Senin, 16 Muharram 1444 H / 15 Agustus 2022

Untold History of Pangeran Diponegoro (32)

Untold History of Pangeran Diponegoro (32)

“Bagaimana menurutmu sendiri, Letkol?” Gillavry balik bertanya.

“Memadamkan pemberontakan terhadap pemerintah adalah tugas kita semua. Di mana pun itu terjadi. Apalagi yang berada dekat dengan wilayah kita sendiri. Bukankah demikian, Tuan Residen?”

“Itu benar. Kita memang harus ikut memadamkan pemberontakan dengan menangkap pimpinan pemberontakan itu.”

“Bagaimana dengan permintaan penambahan pasukan ke Yogyakarta?”

“Besok pagi engkau akan menginspeksi pasukan kita disini. Kita akan memberangkatkan sejumlah pasukan ke Yogya besok pagi itu. Kita hubungi juga Legiun untuk ikut berangkat ke Yogyakarta bersama-sama kita.”

“Legiun sudah siap. Mereka akan berangkat besok pagi menambah jumlah pasukan mereka di Yogya. Jika tidak ada halangan, Ritmeester[1] Raden Mas Suwongso sendiri yang akan memimpin Legiun. Mereka ini akan memperkuat pertahanan di sekeliling kraton…”

“Baguslah jika begitu. Bagaimana dengan kabar dari Semarang sendiri?”

“Kolonel Von Jett sudah menyanggupi untuk mengirim satu kompi infanteri ditambah artileri sebanyak duaratusan prajurit infanteri dan kavaleri yang akan dipimpin Kapten Kumsius. Mereka akan lewat Magelang karena Residen Magelang akan menitipkan dana tambahan untuk pertahanan Yogyakarta seperti yang Residen Smissaert minta.”

“Apakah Kolonel Von Jett sendiri akan langsung memimpin pasukannya?”

“Sepertinya begitu. Tapi sampai sekarang belum ada informasi yang valid tentang itu…”

“Menurut penilaianmu pribadi?”

“Besar kemungkinan dia akan terjun langsung. Dia seorang pimpinan yang tidak betah berada di belakang meja…”

Gillavry tertawa, “Beruntung kau punya pimpinan seperti dia…”

“Ya. Dan Tuan Residen juga beruntung memiliki sekutu kuat yang sangat setia pada kerajaan kita di sini…”

“Oh ya? Siapa yang Anda maksud, Letkol?”

“Siapa lagi jika bukan Susuhunan Mangkunegara II, si Raja Tua itu…”

Mac Gillavry tersenyum lebar dan mengangguk-angguk, “Ya, kau benar, Letkol. Raja itu sangat setia pada kita. Dia patut mendapatkan medali kehormatan atas kesetiaannya selama ini. Kesetiaan yang tanpa cela…”

Malam bertambah larut. Letnan Kolonel Genie Cochius dan Residen Mac Gillavry terus membahas strategi yang bisa dilakukan untuk mengantisipasi perkembangan terakhir. Mereka terus berbincang sampai dini hari. Pukul tiga pagi mereka baru masuk ke dalam kamarnya masing-masing untuk beristirahat. Keduanya percaya, esok hari adalah hari yang amat melelahkan…

Tak jauh di perbatasan antara Karesidenan Surakarta dengan Yogyakarta, di sejumlah tempat masih terjadi pertempuran dalam skala kecil antara laskar-laskar dadakan melawan prajurit Belanda dan juga Legiun. Pos-pos penjagaan jalan dan juga pos intai diserang. Korban terus berjatuhan di kedua belah pihak. Sesekali masih terdengar suara tembakan bersahut-sahutan. Malam yang biasanya sunyi, kali ini begitu meriah. Sebuah awal bagi perang besar… []

Bab 29

PERAN PEREMPUAN DI NUSANTARA ternyata sudah jauh ada sebelum Raden Ayu Kartini lahir. Dua abad sebelum era Kartini, di Aceh Darussalam terdapat Sri Sultanah Ratu Safiatudin Tajul ‘Alam. Ratu ini selain sangat cerdas-menguasai sekurangnya tujuh bahasa asing, pelahap karya sastra dan sejarah, dan diplomat ulung, juga seorang yang perempuan shalihah yang begitu taat memegang ajarannya. Salah satunya adalah catatan yang mengisahkan dia selalu menerima semua tamu negara yang bukan muhrim dari balik hijab sutera berhiaskan emas permata. Semua itu ditambah dengan ‘kegagahannya’ memimpin satu pasukan khusus perempuan pengawal istana yang ikut maju bertempur dengan gagah berani dalam Perang Malaka di tahun 1639.

Di Tanah Jawa, puluhan tahun sebelum Kartini lahir, seorang Ratu Ageng-permaisuri Sultan Hamengku Buwono I-juga menyamai kualitas seorang Sultanah Safiatudin. Hal itu diwariskan kepada Raden Ayu Retnaningsih, isteri dari Pangeran Diponegoro, yang tidak saja cantik, cerdas, dan sholihah, namun juga mampu memimpin pasukan khusus perempuan sebagaimana Bregada Langen Kesuma, yang turut berperang di sisi Diponegoro dengan gagah berani melawan kafir Belanda dan antek-anteknya.

