Senin, 9 Muharram 1444 H / 8 Agustus 2022

Belajar Bersabar

manjatOleh Ibnu Anwar

Sesungguhnya, kehidupan dunia ini tak lain hanyalah ruang ujian bagi ummat manusia. Bersedia ataupun tidak, setiap manusia akan selalu dihadapkan dengan tantangan hidup yang silih berganti, dari tantangan yang sederhana hingga yang tampak terlalu berat untuk dilalui. Dan tiada satu manusia pun yang akan dapat bersembunyi atau menghindar dari ujian hidup yang telah digariskan oleh Allah SWT tersebut.

Bagi kita orang-orang yang beriman, sesungguhnya tiada ujian hidup yang tidak memiliki jalan keluar. Dan solusi utama bagi kita dalam menghadapi setiap ujian hidup adalah berserah diri atau bertawakkal kepada Allah SWT, dengan sungguh-sungguh meyakini bahwa apa yang ada pada diri kita, bahkan segala sesuatu yang ada di dunia ini, sesungguhnya hanyalah milik Allah SWT semata, dan tak pernah benar-benar menjadi milik kita atau manusia lainnya. Semuanya hanyalah pemberian, dan bukan pencapaian atau hasil kerja keras kita sendiri. Sehingga, dengan meyakini bahwa apa yang ada pada diri kita sebenarnya hanyalah milik Allah SWT, maka kita pun akan tak pantas untuk melarang Allah SWT atau memprotes-Nya jika memang Dia berkehendak untuk mencabut sesuatu dari kita. Karena memang pada hakikatnya, tidak pernah ada sesuatu yang tercabut dari kita atau menimpa kita kecuali itu semua telah ditetapkan oleh Allah SWT dan telah tertulis di dalam kitab (Lauh Mahfuudz). Segala musibah dengan ragam bentuknya hanya akan terjadi jika memang Allah SWT mengizinkannya, dan hanya Dia sendirilah yang akan mampu menghentikan musibah tersebut jika Dia menghendaki, dengan cara dan rencana-Nya sendiri. Allah SWT berfirman di dalam al-Qur’an yang artinya:

“Katakanlah: ‘Sekali-kali tidak akan menimpa kami melainkan apa yang telah ditetapkan oleh Allah atas kami. Dialah Pelindung kami, dan hanya kepada Allah sajalah orang-orang yang beriman harus bertawakkal.’”(At-Taubah: 51)

“Tiada suatu musibah pun yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada diri kalian sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab (Lauh Mahfuudz) sebelum Kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah.”(Al-Hadiid: 22)

“Jika Allah menimpakan suatu marabahaya (musibah) kepadamu, maka tidak ada yang dapat menghilangkannya kecuali Dia. Dan jika Allah menghendaki kebaikan bagi kamu, maka tak ada yang dapat menolak karunia-Nya. Dia memberikan kebaikan itu kepada siapa saja yang dikehendaki-Nya di antara hamba-hamba-Nya, dan Dialah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (Yunus: 107)

Dan keyakinan yang demikian inilah yang akan dapat membantu kita dalam usaha bersabar ketika kita diuji dengan suatu musibah. Dan tanpa keyakinan yang semacam itu, kita pasti akan sangat sulit untuk merelakan sesuatu yang telah hilang dari kita, sehingga akan banyak mengeluhkan keadaan dan akan sulit bersikap positif.

Keyakinan yang kuat bahwa semuanya hanyalah milik Allah SWT akan mempermudah kita dalam usaha bersabar dan berfikir positif dalam menghadapi segala bentuk ujian hidup. Di samping itu, kita juga akan menyadari bahwa memang ujian hidup adalah sebuah ketentuan dari Allah SWT yang pasti terlaksana atas setiap hamba-Nya yang telah mengaku beriman, untuk menguji kebenaran imannya. Dan Allah SWT sendiri juga telah menjanjikan kabar gembira bagi siapapun yang mau bersabar dalam menghadapi setiap ujian yang telah digariskan-Nya tersebut. Di dalam al-Qur’an disebutkan yang artinya:

“Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: ‘Kami telah beriman’, sedang mereka tidak diuji lagi?; Dan sesungguhnya Kami telah menguji orang-orang yang sebelum mereka, maka sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar dan sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang dusta.” (Al-‘Ankabuut: 2-3)

“Dan sungguh akan Kami berikan ujian kepada kalian dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang bersabar; (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan, ‘Innaa lillaahi wa innaa ilaihi raaji’uun’ (sesungguhnya kita adalah milik Allah dan hanya kepada-Nya-lah kita kembali); Mereka itulah yang mendapatkan shalawat dan rahmat dari Tuhan mereka, dan mereka itulah orang-orang yang memperoleh petunjuk.”(Al-Baqarah: 155-157)

Demikianlah janji Allah SWT yang telah disampaikan-Nya kepada kita, bahwa jika kita mau bersabar dalam setiap ujian hidup yang ditetapkan-Nya atas kita, bahkan kita tidak berprasangka buruk kepada-Nya sedikitpun, melainkan menyadari bahwa semuanya hanyalah milik-Nya, dan bukan milik kita sendiri, maka Allah SWT pasti akan memberikan balasan terbaik bagi kita sebagaimana kita telah berprasangka baik kepada-Nya.

