Senin, 9 Muharram 1444 H / 8 Agustus 2022

Komitmen Nikah yang Pudar

Assalamualaikum

Saya gadis berusia 25 tahun dan belum menikah. Saya punya keinginan menikah tanpa melalui jalur pacaran karna di Islam tidak mengenal istilah pacaran. Saya berharap dapat menikah melalui jalur yang diridhoi Allah, yaitu melalui sistem taaruf.

Beberapa waktu yang lalu, ada seorang pria muslim, beliau berusia 26 tahun. Kami dikenalkan oleh salah satu teman saya yang beragama nasrani. Kami berkenalan diakhir bulan januari 2008, dan akhirnya kami bertemu untuk pertama kalinya di tanggal 7 februari 2008. Sejak itu, kami semakin dekat dan intens berkomunikasi, baik lewat sms, telepon maupun email.

Pada tanggal 11 februari 2008, beliau mengajak saya menikah. Saat itu saya jelaskan bahwa saya tidak mau pacaran, saya juga menanyakan tujuan dia menikah, apa yang diharapkan dari sebuah pernikahan, apa yang ingin dibangun nanti, dll. Setelah mendengar jawabannya, saya menyatakan bahwa saya mau dia nikahi, karena saya menganggap kami satu visi dan misi ke depan. Kemudian saya juga menjelaskan karna kami tidak pacaran maka komunikasi yang akan dibangun harus yang berbobot dan bermakna, kami juga memasang target untuk menikah dibulan desember 2008 ini (alasan dipasangnya target ini agar kami punya komitmen yang terarah dan dapat menjaga hati).

Sisa waktu menuju bulan itu, kami pergunakan untuk saling mengenal pribadi masing-masing dan keluarga.

Dari hari ke hari kami berusaha untuk saling mengenal. Saya juga telah mengenalkan beliau pada kakak laki- laki saya, dan mereka setuju dengan rencana kami. Karna intensitas perkenalan, kami akhirnya saling menyayangi satu sama lain.

Namun, saya tidak tahu apa yang terjadi ketika diawal maret sikapnya berubah, beliau mengatakan tidak bisa memasang target menikah karna beberapa hal, di antaranya beliau mau membantu kuliah adiknya dulu. Untuk hal itu saya pernah mengatakan bahwa saya akan tersanjung bila beliau juga mengizinkan saya ikut membantu kuliah adiknya. InsyaAllah pernikahan tidak akan mengganggu hal tersebut, karna setelah menikah adik dan keluarganya akan menjadi adik dan keluarga saya juga. Saya juga menjelaskan bahwa kalau target tidak dipasang, kita nanti jadi seperti orang pacaran. Dia tetap tidak mau memasang target itu.

Akhirnya saya mengalah, karena saya sudah mulai jatuh sayang sama beliau. Saya hanya berserah diri dan berdoa pada Allah, saya yakin Gusti Allah akan menolong hambanya yang punya niat baik menyempurnakan agamanya.
Beberapa hari kemudian, beliau mengatakan pada saya bahwa ajakan dia untuk menikahi saya adalah ajakan yang buru – buru, jadi semua itu beliau anulir. Mulai malam itu, kami resmi tidak punya komitmen lagi ke arah pernikahan, kami menjadi sebatas teman biasa, bukan lagi calon suami isteri.

Perasaan saya saat itu hancur sekali, saya sudah mulai menyayanginya, tiba tiba ia meninggalkan saya. Hati saya terluka tapi hanya bisa pasrah karna memang saya tidak bisa memaksa seseorang yang sudah tidak mau bersama saya lagi. Saat itu, saya bertanya alasan dia mengambil keputusan tersebut, saya mengatakan bahwa saya menerima beliau dulu dengan menggunakan logika jadi kalaupun harus berakhir, beliau juga harus memberikan alasan yang dapat saya terima dengan logika.

Waktu itu, saya mendapat jawaban yang menurut saya, tidak bisa diterima logikanya. Beliau memberi alasan, pertama beliau merasa tidak pantas mendampingi saya karna agama saya jauh lebih bagus dibanding beliau yang dulu pernah berbuat hal-hal yang dilarang agama seperti narkoba, minuman keras, berzina, bertatto, dll.

Lalu saya mengatakan bahwa itu sudah menjadi masa lalu, setiap orang diberikan masa lalu yang berbeda oleh Allah sebagai jalan menemukan kasih sayang Allah. Saya dapat menerima dia apa adanya. Tiap orang juga pernah khilaf, Allah menyukai umatnya yang menyadari dan bertobat. Saya justru menyuruh beliau bersyukur karna beliau adalah salah satu orang yang diberi hidayah Allah untuk menyadari kesalahannya.

Alasan kedua adalah karena beliau tidak bisa mencintai saya, beliau sudah berusaha tapi cinta tidak bisa dipaksa. Padahal dulu beliau yang menyemangati saya bahwa cinta bisa dipelajarin, tapi saat saya sudah berhasil belajar mencintai beliau, beliau justru meninggalkan saya….hati saya hancur sekali namun saya tidak bisa berbuat apa – apa. Jujur, saya masih ingin bisa membina hubungan lagi dengan beliau. Karna saya yakin beliau orang yang baik, bertanggung jawab dan punya keinginan yang besar untuk sama – sama belajar Islam, beliau sosok sederhana yang meneduhkan hati. Saya bingung dan tidak mengerti mengapa sikap dia berubah sedrastis itu, saya tidak mau suudzon menuduh ada yang mempengaruhinya…Wallahualam bi shawab…

Hal yang ingin saya tanyakan:
1. Bagaimana harusnya saya bersikap? Karna saat ini saya masih merasa sedih dan slalu teringat janji beliau. Bagaimana saya harus menghilangkan perasaan patah hati ini?

