Rabu, 18 Muharram 1444 H / 17 Agustus 2022

Isteri Pemarah dan Pencemburu

Assalamu’alaikum Wr. Wb.

Tiga tahun yang lalu kami menikah. Dan saya pribadi mempunyai komit, bahwa isteri adalah segalanya. Saya ingin menjadi suami yang tidak seperti umumnya. Saya ingin kemanapun saya pergi, berusaha untuk mengajak isteri, apapun yang saya lakukan harus seizin isteri, semua keuangan saya serahkan ke isteri.

Selama tiga tahun tersebut bahkan bisa dikatakan saya belum pernah keluar untuk keperluan sendiri tanpa didampingi isteri, bahkan dalam pekerjaan pun jika memugkinkan saya pasti mengajak isteri, dompet pun saya tidak punya. Pokoknya semua untuk isteri. Semua itu saya lakukan dengan ihlas tanpa keterpaksaan tanpa disuruh isteri, orang tua, mertua atau siapapun. Dengan tujuan keluarga sakinah, hanya ridlo Allah.

Tetapi, kenyataannya beda. Sejak awal menikah ternyata isteri punya satu sifat yang baru muncul yaitu pencemburu dan pemarah (waktu itu pemarahnya bukan ngomel-ngomel, tapi diam dan menunjukkan wajah emosi).

Sehari setelah menikah saat saya menggunakan HP untuk main game dan saya download game baru lalu saya tunjukkan ke adik laki laki saya (kelas 2 SMP[MTS]), itulah saat pertama kali dia cemberut karena dia tidak terima kalau diberikan ke adik saya duluan.

Beberapa jam kemudian kami duduk sekeluarga (Ayah, Ibu, adik laki dan adik perempuan dan tentu saya dan isteri. Posisi duduk saya adalah berhadap hadapan dengan isteri dengan tujuan supaya mudah bicara tapi di samping saya itu adik perempuan, dia juga cemberut lagi, akhirnya saya pindah ke sampingnya.

Pernah juga saat adik laki laki saya minta diajari komputer, tiba tiba dia menghilang dan mau pulang ke rumah asalnya, katanya dia tidak terima kalau saya mengajari adik saya. Pernah juga saya menjemput adik kuliah, dia juga tidak terima. Nah semua hal itu terjadi dengan alasan karena saya memang belum bekerja dan belum punya rumah sendiri.

Tetapi, akhirnya yah saya banyak bersabar saja (tapi selama 3 bulan, selanjutnya setiap dia emosi pasti saya tanggapi dengan emosi juga). Setahun kemudian saya sudah bekerja mengajar di sebuah MAN (SMA). Dua bulan kami kos, kemudian kontrak rumah sampai sekrang. Tapi dia tetap saja pencemburu dan mudah marah. Padahal dulu katanya gara gara belum punya rumah, tapi saya sudah menuruti keinginannya tetap saja dia emosi lalu katanya gara gara belum punya sepeda motor.

Nah, Idul fitri kemarin, alhamdulillah saya sudah membeli sepeda. Tapi janjinya untuk tidak mudah cemburu dan emosi tidak pernah dijalankan. Bahkan bisa dikatakan semakin menjadi-jadi, sekarang alasannya karena belum punya anak. Lalu saya harus bagaimana? Haruskan saya bersabar untuk menghadapinya? Jika ada siswa perempuan yang menyapa, dia pasti emosi dan menuduh saya selingkuh, jika ada teman guru perempuan yang menyapa dia marah saya dianggap berzina, bahkan teman laki-laki pun saya tidak boleh, alasannya karena nanti bisa diajak selingkuh oleh teman tersebut.

Yang jelas setiap yang saya lakukan ketika sudah dengan orang lain baik laki laki, perempuan, saudara (kandung/jauh) saya selalu dianggap selingkuh. Sehingga bisa dikatakan selama saya menikah saya jadi jauh dari keluarga bahkan temanpun sudah tidak pernah ketemu satupun.

Saya sudah mencoba mengajak isteri musywarah, biasanya cuma diam saja, tapi seminggu kemudian kembali lagi sifatnya. Saya mengajaknya untuk musyawarah dengan temannya, sudaranya, supaya bisa menemukan titik temu, tapi dia tidak mau dengan alasan malu.

Nah yang aneh lagi, dia sering marah dengan apa yang saya lakukan tetapi kalau perbuatan tersebut ia lakukan dengan keluarganya atau temannya saya tidak boleh marah.Ini yang saya anggap tidak adil.

Mohon bantunnya, maaf kalau cerita saya ini kurang lengkap dan membingungkan. Maklum tadi malam kami bertengkar lagi bahkan dia memukul-mukul saya dengan keyboard membanting banting. Saya sudah bingung saya tidak tahu ini salah siapa, apa memang saya yang kurang, atau saya harus bagaimana.

