Selasa, 4 Jumadil Awwal 1444 H / 29 November 2022

Kebijakan Bertentangan dengan Kondisi di Lapangan

Assalaamu’alaikum wr. wb.

Pak Arief yang budiman, perkenalkan nama saya Yanto. Saya manajer cabang pada sebuah bank pemerintah di satu kabupaten di daerah Indonesia Timur.

Begini Pak, pada saat ini saya menghadapi masalah kepemimpinan yang cukup pelik.

Intinya, atasan yang mensupervisi saya terlalu banyak mencampuri kebijakan-kebijakan kami di lapangan. Sementara beliau berada di Ibukota provinsi, keputusan-keputusan yang terlalu detail harus kami jalankan di sini. Akibatnya, kebijakan tersebut sering tidak relevan dan bertentangan dengan kondisi di lapangan.

Beberapa kali saya mencoba mendiskusikan masalah ini dengan beliau. Namun, gaya kepemimpinan yg otoriter menyulitkan hal tersebut. Menurut Pak Arief, apa yang harus saya lakukan?

Wassalaamu’alaikum wr. wb.

Assalaamu’alaikum wr. wb.

Mas Yanto yang baik, apa yang saat ini sedang Anda hadapi merupakan tantangan yang sangat menarik, dan insya Allah jika disikapi dengan tepat bisa meningkatkan kapasitas kepemimpinan Anda. Saran saya, awali dengan mencoba memahami, cobalah berempati, mengapa atasan Anda cenderung otoriter. Memang kemungkinan penyebabnya bervariasi. Salah satu yang lumayan kerap terjadi, karena ia belum percaya – belum memiliki trust and respect – terhadap orang-orang yang dipimpinnya, termasuk Anda. Tentunya Mas Yanto masih ingat bahwa manusia itu unik dan kompleks, termasuk dalam hal trust and respect kepada orang lain. Ada, bahkan cukup banyak, orang yang membutuhkan waktu yang lebih panjang, dan pembuktian yang lebih intens, sebelum bisa mempercayai orang lain.

Prinsipnya, tumbuhnya rasa percaya tak bisa dipaksa, apalagi sekedar bermodalkan kata-kata. Banyak orang kurang menyadari hal ini sehingga mereka memaksakan diri untuk “menagih” trust and respect itu dari orang-orang yang berinteraksi dengan dirinya, termasuk atasan mereka. Biasanya hal itu dilakukan dengan menghujani atasan dengan argumentasi yang canggih. Saran saya, jangan lakukan itu. Semakin bernafsu Anda meyakinkan orang lain bahwa Anda layak dipercaya, semakin kuat pula penolakan orang tersebut kepada Anda. Dan jika kondisi tersebut terus berlangsung sangat mungkin di bawah sadar atasan akan memberi label negatif kepada Anda, seperti “sombong,” “arogan,” “sok tahu,” dan sebagainya. Label-label tersebut akan menimbulkan mental block yang relatif sulit untuk diruntuhkan. Yang dibutuhkan adalah serangkaian pembuktian yang relatif konsisten dalam jangka waktu yang cukup. Paling tidak dua hal harus Mas Yanto buktikan: kompetensi dan kredibilitas. Inti dari kedua hal tersebut adalah membuat atasan Anda merasa aman dan nyaman bekerja satu tim bersama Anda.

Membuktikan kompetensi kita bisa dibilang “gampang-gampang susah.” Banyak orang yang mati-matian membuktikan dirinya kompeten namun pada akhirnya tetap dinilai tidak kompeten oleh atasannya. Pangkal kegagalan ini antara lain karena kita lupa bahwa kompeten-tidaknya kita diukur berdasarkan kriteria yang digunakan oleh pihak yang menilai, yaitu atasan kita. Banyak orang menilai dirinya kompeten berdasarkan kriteria yang ditetapkannya sendiri. Dengan kata lain, yang penting bukan seberapa kompeten kita menurut diri kita sendiri, melainkan seberapa kompeten kita dalam persepsi atasan kita. Untuk itu, frekuensi konsultasi yang relatif intens dengan atasan Anda bukan hal yang jelek. Tanyakan dan bahaslah apa yang menjadi harapan beliau dari Anda. Catatlah dengan detil. Kemudian realisasikanlah hal-hal tersebut di lapangan, dan jangan lupa melaporkan realisasi tersebut pada kesempatan pertama. Lalu, perhatikanlah setiap koreksi atau masukan beliau dengan baik, dan sedapat mungkin aplikasikan segera.

