Sabtu, 12 Rajab 1444 H / 4 Februari 2023

Saya Tidak Bahagia dengan Posisi Teller

Assalaamu’alaikum wr. wb.

Pak Arief, kenalkan Pak, nama saya Mala. Saat ini saya baru bekerja sebagai teller di sebuah Bank. Ada yang ingin saya konsultasikan mengenai kondisi saya pada saat ini.

Begini Pak, pada saat ini saya agak meragukan pilihan karir yang saya ambil. Sebenarnya, pada saat lulus kuliah lalu, saya bercita-cita lumayan tinggi, seperti masuk program MT perusahaan multinasional atau karir lainnya yang menjanjikan perubahan lebih signifikan (baik bagi diri saya maupun komunitas saya).

Namun, kondisi keluarga yang sangat mengharapkan saya segera mandiri, memaksa saya menerima "tawaran pekerjaan layak pertama" yaitu pekerjaan yang saya jalani saat ini.

Setelah mendapatkan kesempatan merenung beberapa saat, saya merasa tidak bahagia dengan kondisi saat ini. Posisi teller seperti sekarang ini, tidak menjanjikan perubahan cepat.

Kemampuan kepemimpinan dan manajerial yang sempat saya pelajari saat kuliah dulu pun, sepertinya hilang begitu saja. Saya terpikir untuk keluar, namun ada kontrak yang harus saya penuhi.

Menurut Pak Arief, apa yang harus saya lakukan dengan kondisi saya saat ini ? Terima kasih banyak Pak Arief.

Wassalaamu’alaikum wr. wb.

‘Alaikumussalaam wr. wb.

Mbak Mala yang shalihat, alhamdulillah, seperti beberapa penanya sebelumnya, Allah menempatkan Anda dalam sebuah ujian kepemimpinan diri (self-leadership) yang menarik. Jika berhasil lulus, insya Allah akan jauh lebih mudah untuk mengembangkan kapasitas untuk memimpin orang lain seperti yang Anda cita-citakan ketika kuliah dulu.

Saran saya Mbak Mala, sebelum melangkah lebih jauh, merdekakanlah diri Anda terlebih dahulu dari perasaan tak berdaya. Intinya, tak ada apapun atau siapapun yang dapat memaksa kita mengambil keputusan apapun. Pilihan karir Anda saat ini bukan karena dipaksa oleh kondisi keluarga, melainkan karena Anda memutuskan hal tersebut di masa lalu. Jadi, jika dulu Anda yang memutuskan maka tentu saja sekarang Anda mampu dan berhak membuat keputusan yang berbeda.

Saya merekomendasikan dua set kriteria keputusan yang mungkin relevan untuk digunakan. Set kriteria keputusan yang pertama, karena Mbak Mala ingin mengembangkan kapasitas kepemimpinan diri, pertimbangkanlah sejauh mana berbagai alternatif yang ada di luar karir Anda saat ini menjanjikan peluang untuk mengekspresikan concern Anda terhadap orang lain/masyarakat, menggerakkan perubahan, dan berkontribusi terhadap lingkungan dalam makna yang lebih luas?

Set kriteria keputusan yang kedua terdiri dari tiga kriteria. Pertama, sejauh mana alternatif karir tersebut menyediakan peluang bagi Mbak Mala, baik langsung maupun tidak langsung, menyebarluaskan nilai-nilai kebenaran dan kebaikan yang Anda yakini dalam arti yang seluas-luasnya? Misalnya, pekerjaan yang memungkinkan Mbak Mala berinteraksi dengan banyak orang dari berbagai kalangan tentunya punya nilai lebih pada kriteria ini.

Kedua, sejauh mana alternatif karir tersebut memungkinkan Mbak Mala meningkatkan kapasitas dan kompetensi, baik hard-competencies maupun soft-competencies. Perlu diingat bahwa waktu adalah pengorbanan kita yang termahal dalam menempuh karir apapun. Oleh karena itu, perlu dipastikan bahwa pengorbanan itu memberikan imbal hasil yang optimal dalam bentuk peningkatan kualitas diri.

Ketiga, sejauh mana alternatif karir yang dipertimbangkan itu menghasilkan uang, tentunya secara halal dan bermartabat. Mbak Mala, tanpa uang ide-ide perubahan yang paling spektakuler sekalipun akan tinggal menjadi untaian kata-kata heroik yang tak terimplementasikan. Concern kita terhadap nasib orang lain, keinginan melakukan perubahan, dan berkontribusi, sebagaimana juga motivasi untuk menyebarluaskan kebenaran dan kebaikan serta meningkatkan kompetensi diri, membutuhkan uang untuk merealisasikannya.

Mbak Mala, setelah matang dengan pertimbangan-pertimbangan di atas, tinggal mencek kondisi empirik yang dihadapi. Jika memang peluang lompatan karir yang telah Anda pertimbangkan tersebut terbuka dan bisa dieksekusi segera, periksalah apakah ada peluang untuk menterminasi kontrak Anda saat ini secara legal. Tentunya ada konsekuensi, biasanya bersifat finansial, yang harus Anda penuhi. Perhitungkan dengan cermat apakah Anda mampu memenuhi konsekuensi tersebut tanpa menganggu “keseimbangan” hidup sehari-hari, baik pribadi maupun keluarga. Jika jawabannya “ya,” tentunya go ahead. Jangan ragu-ragu. Move!

Tentu Mbak Mala bertanya, jika tidak ada peluang menterminasi kontrak lebih cepat, atau konsekuensinya terlalu berat bagi Anda, lantas bagaimana? Bersabar Mbak. Tuntaskan kontrak saat ini dengan penuh semangat. Bayangkan betapa indahnya masa ketika kontrak ini selesai dengan gemilang dan Anda dengan ringan bisa melangkah ke karir berikut yang lebih menantang. Namun dalam masa menyelesaikan kontrak Anda bisa memanfaatkan waktu-waktu luang untuk mempersiapkan fondasi yang lebih kokoh untuk karir selanjutnya. Menambah variasi atau memperdalam keterampilan/keahlian serta memperluas dan memperkokoh jaringan adalah pilihan yang bijaksana.

Semoga bermanfaat Mbak Mala. Wallahu’alam bish-shawab.

Wassalaamu’alaikum wr. wb.

Ikuti update terbaru di Channel Telegram Eramuslim. Klik di Sini!!!

loading...

Rekomendasi

Memilih Antara Suami dan Orang Tua

Senin, 17/11/2008 06:00

Buah

Senin, 26/04/2010 13:34

Menjaga Adab Para Ulama

Rabu, 28/10/2020 14:00

Menjadi Seperti Mutiara

Sabtu, 19/10/2013 13:13

Harapanku Berakhir di Puri Cikeas

Minggu, 18/10/2009 15:18

CARA AMPUH MENGHILANGKAN KESEMUTAN

Jumat, 24/04/2020 13:05

Baca Juga

Memegang Teguh Prinsip

Rabu, 28/04/2010 09:47

Pilihan Hidup dan Idealisme

Rabu, 31/03/2010 00:20

Kepemimpinan Lainnya

Trending