Sebagai tambahan kami menikah atas dasar keinginan sendiri dan kami berdua berasal dari keluarga yang beragama. Kami juga taat pada Allah. Sebelum menikah kami tidak pacaran tapi sudah saling kenal selama 1 tahun. Selain itu semua kami juga dikenal sebagai suami isteri yang harmonis, memang jika bertengkar kami juga masih diam diam. Sebenarnya saya maupun isteri juga sama sama perhatian.

Masalahnya adalah, isteri tidak terima jika saya melakukan apapun yang tujuannya orang lain. Maaf sekali lagi mohon bantunnya jika kurang faham anda bisa kirim email langsung ke saya. Sebagai tambahan insya Allah isteri belum tahu kalau saya konsultasi ke Eramuslim. Mungkin dia akan marah lagi karena saya membuka aib dan konsultasi ke seorang wanita. Tapi saya sudah tidak perduli, yang saya inginkan sekarang adalah solusi menghadapi isteri.

Seperti itu terima kasih, afwan

Wassalamu’alaikum wr. Wb.

Assalammu’alaikum wr. wb.

Bapak Ahmad yang penyabar,

Wah, serba salah juga ya pak jika setiap perilaku kita menyulut emosi dan kecemburuan pasangan. Bisa dibayangkan tertekannya bapak, karena hal itu tentu dapat membuat bapak jadi merasa terkekang, bahkan membuat diri bapak jadi jauh dari keluarga dan lingkungan sosial. Dalam sebuah rumah tangga ketika ada orang yang merasa dirinya selalu pada posisi dirugikan (mengalah) tentu saja tidak sehat. Lama kelamaan hal itu dapat mengikis jiwa dan menjadi konflik berkepanjangan.

Saya memuji kesabaran bapak yang berusaha menjaga keharmonisan hubungan rumah tangga meski harus mengorbankan kehidupan sosial dan hubungan dengan keluarga sendiri. Namun saya paham kesabaran juga membutuhkan perubahan kearah yang lebih baik, sehingga sangat wajar ketika bapak menghendaki solusi agar isteri bisa berubah menjadi lebih baik.

Menurut saya, kecemburuan isteri bapak memang terasa berlebihan jika kemudian mengganggu hubungan sosial dan kedekatan bapak dengan keluarga sendiri. Banyak hal memang yang membuat seseorang jadi demikian besar kecemburuannya kepada pasangan, di antaranya bisa karena pengalaman masa lalu, seperti pasangan pernah melakukan perselingkuhan atau mungkin juga dilatarbelakangi dari pengalamannya dalam keluarganya sendiri.

Pada dasarnya setiap perilaku kita memang dipengaruhi oleh apa yang pernah kita alami dalam hidup.Tuntutan yang besar terhadap perhatian orang lain biasanya memiliki akar masa lalu sendiri, seperti pernah merasakan trauma kehilangan atau kesalahan dari pola asuh tertentu dalam perkembangannya sehingga senantiasa harus menjadi pusat perhatian atau berlebihan ketika mencintai seseorang.

Dalam hal ini bapak mungkin dapat memahami sikap cemburu isteri dengan belajar untuk memahami juga latar belakang kehidupannya. Namun membiarkan isteri larut terhadap sikap yang salah juga tidak dibenarkan, seperti mengaitkan antara kecemburuan dengan harta benda tentu itu tidak ada hubungannya. Dan menurut saya tidak benar, jika sikapnya yang membuat bapak tidak nyaman dijadikan alat untuk memenuhi keinginannya terhadap bapak (seperti rumah, motor atau pekerjaan), itu namanya pemanfaatan dan dalam hal ini tentu sikap isteri harus diluruskan.

Saran saya bantulah isteri untuk memahami sikapnya yang salah ketika kecemburuan menjauhkannya dari keluarga dan lingkungan sosial. Disisi lain terus tunjukkan kepadanya bahwa meski bapak dekat dengan siapapun juga tapi perhatian dan kasih sayang bapak tidakberkurang kepadanya.

Jika isteri terus merasa kesulitan untuk bersikap proposional atau bapak sendiri kesulitan untuk membantunya maka mungkin bapak perlu mempertimbangkan menemani isteri untuk menemui psikiater atau psikolog agar dapat dibantu untuk memberikan pemahaman kepadanya atas sikapnya yang sangat "melindungi"diri bapak. Terkadang memang ada"sesuatu" di bawah alam sadar seseorang yang memperngaruhi perilakunya danperlu keahlian untuk bisa menggalinya. Wallahu’alambishshawab.

Wassalammu’alaikum wr. wb.

Rr Anita W.

Ikuti update terbaru di Channel Telegram Eramuslim. Klik di Sini!!!

loading...

Baca Juga

Isteri Saya Kurang Jujur

Kamis, 18/01/2007 05:59

Simpati kepada Ukhti

Selasa, 16/01/2007 07:10

Bermasalah dengan Ibu Mertua

Kamis, 11/01/2007 09:26

Konsultasi Keluarga Lainnya

Trending