Dan tentu sebuah kesabaran itu akan memerlukan latihan dan pembiasaan. Seseorang tak akan bisa merubah kebiasaan mengeluhnya menjadi kebiasaan bersyukur dalam sekejap, melainkan akan butuh latihan dan pembiasaan tersebut. Dan sebagai contoh dari usaha melatih kesabaran dalam diri kita adalah, misalnya, ketika kita sangat kecewa terhadap seseorang karena merasa telah dikelabui olehnya, sedangkan kita tak mampu berbuat apapun untuk menuntut orang tersebut, maka di sinilah kita bisa berusaha untuk belajar bersabar, sambil menyerahkan hakikat urusannya kepada Allah SWT. Karena bagaimanapun juga, seseorang yang telah berusaha memalsukan kebenaran untuk menipu kita, bahkan berusaha menipu Allah SWT, pada dasarnya tak akan pernah menipu siapapun kecuali dirinya sendiri. Seseorang yang menyibukkan diri merekayasa cerita untuk merugikan kita, insyaa’Allaah hanya akan merugi dengan sendirinya, dan akan justru mempertanggungjawabkan semua rekayasanya itu di hadapan Allah SWT, di mana saat itu kita sendirilah yang akan menjadi salah satu saksinya. Jadi, dalam menghadapi permasalahan semacam itu, mungkin akan lebih baik jika kita bersabar saja sambil tetap bersikap tenang, dan tak perlu sering-sering menciptakan ungkapan negatif tentang masalah tersebut yang justru akan menyebabkan keresahan, karena Allah SWT sendiri telah berjanji bahwa kebenaran pasti akan menang pada akhirnya, baik kemenangan tersebut didahulukan di dunia ini, ataupun diakhirkan di akhirat kelak. Sesungguhnya tidak akan pernah ada istilah rugi bagi mereka yang mencari kebenaran dengan penuh kesabaran.

Dan sebagai contoh lainnya juga dari usaha melatih kesabaran tersebut adalah misalnya dengan bersabar menahan prasangka yang sering muncul tanpa terkendali dalam benak kita. Kita tentu ingat bahwa Allah SWT telah melarang kita dari banyak berprasangka, apalagi hingga mengumumkannya tanpa kebenaran. Dan larangan itu pasti telah kita fahami dan kita mengerti dengan baik, bahwa prasangka adalah bibit dosa yang sangat banyak merugikan diri sendiri dan orang lain. Namun kesabaran dalam usaha menjauhi larangan tersebut itulah yang tampaknya tidak cukup mudah. Kita terkadang kurang bersedia untuk bersabar menyimpan prasangka terhadap seseorang, hingga akhirnya menceritakannya di hadapan orang lain, meskipun yang kita prasangkakan tersebut adalah perkara batin, seperti isi hati, niat, dan semacamnya, yang tentunya itu semua adalah perkara gaib yang hanya pemilik hati itu sendiri dan Allah SWT sajalah yang tahu persis. Padahal, kita juga tak pernah diperintahkan untuk mengukur niat dan amal orang lain lalu memberikan pahala sesuai ukurannya, bahkan kita sendiri pun juga tak pernah mampu memberikan pahala atas niat dan amal kita sendiri. Maka dari itu, kita mungkin akan perlu mengingat kembali bahwa perkara batin berupa isi hati, niat, keimanan, ketaqwaan, dan yang semacamnya, sebenarnya hanyalah menjadi wilayah Allah SWT semata. Dan kita tak pernah dibebani perintah untuk menghukumi perkara batin orang lain. Lagipula, jika memang seseorang memiliki niat yang buruk yang disembunyikannya dari kita, pada akhirnya dia pun tak akan mendapatkan balasan apapun melainkan sesuai dengan yang telah diniatkannya itu sendiri. Maka sebaiknyalah kita menjauhi perkara yang telah jelas dibenci oleh Allah SWT tersebut, yaitu banyak berprasangka. Dan jika banyak berprasangka saja telah dibenci oleh Allah SWT, maka terlebih lagi jika sampai mengumumkan prasangka. Dan semoga kita diberi kesabaran dalam usaha menjauhi bentuk dosa semacam itu.

