Selasa, 10 Muharram 1444 H / 9 Agustus 2022

Jenuh Merawat mertua, Ingin Pindah Rumah

Ibu Siti Yang saya hormati,

Saya wanita sudah menikah selama 4 th tapi belum dikarunia anak. Saya tinggal bersama suami dan ibu mertua, Mertua saya sudah 75th dan sudah tidak bisa apa-apa, makan dan mandi dilayani oleh saya.

Rumah saya dan rumah kakak serta adik suami saya bersebelahan yah boleh dibilang satu atap.

Saya jenuh dengan rumah tangga yang harus ada pihak ke-3, saya pernah mengutarakan kpd suami saya untuk kita pindah tinggal berdua membina Rt sendiri tapi dia menolak dengan alasan ibunya sendiri tidak ada yang urus.

Kalo dipikir kenapa harus suami saya yang mengurus ibunya kan ada adik dan kakak perempuannya.

Selain itu bu saya stress tinggal dirumah itu bukan cuma mengurus orangtuanya tapi juga karena kakak dan adiknya menjadi benalu, mereka selalu ikut campu dengan rumah tangga kami, dan suami saya membiarkan hal itu, padahal mereka sudah punya keluarga masing-masing.

Saya bukan pelit dengan keluarga suami cuma memberi kan ada batasnya bu, masa dari bujangan sampai menikah harus trus menanggung beban keluarga, sementara anak-anak (saudara) yang lain yang mampu dari segi keuangan semua lepas tangan.

Setiap ada keluarga yang membutuhkan pertolongan uang minta kepada suami saya dan suami saya tidak pernah menolak meskipun tidak ada pasti diusahakan. Alasan dia kalo bukan dia siapa lagi yang mau tolong.

Saya kasihan sama suami saya bu, pernah ada yang bilang untuk kita tinggal berdua aja siapa tau bisa punya anak, karena menurut mereka kita berdua stress sehingga belum juga punya anak, tapi ya itu bu lagi-lagi suami menolak dengan alasan ibunya.

saya bingung bu bagaimana caranya agar suami mau pindah untuk tinggal berdua saja?

karena kejenuhan saya dengan campur tangan pihak ke 3 saya jadi selingkuh dan bahkan bertekad untuk cerai, tapi hal itu tidak saya lakukan dan sekarang saya sudah putus dari selikuhan saya.

Sekian dari saya, terimakasih saya ucapkan sebelumnya

Wassalamu’alaikum warahmatullahi wa barakatuh,
Ibu RI yang dirahmati Allah,
Anda sedang diberi beberapa ujian sekaligus oleh Allah swt, yang berarti Anda akan mendapat nilai dari mata ujian tersebut sekaligus, ….bukankah ini kesempatan yang langka? tapi apakah nilai tersebut akan baik atau buruk, semua tergantung Anda dalam proses menghadapi ujian tersebut. Mata ujian pertama adalah kesabaran menghadapi keluarga suami, mata ujian kedua adalah kesabaran karena belum diberi momongan, berikutnya adalah kesabaran untuk menjadi istri yang setia.

Ibu RI yang dirahmati Allah,
Perlu diketahui bahwa seorang Ibu, apalagi yang sudah renta masih tetap mempunyai hak terhadap anak laki-lakinya, sekalipun sudah berkeluarga. Jadi sebagai menantu Anda haruslah memahami akan kondisi ini. Subhanallah jika Anda sudah melayaninya selama ini, makan dan mandi Anda yang melayani. Insya Allah ini akan menjadi ibadah pada Allah, yang bermanfaat di hari akherat kelak. Kondisi Ibu mirip seperti yang saya alami sendiri, tanpa bermaksud menyombongkan diri, karena saya juga merawat mertua yang sudah renta sudah bertahun- tahun, padahal saudara-saudara suami juga masih ada; dan pernah mengalami saat-saat sulit seperti yang Anda alami. Karena sakit-sakitan, entah sudah berapa biaya dan lainnya kami lakukan. Namun alhamdulillah,…… dengan pertolongan-Nya, ibu mertua yang dulu sangat bergantung ternyata semakin sehat dan berubah sikap lebih baik. Kami merasa bahwa kemudahan- dan ni’mat Allah yang lain adalah karena keikhlasan kami dalam merawat mertua. Mungkin Allah masih menunda satu keni’matan tapi memberi dalam bentuk lain. Peran ketabahan akhirnya membuahkan hasil.

