Senin, 10 Jumadil Awwal 1444 H / 5 Desember 2022

Ayah Over Protektif

Asalamualaikum wr. wb.,

Saya seorang mahasiswi semester 1 dan anak tunggal, saya mempunyai masalah, terkadang ayah lebih suka melarang ketika saya pergi atau melarang kegiatan yang tidak bermanfaat bagi saya menurut ayah saya. Namun mama membolehkan hal-hal tersebut.

Pertanyaan saya, apa yang harus saya lakukan ketika dalam kebimbangan seperti ini. Apakah saya harus mengikuti ayah atau mama yang mengizinkan saya ?

Tolong saran dari ibu, terima kasih sebelumnya,

Wasalammualaikum wr. wb.

Wa’alaikumussalam warahmatullahi wa barakatuh

Sdri Hamba Allah yang dirahmati Allah,

Dapat dipahami bahwa sebagai remaja Anda merasa perlakuan Ayah berlebihan. Memang wajar Anda merasa bingung terhadap perlakuan Ayah dan Ibu yang berbeda, apalagi sekarang Anda bukan lagi anak kecil yang hanya tergantung kemauan keluarga. Kebutuhan Anda untuk mencari lingkungan lain di luar keluarga sudah mulai muncul. Anda punya kebutuhan lebih mandiri. Oleh karena itu larangan Ayah terhadap beberapa kegiatan Anda tentu tidak nyaman.

Sdri Hamba Allah yang dirahmati Allah,

Pergaulan dan kegiatan Anda di luar rumah tentunya bertujuan, bukan? Anda sedang berproses untuk mematangkan kepribadian melalui interaksi dengan lingkungan. Interaksi yang dinamis antara Anda dan lingkungan akan turut mewarnai bagaimana kepribadian Anda suatu saat terbentuk. Jika lingkungan kondusif tentunya dapat berpengaruh positif terhadap kepribadian Anda, namun jika lingkungan tidak kondusif, dapat mewarnai kepribadian yang negatif . Saat ini kepribadian Anda belum selesai atau belum final menuju pematangan, oleh karena itu inilah saatnya menggoreskan warna seperti apa yang Anda pilih. Oleh karena itu Anda perlu selektif memilih lingkungan. Mungkin inilah yang dikehendaki Ayah Anda agar Anda tetap dalam lingkungan maupun kegiatan yang kondusif. Nampaknya ada perbedaan persepsi antara Anda dan Ayah, Antara Ayah dan Ibu, hal yang Anda dan Ibu anggap positif mungkin dipandang negatif oleh Ayah atau sebaliknya, jadi belum ada kesamaan persepsi. Komunikasi yang tepat akan menjembatani perbedaan tersebut, seperti dengan menjelaskan tujuan dari kegiatan-kegiatan Anda. Selain itu sudahkah ada aturan dan komitmen yang jelas, seperti kriteria teman, kapan Anda harus kembali ke rumah, dsb.

Sdri yang shalihat, Anda adalah anak tunggal, dapat dimengerti jika ada rasa sayang yang lebih pada Anda, namun negatifnya bisa menjadi tindakan protektif yang tidak perlu. Kenalilah kegiatan apa saja yang dikhawatirkan Ayah, mungkin Ayah mempunyai alasan jadi dengarkanlah alasannya. Jadikan mau mendengar, berempati dan didengar ini menjadi kebiasaan yang baik dalam keluarga. Semoga dengan keterbukaan, akan dapat ditemukan kebutuhan masing-masing pihak. Tunjukkan bahwa Anda konsekuen dengan keputusan Anda berkegiatan, dengan berprestasi dalam kegiatan-kegiatan tersebut; sesekali kenalkan atau bawa ke rumah teman-teman Anda agar Ayah berkenalan dengan mereka, dengan begitu Ayah akan lebih nyaman dan memahami seperti apa lingkungan Anda. Jadilah anak yang lebih sholihah, lebih berbakti, jangan hanya sibuk dengan kegiatan di luar dan kurang memberi waktu bagi orangtua bercengkerama dengan Anda yang notabene adalah putri satu-satunya. Teriring do’a semoga Allah swt memberi solusi terbaik.

Wallahu a’lam bish-shawab

Wassalamu’alaikum warahmatullahi wa barakatuh

Bu Urba

Ikuti update terbaru di Channel Telegram Eramuslim. Klik di Sini!!!

loading...

Rekomendasi

Renovasi Rumah Untuk Foto Studio

Sabtu, 15/12/2012 07:12

Nada Dering Al-Quran

Rabu, 18/03/2009 10:38

Menyambut Idul Fitri

Rabu, 08/09/2010 09:45

Susahnya Menjawab Pertanyaan Anak

Jumat, 20/08/2010 07:07

Dan Ramadhan Pun Berwasiat

Minggu, 22/10/2006 14:15

Kemana Rasa Syukur Mereka?

Sabtu, 17/10/2009 07:55

Baca Juga

Aku Mencintai Calon Istri Orang

Kamis, 28/01/2010 08:42

Tidak Mau Dinikahi Setelah Berzina

Sabtu, 16/01/2010 08:14

Adanya Pihak Ketiga

Sabtu, 16/01/2010 08:06

Cara Mendidik Anak Belajar

Senin, 04/01/2010 12:13

Konsultasi Keluarga Lainnya

Trending