Dan mungkin, beberapa usaha untuk dapat menjauhi sifat banyak berprasangka tersebut adalah di antaranya dengan banyak mengingat nikmat yang telah ada pada diri kita sendiri; menyadari bahwa segala kemampuan, apapun bentuknya, sebenarnya hanyalah milik Allah SWT, dan bukan milik makhluq-Nya; sering melihat keadaan orang lain yang lebih susah dan lebih tidak mampu dari kita; menghilangkan kecenderungan membanding-bandingkan nasib; tidak cenderung tertarik merendahkan orang lain yang lemah; tidak menganggap bahwa orang lain mampu meraih sesuatu dengan kekuatannya sendiri, melainkan meyakini keberhasilan mereka sebagai pemberian dari Allah SWT semata; berusaha untuk turut berbahagia ketika orang lain sedang berbahagia; dan segala bentuk usaha lainnya yang berkaitan dengan upaya melembutkan hati. Dan Insyaa’Allah, jika Allah SWT telah berkehendak memberi kita kemudahan dalam menempuh usaha-usaha tersebut, niscaya kita pun akan selalu hidup tentram dalam keadaan apapun.

Adapun usaha bersabar dalam kaitannya dengan keadaan negara kita yang masih banyak bermasalah karena belum bersyari’at Islam, maka kita bisa bersabar dalam keadaan tersebut dengan cara melaksanakan syari’at Islam semampu kita, sesuai keterbatasan dan pengetahuan kita tentang syari’at itu sendiri. Dan jika memang masing-masing orang beriman di dalam negara kita telah terpanggil untuk mentaati syari’at Islam dalam kapasitas masing-masing, maka niscaya suatu saat nanti syari’at Islam pun akan dapat ditegakkan di negara kita, insyaa’Allaah. Karena sesungguhnya syari’at Islam itu hanya akan mudah terwujud dalam suatu negara jika ia telah terlebih dahulu terwujud dalam diri masing-masing orang beriman di dalam negara itu sendiri. Mungkin akan perlahan dan bertahap, sedikit demi sedikit, namun tentu kita juga ingat bahwa pohon yang kita manfaatkan kayunya saat ini adalah hasil dari menanam bertahun-tahun sebelumnya.

Oleh karena itu, mungkin akan lebih baik jika kita memulai itu semua dengan bersama-sama belajar mengamalkan syari’at dalam lingkup dan kapasitas kita masing-masing; dari kesadaran bersyari’at kita sendiri sesuai keterbatasan kita, kemudian disusul oleh orang lain, lalu menular ke beberapa orang, dan menular lagi ke beberapa orang lainnya, kemudian generasi-generasi selanjutnya, dan demikianlah seterusnya; hingga beberapa tahun kemudian, tanpa terasa pun jalan kemudahan akan semakin lebar bagi tegakkannya syari’at Islam di negara kita, karena penduduknya telah semakin banyak yang menyadari maslahat, kebaikan, serta manfaat dari syari’at Islam itu sendiri. Setidaknya, sebagai usaha awal, kita dapat menjelaskan bahwa sesungguhnya syari’at Islam itu tidak pernah menawarkan kerugian bagi manusia, melainkan justru akan menghindarkan mereka dari kerugian individual maupun sosial. Dan ketika semua orang telah tertarik akan indahnya hukum Allah SWT tersebut, maka sesungguhnya tiada yang tidak mungkin bagi Allah SWT; jika memang Allah SWT berkehendak bahwa syari’at Islam akan tegak di negara kita, maka niscaya ketentuan itu pun tidak akan ada yang dapat menghalanginya.

Dan mungkin di antara usaha yang saat ini terjangkau untuk dapat memulai mewujudkan hal tersebut, yaitu adalah dengan mentaati aturan sederhana yang telah kita ketahui, seperti melengkapi penutup aurat ketika ada keperluan untuk mendatangi tempat-tempat umum. Dan tujuan diperintahkannya kita untuk menutup aurat adalah untuk menghindari potensi negatif yang dapat muncul pada diri orang lain karena keberadaan kita. Adapun ketika kita telah berusaha mentaati syari’at dengan usaha menutup aurat di tempat yang harus kita kunjungi, namun ternyata orang lain masih merasa terganggu, maka pada dasarnya itu sudah bukan menjadi tanggung jawab kita lagi, melainkan tanggung jawab batin mereka masing-masing. Karena syari’at Islam itu memerintahkan pelaksanaan sesuatu yang sifatnya dzahir justru untuk menghindari munculnya bahaya batin, yang mana dapat berakibat bahaya dzahir yang lebih besar. Dan syari’at tidak sampai mampu mengendalikan urusan batin dari para pelaksana syari’at itu sendiri, melainkan mereka sendirilah yang bertanggung jawab atas urusan batin mereka masing-masing. Sebagaimana misal lainnya, bahwa shalat fardhu berjama’ah tentu adalah sebuah ritual di mana seorang pelaksananya akan pasti dapat disaksikan oleh orang lain yang ikut berjama’ah juga, dan akan justru tidak mungkin jika dia harus melaksanakannya dengan cara menyendiri atau menghindar dari penglihatan orang lain, hanya karena berusaha menjaga perkara batin orang lain. Oleh karena itu, mungkin kita akan lebih selamat jika menghindari tuduhan-tuduhan atas perkara batin yang mana hanya Allah SWT sajalah yang lebih berhak menilainya.

