Kamis, 6 Jumadil Awwal 1444 H / 1 Desember 2022

Bagaimana Mengkritik

Ustad Lubis,

Ana mau tanya nih. Baru – baru ini ana melihat blog yang isinya berupa kritikan kepada partai tertentu. Yang dikritik berupa kebijakan publik partai tersebut. Pertanyaannya adalah: Bagaimana pendapat ustadz mengenai etika mengkritik tersebut (melalui blog )? Baik? Kurang Baik? Atau bagaimana?

Syukron

Sauadaraku yang dirahmati Allah SWT, sebenarnya dalam agama kita sudah cukup jelas bagaimana adab untuk mengkritik. Namun pada kesempatan ini saya singkat saja dengan penjelasan sebagai berikut :
1. Kritik kita harus santun
Merupakan sifat dasar manusia, walaupun salah, ia tidak mau untuk disalahkan. Sebagai contoh sederhana, seorang pencuri jelas saja salah. Namun, bila kita berhadapan
dengannya dan kita hanya memarahinya dan menyalahkannya, mungkin saja ia tidak terima. Dalam hati pencuri itu mungkin saja berfikir, "Iya, aku tahu kalau aku salah,
tetapi aku tidak suka kalau aku terus kamu salahkan seperti ini. Aku merasa terpojok. Aku mencuri karena terpaksa. Kalau aku tidak mencuri, anak dan istriku akan kelaparan.
Maafkanlah aku, jangan terus salahkan aku. Beri aku nasihat yang baik sehingga aku dapat keluar dari masalahku ini." Bukannya berubah pikiran, bila kita menyalahkan pencuri itu,
ia malah tambah tidak nyaman atas kritikan yang diberikan kepadanya. Begitu juga dengan si pembuat kebijakan. Meski ia salah sekalipun, ia tidak akan suka diberi kritik dengan
cara tidak santun. Apalagi apabila si pembuat kebijakan merasa bahwa kebijakan itulah yang menurutnya terbaik, kemudian kita hanya menyalahkannya dengan kritik yang tidak
santun, ia akan tambah kesal dengan kita. Jadi, kritikan kita haruslah santun, diungkapkan dengan bahasa yang baik.
2. Kritik kita membangun dan solutif
Kita tidak boleh asal memberi kritik yang hanya menjatuhkan objek yang kita kritik. Kritik kita harus berisi solusi pemecahan atas masalah yang sedang dihadapi.
Alternatif solusi harus kita tawarkan. Jadi, bila kita mengkritik tentang kebijakan publik suatu partai, kita harus turut memberikan alternatif solusi atas kebijakan publik tersebut yang
menurut kita kebijakan publik itu tidak tepat. Jadi, kritikan kita harus bisa membangun, memberi semangat, dan memberi petunjuk/solusi atas objek yang kita kritisi.
3. Kritik kita harus relevan
Jangan memberi kritik hanya berdasarkan perasaan kita saja tanpa mengetahui secara jelas duduk permasalahan sebenarnya. Jadi, kalau yang kita kritik adalah tentang kebijakan
publik partai tersebut, kita harus mengerti apa landasan partai itu membuat kebijakan seperti itu, apakah asal atau memang sudah melalui analisis yang mendalam. Kritik kita harus sesuai
apa yang seharusnya diberi kritik dan disampaikan pada waktu yang tepat pula.
4. Kritik kita harus mampu melihat sesuatu dari sudut pandang orang lain
Kita terkadang hanya melihat sesuatu dari sudut pandang kita. Dari sudut pandang kita, mungkin kita akan mudah menyalahkan objek yang kita kritik tersebut. Namun,
belum tentu bila kita berada pada posisi objek tersebut, kita tidak melakukan hal yang sama dengan objek tersebut. Jadi, kita harus berusaha menempatkan diri kita pada sudut pandang
si pembuat kebijakan publik dalam partai politik tersebut. Di sini kita harus mampu menempatkan diri kita pada sudut pandang pihak lain.

Demikian pendapat saya. Semoga berkenan.

Salam Berkah !

(Satria Hadi Lubis)

Ikuti update terbaru di Channel Telegram Eramuslim. Klik di Sini!!!

loading...

Baca Juga

Bagaimana mengatasi rasa PD

Senin, 07/09/2009 15:58

Semangat Islami…

Jumat, 04/09/2009 11:10

Perjanjian Kerja

Kamis, 03/09/2009 13:42

Ketika Merasa Sendiri

Kamis, 03/09/2009 13:21

Am I Wrong??

Kamis, 03/09/2009 13:11

Susahnya Menjaga Hati

Kamis, 03/09/2009 12:18

Konsultasi Motivasi Lainnya

Trending