” Dan kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu- bapanya; ibunya Telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah- tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun[bersyukurlah kepadaku dan kepada dua orang ibu bapakmu, Hanya kepada-Kulah kembalimu. Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan dengan Aku sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, Maka janganlah kamu mengikuti keduanya, dan pergaulilah keduanya di dunia dengan baik, dan ikutilah jalan orang yang kembali kepada-Ku, Kemudian Hanya kepada-Kulah kembalimu, Maka Kuberitakan kepadamu apa yang Telah kamu kerjakan." (Al Qur’an surat Luqman ayat 14-15)

” Dan Tuhanmu Telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, Maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan "ah" dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia”.
”Dan rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua dengan penuh kesayangan dan ucapkanlah: "Wahai Tuhanku, kasihilah mereka keduanya, sebagaimana mereka berdua Telah mendidik Aku waktu kecil".
(AQ surat Al Israa’ 23-24).

Ibu RI, Andapun diuji dengan ditundanya momongan, manusia wajib ikhtiar, namun hasilnya kita serahkan pada Allah swt. Justru hikmah yang bisa dipetik adalah, Anda bisa beribadah dengan cara yang lain, yakni merawat mertua. Mungkin saja rizki Anda selama ini adalah dari Allah karena perbuatan baik yang Anda berdua lakukan kepada orang tua, kepada saudara-saudara lain. Ibu RI, sebenarnya keluarga, anak, harta dunia…semua itu hanyalah fitnah atau ujian bagi manusia. Goal yang ingin dicapai adalah tercapainya manusia yang bertaqwa. Bersyukurlah diberi kesempatan mendapat pahala, saya yakin suami juga merasakan perasaan yang sama, yakni ingin sekali punya keturunan. Namun bukankah dia masih bersabar, tidak ingin poligami, misalnya bahkan juga tidak berselingkuh. Ibu, bersyukurlah punya suami yang baik, setia pada keluarga. Jangan kekecewaan Anda pada keadaan Anda sikapi dengan coping/ penyelesaian masalah yang tidak adaptive, seperti perselingkuhan. Tapi alhamdulillah Anda kini sudah sadar. Semoga kesadaran ini diikuti oleh datangnya rahmat dari Allah swt, kemudahan dalam merawat mertua.

Ibu RI yang dirahmati Allah,
Komunikasikan pada suami jika suatu waktu, sebagai manusia, Anda merasa jenuh, capai, dan lainnya, ini adalah perasaan yang perlu mendapat penyaluran. Anda perlu merawat motivasi Anda kembali jika suatu waktu turun. Sesekali refreshing akan membuat Anda merasa lapang, juga asupan ruhani sangat penting dengan hadir pada pengajian ibu-ibu, misalnya, mendengarkan kaset murottal, sehingga hati Anda merasa sejuk. Bicaralah pada suami agar saudara-saudara yang lain juga berlomba-lomba mencari pahala, dengan merawat ibunya, secara bergantian dan saling membantu. Semoga dengan komunikasi yang baik, suami akan mendengarkan apa keinginan Anda.

Sekian Ibu, salam hangat dan semoga hati Anda senantiasa lapang dan diberi ketabahan. Amin.
Wallahu a’lam bisshawab,
Wassalamu’alaikum warahmatullahi wa barakatuhu
Bu Urba

Ikuti update terbaru di Channel Telegram Eramuslim. Klik di Sini!!!

loading...

Rekomendasi

Satu Pelajaran Lagi!

Rabu, 02/04/2008 04:39

Mustahiq Terbaik

Rabu, 24/09/2008 12:49

Bermasalah dengan Ibu Mertua

Kamis, 11/01/2007 09:26

Upah Mengajar al-Quran

Kamis, 07/05/2009 14:37

Manusia Boleh Berencana

Selasa, 06/04/2010 13:30

Baca Juga

Suami Selalu Bekerja Diluar Negeri

Senin, 29/12/2008 08:34

Apa Yang Difikirkan Suami ???

Kamis, 25/12/2008 11:29

Menyikapi Sifat dan Sikap Isteri

Jumat, 12/12/2008 07:56

Konsultasi Keluarga Lainnya

Trending