Jum'at, 10 Rabiul Awwal 1444 H / 7 Oktober 2022

Banyaknya Lembaga dan Jamaah Dakwah

Banyaknya wadah perkumpulan atau jamaah yang dapat dipergunakan oleh para aktivis yang mengabdi kepada agama dipergunakan oleh para aktivis yang mengabdi kepada agama Allah, dapat memancing keraguan di dalam diri seorang muslimin. Dengan kelompok atau jamaah yang mana ia akan menggabungkan diri?

Dan kelompok mana yang harus dijauhi? Sikap keragu-raguan dirinya itu, apalagi jika hal ini disertai dengan ketidak tahuannya tentang hakikat dan prinsip-prnsip yang dianut oleh perkumpulan atau jamaah yang berlainan tersebut, sering kali pula akan dapat menyebabkan dia terjangkiti penyakit ‘uzlah’ atau ‘tafarrud’.

Oleh karena itu, seorang aktivis dakwah dituntut harus memahami aneka tujuan dan cara yang ditempuh oleh masing-masing kelompok atau jamaah itu agar dia dapat menetukan sikap serta mengambil pilihan terhadap salah satu diantaranya, yakni terhadap kelompok atau jamaah yang kebaikannya lebih menyeluruh.

Beberapa kriteria kelompok atau jamaah yang kebaikannya menyeluruh tersebut antara lain :

  1. Yang menjadi hadaf (tujuannya), yakni menerapkan syari’at dan manhaj Allah di muka bumi. Sebagaimana firman-Nya :

    إِنِ الْحُكْمُ إِلاَّ لِلّهِ

    "Sesungguhnya (hak) menetapkan hukum itu hanyalah bagi Allah." (QS. Al-An’am [6] : 57)

  2. Yang melandaskan setiap ucapan dan perbuatannya, karena Allah semata. Sebagaimana firman-Nya :

    قُلْ إِنَّ صَلاَتِي وَنُسُكِي وَمَحْيَايَ وَمَمَاتِي لِلّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ ﴿١٦٢﴾ لاَ شَرِيكَ لَهُ وَبِذَلِكَ أُمِرْتُ وَأَنَاْ أَوَّلُ الْمُسْلِمِينَ ﴿١٦٣﴾

    "Katakanlah, Sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidupku, dan matiku hanyalah untuk Allah Tuhan seluruh alam, tidak ada sekutu bagi-Nya. Demikianlah aku dipeirntahkan, dan aku adalah orang yang pertama menyerahkan diri." (QS. Al-An’am [6] : 162-163)

  3. Yang melepaskan semua bentuk wala’ (loyalitas) kecuali kepada Allah semata. Sebagaimana firman-Nya:

    إِنَّمَا وَلِيُّكُمُ اللّهُ وَرَسُولُهُ وَالَّذِينَ آمَنُواْ الَّذِينَ يُقِيمُونَ الصَّلاَةَ وَيُؤْتُونَ الزَّكَاةَ وَهُمْ رَاكِعُونَ ﴿٥٥﴾

    "Sesungguhnya wali (penolong) kamu hanyalah Allah, Rasul-Nya, dan orang-orang yang beriman, yang mendirikan shalat, menunaikan zakat, dan mereka tunduk (kepada Allah). Dan barang siapa yang memanggil Allah, Rasul-Nya, dan orang-orang beriman menjadi penolongnya, maka sesungguhnya pengikut (agama) Allah itulah yang menang." (QS. Al-Maidah [5] : 55)

  4. Yang menganut paham yang lurus terhadap Islam, tidak ghuluw (ekstrim) dan tidak pula tafrif (peremeh). Kemudian ia melaksanakan syariatnya secara integral, dari siwak (pembersih mulut yan dianjurkan Rasulullah shallahu alaihi was sallam) sampai kepada jihad. Sebagaimana firman-Nya :

    يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ ادْخُلُواْ فِي السِّلْمِ كَآفَّةً

    "Wahai orang-orang yang beriman, masuklah kalian ke dalam agama Islam secara keseluruhan." (QS. Al-Baqarah [2] : 208)

