Ahad, 8 Safar 1442 H / 27 September 2020

Bagaimana Nabi Muhammad Dilindungi Saat Berdakwah?

Perlindungan Allah kepada Nabi pada masa ini sekaligus memberikan keberkahan kepada para pengasuh. Misalnya, Tsuaibah Al-Aslamiyyah yang menyusui Rasulullah dimerdekakan dalam perbudakannya oleh Abu Lahab, paman Nabi yang kelak paling menentang dakwah Nabi.

Begitupun dengan Halimah As-Sa’diyah yang juga menyusui Nabi, Allah melimpahkan kekayaan kepadanya karena keberkahan Rasulullah agar tiada seorang pun berjasa terhadap beliau. Banyak hal yang meliputi keberkahan Halimah, baik berupa harta maupun derajat sosialnya yang mulia karena Nabi ketika dewasa kerap menyebut-nyebut jasa beliau.

 

Adapun dua pengasuh Nabi semasa kecilnya yakni Fatimah binti Asad dan Barakah Al-Habasyiyah juga mendapatkan keberkahan dan kemuliaan yang menyelimuti. Kemudian dalam pengasuhan pamannya, Abu Thalib, Nabi juga mendapatkan perlindungan yang Allah titipkan.

Dalam Surah Ad-Dukhan ayat 6, Allah SWT berfirman: “Alam yajidka yatiman fa-awaa,”. Yang artinya: “Bukankah Dia mendapatimu sebagai seorang yatim, lalu Dia melindungimu?”. Sehingga, jelaslah bagaimana Allah menyambung satu per satu perlindungan-Nya yang tak terputus kepada Nabi.

Pada fase ketiga, Allah memberikan perlindungan kepada Nabi untuk menjaganya dari hal-hal yang tidak elok, apalagi maksiat. Nabi dihindarkan—bahkan sejak dari pikiran—untuk tidak mempercayai tradisi jahiliyah masyarakat Arab. Nabi juga dijaga melalui akhlak mulia serta kejujurannya yang diakui seluruh masyarakat Arab kala itu.

Di sinilah, Nabi mulai menggembalakan kambing dan mulai mengenal dunia perdagangan yang luas. Perlindungan Allah kepada Nabi pun terus berlanjut dengan dihubungkannya Nabi melalui orang-orang baik yang beliau temui dan kenal. Hingga akhirnya Nabi berjumpa dengan Sayyidah Khadijah dan menikahinya.

Dan pada fase terakhir, Allah juga terus memberikan perlindungan kepada dakwah Nabi melalui berbagai aspek. Baik melalui sahabat-sahabanya, keluarganya, relasinya, bahkan musuhnya sendiri yang kemudian menjadi sahabat paling setia Nabi—Umar bin Khattab.

Jika menelisik peristiwa musibah yang menimpa Syekh Ali Jaber saat berdakwah, baru-baru ini, sesungguhnya Allah pun memberikan perlindungan kepada beliau. Berdasarkan keterangan Syekh Ali Jaber, ketika hendak ditikam dengan orang tak dikenal, tangan beliau refleks terangkat seperti orang hendak berdoa. Barangkali, melalui refleks itulah Allah memberikan perlindungan kepada beliau. (Rol)

← Halaman sebelumnya

Halaman 1 2

Ikuti update terbaru di Channel Telegram Eramuslim. Klik di Sini!!!

loading...

Baca Juga

Dua Tipe Orang Munafik Menurut Alquran

Selasa, 15/09/2020 14:30

Hikmah Lainnya

Trending