Senin, 10 Jumadil Awwal 1444 H / 5 Desember 2022

Percaya Diri dalam Dakwah

Assalamu’alaikum wr. wb.

Ustadz Ahmad Yani yang saya hormati. Belum lama ini, ketika berkunjung ke sebuah masjid, saya disambut sekelompok orang yang mengenakan gamis dan sorban. Mereka begitu simpatik. Saya yakin, mereka bukan penduduk asli sekitar masjid.

Menariknya, mereka begitu percaya diri menyampaikan salam ke tiap pengunjung, mengisi ceramah selepas shalat wajib, dan menyediakan tanya jawab. Saya dan pengunjung lain begitu tertarik.

Pertanyaan saya, apa kelebihan mereka sehingga bisa begitu percaya diri? Hal-hal apa yang bisa ditiru dari mereka agar dakwah kita bisa lebih lancar dan berhasil?

Jawaban

Wa’alaikumussalam wr. wb.

Secara harfiyah, dakwah berasal dari kata da’a, yad’u, da’watan yang artinya panggilan, seruan atau ajakan. Maksudnya adalah mengajak dan menyeru manusia agar mengakui Allah Swt sebagai Tuhan yang benar lalu menjalani kehidupan sesuai dengan ketentuan-ketentuan-Nya yang tertuang dalam Al-Qur’an dan sunnah.

Pentingnya Dakwah

Dalam kehidupan masyarakat, khususnya kehidupan umat Islam, dakwah memiliki kedudukan yang sangat penting. Dengan dakwah, bisa disampaikan dan dijelaskan ajaran Islam kepada masyarakat sehingga mereka menjadi tahu mana yang haq dan mana yang bathil.

Bahkan dakwah yang baik bukan hanya membuat masyarakat memahami yang haq dan bathil itu, tapi juga memiliki keberpihakan kepada segala bentuk yang haq dengan segala konsekuensinya dan membenci yang bathil sehingga selalu berusaha menghancurkan kebathilan.

Manakala hal ini sudah terwujud, maka kehidupan yang hasanah (baik) di dunia dan akhirat akan dapat dicapai.

Kewajiban Dakwah

Karena dakwah memiliki kedudukan yang sangat penting, maka secara hukum dakwah menjadi kewajiban yang harus diemban oleh setiap muslim.

Karena itu bila antum tanyakan apa kelebihan mereka yang berdakwah dari masjid ke masjid mungkin bukan karena ilmu yang mereka miliki sudah begitu banyak, juga belum tentu karena kepandaian mereka yang baik dalam menyampaikan ceramah, tapi lebih karena rasa tanggungjawab dakwah yang besar.

Merasa memiliki tanggungjawab itulah yang membuat seseorang memiliki rasa percaya diri yang tinggi. Adapun kelemahan dari sisi ilmu, kemampuan menyampaikan pesan dakwah bahkan kepribadian yang belum sempurna akan diusahakan dalam perkembangan selanjutnya, orang bilang akan ditambah sambil jalan.

Mempersiapkan Potensi Dakwah

Oleh karena itu, wajibnya berdakwah sudah kita pahami, apalagi ia menjadi sesuatu yang amat dinanti oleh masyarakat. Tinggal persoalannya maukah kita melaksanakan tugas dakwah. Bila mau, potensi diri yang sudah ada pada setiap kita akan kita kembangkan dengan sebaik-baiknya.

Mereka yang telah dan terus berdakwah dari masjid ke masjid bukanlah tanpa kekurangan, ada orang yang yang bersimpati seperti antum namun ada juga yang antipati dan mereka pun terusir dari suatu masjid, namun karena merasa bertanggungjawab terhadap dakwah, “lahan dakwah” yang lain masih banyak yang harus digarap.

Bagi kita, banyak sekali orang yang harus dibina, namun terus terang kita masih kekurangan pembina, apalagi pembina yang berkualitas bagi dari aspek kepribadian, wawasan maupun kemampuan dakwah.

Rumusan Dakwah

Hal-hal yang harus kita tiru dari mereka dan ini mereka ada dalam rumusan dakwah yang kita pahami antara lain:

1. Niat yang ikhlas karena Allah SWT

Sehingga meskipun dakwah yang harus dilaksanakan itu berat karena beberapa hari harus meninggalkan anak dan isteri serta kesibukan mencari nafkah, tugas dakwah tetap akan dirasakan sebagai sesuatu yang ringan dan menyenangkan.

Ada honor atau tidak ada honor dakwah jalan terus, karenanya sesuatu yang naif bila dalam dakwah ada da’i-da’i yang pasang tarif bahkan tarif tinggi serta fasilitas penginapan yang standar bila berada di suatu daerah.

Keikhlasan seperti inilah yang membuat dakwah cepat tersebar luas ke berbagai wilayah di dunia, begitulah yang dicontohkan oleh sahabat Muadz bin Jabal yang berdakwah ke Yaman, sahabat Mush’ab bin Umair yang berdakwah ke Yatsrib yang kemudian menjadi Madinah, sahabat Ja’far bin Abi Thalib yang berdakwah ke Habasyah di Afrika dan sebagainya.

2. Amal jama’i atau kerjasama

sehingga tugas dakwah yang berat itu bisa dipikul bersama sehingga bisa saling meringankan, bukan malah saling memberatkan. Ini pula yang membuat dakwah itu tidak tergantung orang lain, tapi ditanggulangi bersama.

Dalam amal jama’i diperlukan dua unsur utama, yaitu qiyadah atau pemimpin yang ikhlas sehingga ia akan selalu mengarahkan perjalanan jamaah kepada jalan dakwah yang benar dan ia tidak akan menyelewengkan jamaah untuk tujuan yang justeru bertentangan dengan dakwah.

Di samping itu unsur lainnya adalah jundiyah, pasukan, prajurit atau anggota yang taat, mereka mau taat kepada pemimpin ketika pemimpinnya ikhlas.

Karenanya bila ada jundiyah yang tidak taat, salah satu yang harus dikoreksi oleh seorang pemimpin adalah apakah ia masih ikhlas atau sudah ternodai keikhlasannya itu.

Penutup

Manakala dakwah bisa kita tunaikan dengan sebaik-baiknya, di antara keutamaan yang akan kita peroleh adalah pahala yang amat besar sebagaimana yang disabdakan oleh Rasulullah saw:

Barangsiapa yang menunjukkan pada suatu kebaikan, maka baginya seperti pahala orang yang mengerjakannya. (HR. Ahmad, Muslim, Abu Daud dan Tirmudzi).

Demikian jawaban singkat pengasuh, semoga bermanfaat bagi kita bersama, amien.

Ikuti update terbaru di Channel Telegram Eramuslim. Klik di Sini!!!

loading...

Baca Juga

Menjaga Energi Dakwah

Senin, 05/05/2014 09:10

Mengaktifkan Pengurus Masjid

Selasa, 10/02/2009 12:52

Kedudukan Pengurus Masjid

Jumat, 06/02/2009 15:08

Dakwah dan Ruqyah

Kamis, 18/12/2008 16:20

Jamaah Sedikit

Rabu, 03/12/2008 10:03

Jumlah dan Mutu Khatib

Kamis, 27/11/2008 16:00

Dakwah Non Formal

Senin, 10/11/2008 16:18

Konsultasi Dakwah Lainnya

Trending