  5. Amal lyang pertama kali dilakukan harus berorientasi pada pembentukan pribadi muslim yang menghimpun seluruh sikap-sikap baik, dan jauh dari sikap-sikap tercela, serta berusaha untuk memperoleh pertolongan Allah, dukungan, dan kemenangan dari-Nya. Sebagaimana firman-Nya :

    إِنَّ اللّهَ لاَ يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتَّى يُغَيِّرُواْ مَا بِأَنْفُسِهِمْ

    "Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri." (QS. Ar-Ra’d [13] : 11)

    Dan firman-Nya yang lain :

    قَدْ أَفْلَحَ مَن زَكَّاهَا ﴿٩﴾ وَقَدْ خَابَ مَن دَسَّاهَا ﴿١٠﴾

    "Sesungguhnya telah beruntung orang yang menyucikan jiwanya, dan sungguh merugi orang yang mengotorinya." (QS. Asy-Syam [91] : 9-10)

  6. Yang memiliki sifat universal dalam upaya menerapkan nilai-nilai kepribadian muslim ini, yaitu dengan bentuk penyebaran dan pemerataan pada semua lapisan masyarakat, bahkan seluruh penjuru dunia. Firman-Nya :

    وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا رَحْمَةً لِّلْعَالَمِينَ ﴿١٠٧﴾

    "Dan tidaklah Kami mengutus engkau kecuali berupa rahmat atas seluruh alam." (QS. Al-Anbiya’ [21] : 107)

  7. Yang senantiasa berupaya mengikat kesatuan pribadi Islami dengan bersumberkan pada satu komando, sehingga menjadi satu bentuk pola pikir yang satu, hati yang satu, rohani yang satu, dan perasaan yang satu, sekalipun pribadi anggotanya berbeda. Firman-Nya :

    وَاعْتَصِمُواْ بِحَبْلِ اللّهِ جَمِيعًا وَلاَ تَفَرَّقُواْ

    "Dan berpegang teguhlah kalian pada tali (agama) Allah dan janganlah kalian bercerai-berai." (QS. Ali-Imran [3] : 103)

  8. Yang senantiasa berpijak diatas tahapan yang benar, teliti dan terbina diatas suatu pengkajian yang kontinu serta bertolak dari pemahaman yang lurus akan realitanya. Firman-Nya :

    وَقُلِ اعْمَلُواْ فَسَيَرَى اللّهُ عَمَلَكُمْ وَرَسُولُهُ وَالْمُؤْمِنُونَ

    Dan katakanlah, "Bekerjalah kalian, maka Allah dan Rasul-Nya serta orang-orang mukmin akan melihat pekerjaanmu." (QS. At-Taubah [9] : 105)

  9. Yang senantiasa memelihara langkah-langkah proritas dalam beramal, yaitu tatkala sebuah jamaah mengalamai kesulitan dari para penguasa, atau menyempitnya kemungkinan dan sarana mereka harus mendahulukan hal-hal usuhuul (prinsip) di atas masalah furuu’ (cabang), memprioritaskan yang wajiba daripada yang sunnah, serta menyegerakan hal-hal yang telah disepakati daripada yang masih diperselisihkan. Ini sebagaimana yang diperbuat oleh Rasulullah shallahu alaihi wassalam, tatkala beliau mengutamakan upaya menghancurkan berhala-behala yang bercokol di dalam jiwa manusia, sebelum beliau menghancurkan berhala-berhala yang berwujud patung yang mengelilingi dan memenuhi Ka’bah.

Itulah gambaran jamaah yang benar dan layak untuk diikuti, dan menjadi pilihan kaum muslimin di tengah-tengah berbagai jamaah yang ada dewasa ini. Wallahu’alam.

Ikuti update terbaru di Channel Telegram Eramuslim. Klik di Sini!!!

loading...

Baca Juga

Uzlahnya Para Salaf Sebagai Rujukan

Kamis, 30/06/2011 14:06

Uzlah atau Tafarrud

Selasa, 14/06/2011 15:53

Penyebab Gagalnya Dakwah Lainnya

Trending