Rabu, 12 Jumadil Awwal 1444 H / 7 Desember 2022

Ayah yang Berpoligami

Sebenarnya sejak 4 tahun yang lalu, saya sudah mencurigai kalau ayah saya punya wanita lain. Namun saya tidak menduga kalau ternyata dia memiliki anak dari wanita itu. Masalah ini hanya diketahui saya dan kakak saya, sedangkan ibu saya tidak mengetahuinya. Ayah saya seorang diktator dan sangat emosional sedangkan ibu saya seorang wanita yang tidak pernah menuntut namun keras kepala.

Kekurangan ibu saya adalah dia tidak bisa merawat dirinya, sedangkan ayah saya bisa dibilang laki-laki yang metropolis. Pernikahan mereka sudah hampir 27 tahun, dan memang masalah yang berkaitan dengan orang ketiga sering terjadi dalam keluarga kami. Selalu saja ada orang yang meneror ke rumah yang sering membuat orang tua saya menjadi bertengkar tapi akhirnya ibu selalu bisa memaafkan. Namun untuk masalah ini ibu saya tidak mengetahuinya dan beliau juga berpikir bahwa ayah saya tidak akan lagi mencari wanita lain karena sekarang mereka sudah punya cucu jadi tidak mungkin ayah saya berbuat yang macam-macam.

Entah kenapa beberapa tahun terakhir ini emosi ayah saya semakin labil dan sering berkata kasar kepada ibu saya. Mungkin saja hal tersebut terjai karena pekerjaannya di kantor atau mungkin juga karena wanita itu, saya juga bungung.

Sekarang apa yang harus saya lakukan, haruskah saya berterus terang kepada ibu saya tentang masalah ini? Kira-kira jalan terbaik apa yang harus saya lakukan? Haruskah saya menuntut kepada ayah untuk meninggalkan isteri dan anaknya itu?

Assalamu’alaikum wr. wb.

Mba Zahra yang baik,

Sedih ya mba jika orangtua kehidupannya tidak harmonis.Sebagai anak tentu saja kita merasa tidak nyaman jika melihat mereka sering bertengkar apalagi ketika tahu bahwa salah satunya tersakiti dan teraniaya. Dalam kondisi demikian tentu jiwa sayang sebagai anak ingin ikut terlibat agar dapat membuat keadaan menjadi lebih baik. Namun tentunya keraguan mbak rasakan juga karena kekhawatiran salah dalam melangkah.

Memang sebagai anak posisi mbak sulit jadi wajar jika mbak merasa bingung atas apa yang seharusnya dilakukan. Disatu sisi mengetahui rahasia ayah namun disisi lain tidak tahu apakah benar jika harus memberitahukan kepada ibu. Namun yang perlu dipahami adalah dalam menghadapi konflik dalam rumah tangga memang perlu berhati-hati. Karena keterlibatan orang lain dalam pertikaian antara suami isteri mungkin bisa menjadi air yang menyejukkan tapi sebaliknya juga bisa jadi bensin yang makin mengobarkan api yang sedang berkecamuk.

Sebagaimana yang mbak pahami permasalahan antara ayah dan ibu tentu terjadi dengan peranan masing-masing pihak didalamnya. Jadi jika menghendaki menjadi penengah di antara mereka maka sebaiknya dimulai dengan saling memahami keduanya dan tidak langsung menjatuhkan vonis bersalah pada salah satunya. Meskipun dalam hal ini mungkin mbak melihat ayah lebih banyak kekhilafannya. Hanya ketika memulai sesuatu dengan mengungkit kesalahan orang lain maka sifat dasar manusia untuk selalu menolak dan mempertahankan diri dan hal itu akan membuatnya jadi menutup diri dan justru jauh dari keluarganya.

Saya rasa mbak sudah cukup dewasa untuk bisa menjadi anak yang mampu untuk mengendalikan diri dan emosi. Cobalah untuk berbicara dari hati ke hati dengan ayah dan ungkapkan perasaan mbak atas perubahan yang ada dalam diri ayah. Tawarkan kemungkinan yang bisa mbak lakukan untuk membantu ayah agar dapat keluar dari permasalahannya. Begitupula dengan ibu dukunglah ia secara moral dengan bersikap empati dan memahami penderitaan yang dirasakannya. Setelahnya dukung mereka untuk menyelesaikan masalah ketidakharmonisan di antara keduanya.

Saran saya jika ayah dan ibu kesulitan untuk memecahkan konflik antara mereka maka tawarkan kemungkinan melibatkan pihak ketiga yang ahli dibidangnya, seperti menemui konselor pernikahan yang dapat membantu mereka memetakan masalah dan membuat mereka dapat mengurai benang kusut permasalahan yang terjadi selama bertahun-tahun. Umumnya perselingkuhanpun terjadi karena ada permasalahan dasar dalam rumah tangga yang tak selesai dan dibiarkan berlarut-larut.

Sebagai anak mbak pun bisa terlibat dalam terapi keluarga sehingga semuanya dapat berperan dalam upaya perbaikan ini. Pernikahan ayah dan ibu yang berlangsung selama 27 tahun merupakan prestasi tersendiri karenanya insya Allah besar peluang mereka untuk bisa memperbaiki situasi sekarang dan tetap menjaga keutuhannya. Selamat berjuang dan jangan lupa untuk senantiasa berdua untuk keduanya. Wallahu’alambishshawab.

Wassalammu’alaikum wr. wb.

Rr Anita W.

Ikuti update terbaru di Channel Telegram Eramuslim. Klik di Sini!!!

loading...

Baca Juga

Belum Bisa Melupakan

Kamis, 15/02/2007 10:45

Prasangka Buruk terhadap Suami

Rabu, 14/02/2007 14:59

Keluarga Broken Home

Kamis, 08/02/2007 13:55

Nafkah Bagi Anak-Anak

Rabu, 07/02/2007 17:09

Dampak Psikologis Bagi Anak

Senin, 05/02/2007 07:17

Menikah Secara Tidak Jujur

Kamis, 01/02/2007 07:25

Menikah Secara Tidak Jujur

Kamis, 01/02/2007 07:25

Konsultasi Keluarga Lainnya

Trending