2. Bagaimana cara menumbuhkan rasa sabar dan ikhlas dihati? Bagaimana cara menghilangkan keinginan untuk tetap bersama beliau? Bagaimana cara bersikap pasrah?

3. Salah kah kalau saya kecewa atas sikap beliau?

4. Setiap sahabat yang mengetahui kisah saya dengan beliau, mereka marah terhadap sikap beliau, sedang saya sendiri tidak memiliki rasa marah sedikitpun. Apakah sikap saya ini aneh? (hati saya lebih didominasi oleh rasa sayang, bingung dengan perubahan sikapnya, dan kecewa, ketimbang rasa marah. Karna saya merasa mengenal beliau sebagai sosok yang baik dan sederhana)

5. Berdosa kah sikap beliau terhadap saya? Bagaimana hukumnya janji menikahi itu? Dan bolehkah janji menikahi itu dibatalkan?

6. Perlu kah saya minta maaf kepada beliau karna mungkin saja selama interaksi kami ada hal – hal yang tidak berkenan?

Atas jawabannya, saya ucapkan jazakallah khairan katsira. Afwan bila ada hal yang kurang berkenan

Wassalamualaikum

Wa’alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh,

Sdri. Wakhyu yang dirahmati Allah swt,

Saya salut dan menghargai komitmen Anda pada hubungan suci dan luhur proses ta’aruf bukan pacaran yang banyak ternodai nafsu. Saya sekilas menangkap dari apa yang Anda ceritakan bahwa proses ta’aruf Anda belum melibatkan pihak-pihak yang berkompeten sebagai sumber informasi obyektif, namun Anda sudah ”jalan sendiri” sehingga terjatuh dalam perasaan simpati dan sayang.

Suatu masa lalu bagi seorang pezina, pemabuk tentu tak sesedarhana yang kita kira. Diapun perlu menyesuaikan dengan kebiasaan baru yang lebih baik-insya Allah- yang sekarang sedang dijalaninya. Ketika dia mengajak Anda menikah (setelah 1 bulan berkenalan) mungkin masih belum matang pengenalannya pada Anda.

Setelah terlanjur mengucapkan itu dan mengenal Anda lebih jauh, mungkin banyak perbedaan yang dia rasakan. Saya kira keterusterangan dia perlu dihargai, dan nampak dia belum siap dengan figur Anda yang ”lebih” di mata dia. Bekal yang penting sebelum berumah tangga adalah kesiapan ini. Kesiapan menerima pasangannya meskipun ada jurang perbedaan. Kesamaan visi dapat menyatukan perbedaan itu, namun jika visi hidup belum sama mungkin akan muncul permasalahan-permasalahan beruntun kemudian.

Bersyukurlah atas semua keterus-terangannya, kejujurannya. Mungkin dia bukan jodoh Anda. Yakinlah bahwa hidup akan terus berputar, dan perasaan Anda akan dapat dinetralisasi dengan mengoptimalkan sumber daya iman yang Anda punya selama ini.

1. & 2. Tutup lembaran buku Anda, mulai lagi dengan buku lain yang tak kalah indahnya, bahkan lebih indah lagi, buku bahwa cinta illahiyah akan lebih abadi daripada cinta duniawiyah. Jika Anda punya cinta Illahiyah maka Anda akan ridlo dengan ujian ini.

3 & 4. mestinya Anda berterimakasih dengan keterusterangannya, daripada Anda teruskan hubungan yang fondasinya ringkih maka kejadian ini semoga berhikmah. Tidak perlu marah, kecewa itu hal yang wajar karena semula Anda ingin meneruskan hubungan sementara dia memutuskan hal lain. Jangan takut mencoba lagi.

5. Berdoalah agar Allah swt. mengampuni kesalahannya dan kesalahan Anda selama proses hubungan yang kalian jalin. Berfikirlah positif dan mendoakan kebaikan bagi saudara kita sesama muslim. Hubungan persahabatan mungkin lebih mulia karena tanpa ambisi pribadi.

6. Minta ma’af adalah hal yang baik untuk dilakukan. Semoga ini menyembuhkan salah satu ganjalan yang ada di hati Anda

Demikian Sdri. Wakhyu, teriring do’a Anda tetap tegar dan optimis pada masa depan. Salam hangat.

Wallahu a’lam bissshawab.
Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh

Ibu Urba

Ikuti update terbaru di Channel Telegram Eramuslim. Klik di Sini!!!

loading...

Baca Juga

Anak yang Kedua Orangtuanya Bekerja

Kamis, 29/05/2008 05:40

Masih Adakah Pintu Surga Buatku..

Rabu, 28/05/2008 06:17

Nafkah

Kamis, 22/05/2008 05:48

Cemas Adik Akan Murtad

Rabu, 21/05/2008 07:24

Suami Tidak Memberi Nafkah Batin

Senin, 19/05/2008 05:44

Ayah yang Hobi Selingkuh

Selasa, 13/05/2008 03:51

Konsultasi Keluarga Lainnya

Trending