatu masyarakat serius mempelajari agama ini, termasuk dalam ilmu hadits, sudah bisa dipastikan bahwa tidak mungkin tersebar hadits-hadits palsu di tengah mereka. Sebab beda antara hadits palsu dengan yang shahih itu seperti perbedaan siang dan malam. Sangat jelas dan sangat kelihatan oleh siapapun yang sadar. Tapi beda siang dan malam tentu tidak akan bisa dirasakan oleh mereka yang sedang tidur atau pingsan.

Sayangnya kebanyaka umat Islam saat ini justru sedang asyik lelap dalam tidurnya atau malah sedang mati suri. Jadi, begitulah, masih ada saja orang yang terjebak dengan hadits palsu.

Dengan demikian, tidak ada alasan sedikit pun untuk meninggalkan semua hadits dan hanya berpegang kepada Al-Quran saja, hanya lantaran keberadaan hadits palsu itu.

Kita tidak bisa anti naik pesawat terbang hanya lantaran ada satu dua kecelakaan pesawat. Sikap takut naik pesawat terbang adalah perasaan ketakutan yang tidak berlandasan kuat. Bahkan sebaliknya, justru dibandingkan dengan semua jenis kendaraan, pesawat terbang secara statistik termasuk kendaraan teraman di dunia, dibandingkan dengan kereta api dan lainnya.

Atau jangan-jangan kelompok itu memang ingkarussunnah yang menolak semua hadits yang ada. Dengan dalih beredarnya sebagian hadits palsu, lalu malah menuduh semua hadits yang ada palsu dan mengingkari semua hadits.

Kalau memang demikian, maka keberadaan kelompok ini memang berbahaya. Sebab dengan mengingkari hadits nabi SAW dan menyebarkannya, kelompok ini sedangkan merobohkan agama Islam dari dalam.

Ingkarussunnah adalah kelompok yang terlarang di negeri ini, karena dianggap telah keluar dari garis kebenaran. Majelis Ulama Indonesia telah melarang ajaran sesat ingkarussunnah dalam salah satu fatwanya.

Wallahu a’lam bishshawab wassalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh,
Ahmad Sarwat, Lc.

Ikuti update terbaru di Channel Telegram Eramuslim. Klik di Sini!!!

loading...

Rekomendasi

Harta Warisan Harus Segera Dibagikan

Selasa, 31/07/2007 09:27

Siapa Yang Sebenarnya Cinta NKRI?

Selasa, 20/04/2021 07:45

Mengingat Allah di Pasar

Selasa, 11/09/2012 10:55

Memaknai Kehilangan

Rabu, 29/04/2009 07:44

Janganlah Memuji Diri Sendiri

Kamis, 09/04/2020 14:15

Baca Juga

Dasar Penggunaan Hadits

Senin, 29/05/2006 10:32

Apakah Hadits Nabawi = Hadits Qudsi?

Selasa, 09/05/2006 12:21

Beda Hadits Qudsi dengan Al-Quran

Senin, 03/04/2006 10:26

Hadits Lainnya

Trending