Mas Yanto, tolong dicamkan ini bukan langkah kiss the ass alias menjilat. Ingat, sebagai bawahan peran kita adalah membantu atasan. Dengan demikian, kritieria keberhasilannya harus menjadi kriteria keberhasilan kita, prioritasnya harus pula menjadi prioritas kita. Langkah-langkah di atas perlu untuk membuat atasan Anda merasa aman dan nyaman bekerja dengan Anda. Ketika beliau sudah merasakan hal tersebut insya Allah perlahan tapi pasti dia akan memberi ruang yang lebih luas bagi Anda untuk mengekspresikan kreatifitas dan inovasi Anda. Namun untuk itu Anda harus pandai membaca kapan waktu yang tepat. Salah satu sinyal yang cukup jelas mengenai terbukanya ruang itu adalah pada saat atasan meminta pendapat Anda tentang strategi untuk mengatasi sebuah masalah. Nah, ketika saat itu tiba, tunjukkan bahwa Anda punya gagasan yang genuin dan segar, namun tetaplah rendah hati dan tidak berlebihan, apalagi memaksa. Jangan lupa bahwa Anda berada di sisi atasan Anda untuk membantunya mencari solusi terbaik, bukan untuk membuktikan betapa hebatnya Anda.

Namun persepsi atasan bahwa Anda kompeten tidak akan banyak manfaatnya jika beliau tidak melihat Anda sebagai pribadi yang kredibel. Membangun persepsi tentang kredibilitas relatif lebih menantang ketimbang membangun persepsi tentang kompetensi. Paling tidak modalnya tiga: kejujuran, integritas, dan loyalitas. Prinsipnya sederhana, jangan katakan kecuali hanya hal-hal yang benar kepada atasan Anda. Peribahasa lama, sekali lancung ke ujian seumur hidup orang tak percaya, masih sangat berlaku dalam pergaulan profesional di tempat kerja. Anda juga harus membuktikan – secara konsisten tentunya – bahwa Anda mampu mewujudkan apa yang Anda katakan dan janjikan. Apalagi jika janji itu terkait dengan solusi atas sebuah masalah. Ini sangat krusial untuk menjadi perhatian Mas Yanto. Jangan sampai ketika atasan mulai mempercayai Anda dan memberikan ruang berekspresi yang lebih luas, Anda justru mengecewakan beliau.

Untuk loyalitas saya hanya punya satu catatan kecil Mas Yanto. Jangan pernah mendiskusikan ketidaksetujuan Anda terhadap atasan, atau kekurangan dia dalam pandangan Anda, dengan siapapun, apalagi dengan kolega Anda di kantor. Bukan sekedar karena itu ghibah namanya, namun lebih jauh lagi, percayalah bahwa tembok-tembok di manapun bertelinga. Bayangkan apa jadinya jika dengan suatu cara tertentu yang tak terbayangkan oleh Anda, gunjingan itu sampai ke telinga atasan Anda. Bangunan trust and respect yang sedang Mas Yanto dirikan itu akan runtuh seketika. Jika Anda yakin waktunya tepat tak mengapa sekali waktu Anda menyampaikan kritik atau masukan dengan cara yang santun mengenai kesalahan atau kekuarangan atasan langsung kepada beliau, namun sekali lagi, pastikan Anda tutup mulut rapat-rapat mengenai hal itu kepada orang lain.

Demikian Mas Yanto. Semoga bermanfaat. Wallahu ‘alam bish shawab.

Wassalaamu’alaikum wr. wb.

Ikuti update terbaru di Channel Telegram Eramuslim. Klik di Sini!!!

loading...

Baca Juga

Pilihan Hidup dan Idealisme

Rabu, 31/03/2010 00:20

Esensi Seseorang Pemimpin

Selasa, 09/03/2010 14:04

Jenuh dengan Organisasi Kampus

Rabu, 03/03/2010 07:08

Kepemimpinan Lainnya

Trending