Dan inti dari semua itu adalah agar kita bersabar dalam usaha menghindari perkara-perkara yang merugikan, baik yang merugikan bagi diri sendiri ataupun orang lain. Dan dengan semakin berkurangnya perkara-perkara yang merugikan tersebut, maka niscaya apa yang kita cita-citakan berupa perdamaian di bawah naungan hukum Allah SWT pun akan dapat terwujud suatu saat nanti, insyaa’Allaah. Adapun dalam keadaan di mana kita dihadapkan oleh hanya dua buah pilihan perkara yang sama-sama mengandung kerugian, yang mana perkara tersebut tidak mungkin dihindari demi sebuah maslahat yang lebih besar, maka kita bisa memilih salah satu yang mengandung kerugian lebih sedikit. Karena menempuh kerugian yang lebih ringan demi menghindari kerugian yang lebih besar itu terkadang memang diperlukan dalam perkara tertentu.

Demikianlah. Dan semoga Allah SWT menganugerahi kita kesabaran dalam segala keadaan, kesabaran dalam usaha mentaati-Nya dan mentaati Rasul-Nya, sesuai kemampuan dan keterbatasan kita masing-masing. Setiap orang dari kita harus mengetahui kelemahannya masing-masing, dan tak perlu ragu untuk mengakuinya, karena justru di situlah titik di mana orang lain akan dapat berperan untuk mengisi dan melengkapi. Seorang pengusaha tulen tentu tak akan mampu mengerjakan tugas seorang petani tulen, begitu juga sebaliknya. Semuanya memiliki kapasitas dan kecenderungan masing-masing yang berbeda, yang justru itulah bentuk keindahan rencana Allah SWT dalam mengatur dan membagikan rahmat-Nya di antara ummat manusia. Kita tak perlu memaksa orang lain untuk menjadi seperti diri kita, melainkan cukup saling menyemangati untuk menjadi diri masing-masing yang lebih baik. Setiap orang hanya diharuskan untuk bersabar dalam menjalankan peran dan fungsinya, selama bukan peran dan fungsi yang melanggar aturan Allah SWT. Yang turun di medan perang tetap dapat berperang dalam keadaannya masing-masing, dan yang mempelajari agama Allah SWT juga tetap dapat mempelajarinya dengan cara masing-masing. Ukuran keberhasilan orang-orang yang beriman tak pernah wajib berhubungan dengan sesuatu yang bersifat materi dan kasat mata, melainkan hanya Allah SWT sajalah yang lebih tahu tentang keberhasilan mereka, karena hanya Dia sendirilah yang lebih tahu kepada siapa saja ridha-Nya Dia anugerahkan.

Dan sesungguhnya, tiada manusia yang benar-benar mampu menjaga dirinya sendiri dari keburukan, baik keburukan dzahir maupun batin, keburukan sikap maupun niat. Kita hanya bisa berlindung kepada Allah SWT dalam segala keadaan kita, dan selamanya tak pernah mampu berlindung kepada diri kita sendiri. Maka semoga Allah SWT berkenan untuk senantiasa menjaga hati kita dari keburukan batin, semenjak kita sendiri tak pernah benar-benar mampu menjaga hati kita sendiri. Hanya kepada Allah SWT sajalah kita berserah diri dan bertawakkal. Dan hanya Dialah yang mampu mendatangkan kesabaran dalam diri kita. Sesungguhnya hanya dari dan milik-Nya sajalah segala kebenaran, hidayah dan taufiq.

 

Wallaahu a’lam.

Ikuti update terbaru di Channel Telegram Eramuslim. Klik di Sini!!!

loading...

Baca Juga

Jadilah ‘Buah Utrujah’

Jumat, 04/04/2014 08:43

Iman akan Kembali Ke Madinah

Rabu, 12/03/2014 09:09

Tazkiyatu an Nufus

Jumat, 28/02/2014 07:53

Manfaat Umur Panjang…

Selasa, 18/02/2014 10:14

Hidup Bahagia

Minggu, 02/02/2014 09:53

Tafakur Lainnya

Trending