Setelah siuman dari pingsannya, dengan masih merasakan lemas di sekujur badan, Raden Ayu Retnaningsih sudah mengendarai kuda sendirian. Perjalanan dari Tegalredjo ke Dekso yang sudah masuk ke dalam wilayah Kulon Progo[2] sebenarnya bukan perjalanan yang sulit dan melelahkan. Namun disebabkan mereka mengambil jalur agak melambung ke utara, dan tidak melalui jalan raya, melainkan melalui jalan kecil bahkan harus menerabas hutan dan pinggiran sawah, maka mereka baru tiba di desa kecil tersebut lewat tengah malam.

Sesekali dari atas kudanya, Pangeran Diponegoro mendekati isterinya tersebut dan menanyakan apakah Retnaningsih sudah lelah dan menawarkan istirahat. Namun dengan tegar dan tersenyum, perempuan itu selalu menggelengkan kepalanya dan bersikeras agar perjalanan dilanjutkan saja hingga tiba di desa tujuan.

Menurut rencana yang disusun bersama dengan Ki Guntur Wisesa, jika Puri Tegalredjo tidak bisa dipertahankan maka semua anak-anak kecil, para emban, dan siapa pun yang bukan atau belum bisa menjadi kombatan, akan dititipkan di Dekso. Setelah itu, Pangeran Diponegoro, Pangeran Mangkubumi, Pangeran Bei, Ustadz Taftayani, dan yang lainnya akan melanjutkan perjalanan ke wilayah Gua Selarong yang sudah lama ditetapkan sebagai basis perjuangan melawan kafir Belanda.

Perpisahan yang terjadi antara Raden Ayu Retnaningsih dan anak-anaknya yang masih kecil di Dekso sungguh-sungguh mengharukan. Sambil mengumpulkan semua anaknya di dalam rengkuhan pelukannya, dengan penuh perasaan cinta Retnaningsih berkata,

“Anak-anakku, ibu atau bapakmu cepat atau lambat pasti akan meninggalkanmu semua. Namun Allah subhana wa ta’ala tidak akan pernah meninggalkanmu. Gusti Allah akan selalu menjagamu. Sebab itu, janganlah sekali-kali melupakan atau meninggalkan Gusti Allah. Hanya Gusti Allah sebaik-baik pelindung dan tempat mengadu. Ibu dan bapakmu akan terus berjuang untuk kemerdekaan dan kebebasan kalian dan semua saudara-saudara seiman. Doakanlah kami. Dan kami pun akan selalu mendoakan kalian. Jika kalian selalu bersama Allah, maka kalian juga akan selalu bersama ibu dan bapakmu ini. Yakinlah, kita akan segera bertemu dan berkumpul kembali. Allah Maha Kuasa. Gusti Allah Maha Kuat…”

Walau berusaha tetap tegar, namun Retnaningsih tidak mampu membendung airmata haru yang akhirnya mengalir keluar dari kedua sudut matanya. Dipeluknya anak-anak itu satu-persatu dengan hangat. Tidak ada yang tahu, apakah ini pertemuan terakhir atau bukan. Namun semua berharap, agar mereka bisa kembali bertemu dalam satu keluarga yang utuh.

Setelah Raden Ayu Retnaningsih memeluk anak-anaknya, giliran Pangeran Diponegoro yang mencium dan melepas semua anak-anaknya, juga dengan peluk dan cium.

“Anak-anaku sayang, yakinlah dengan keyakinan yang sebenar-benarnya. Allah akan selalu bersamamu. Jika suatu hari kalian melihat cahaya yang indah, kapan pun itu, itu adalah aku. Tumbuh besarlah dan menjadi kuatlah. Pegang agama kita sekuat-kuatnya, gigitlah dengan sekeras-kerasnya, hingga nafas terakhir…Jika kalian selalu bersama Allah, aku dan ibumu ada di sana…”

Semua yang hadir malam itu berlinang airmata. Sebuah perpisahan yang amat sangat mengharukan.

Di Dekso, mereka semua tidak berlama-lama. Malam itu juga mereka melanjutkan perjalanan, kali ini terus ke arah selatan, menuju Gua Selarong. Beberapa lelaki dewasa yang ada di Dekso mengikuti rombongan dengan membawa senjatanya masing-masing dan bersumpah sehidup semati bersama Pangeran Diponegoro. Di setiap kampung dan dusun yang dilewati, jumlah rombongan selalu bertambah. Lebih dari setengah lelaki yang sudah mampu berperang, memilih ikut bersama Pangeran Diponegoro. Dari yang semula hanya berjumlah puluhan, semakin mendekati Selarong, rombongan mereka sudah mencapai ratusan hingga membentuk satu pasukan besar.

Rombongan besar ini mencapai Selarong disambut dengan gema adzan subuh dan kokok ayam jantan. Ratusan laskar yang sudah berada di Selarong menyambut rombongan itu dengan gegap gempita dan takbir. Kedua mata Pangeran Diponegoro kembali basah karena terharu. Dia teringat satu episode sejarah Rasul Muhammad SAW ketika hijrah menghindari kezaliman kaum musyrik Quraisy, dari Makkah menuju Madinah. Saat menginjak perbatasan kota Madinah, penduduk asli Madinah yang dikenal sebagai Kaum Anshor menyambut rombongan Rasulullah dengan takbir dan lagu-lagu perjuangan. Diponegoro tersenyum. Mereka adalah kaum Muhajirin sekarang dan laskar serta penduduk Selarong adalah kaum Anshor-nya.

Sejarah memang selalu berulang, dalam bentuk dan pola yang sama. Yang berganti hanyalah nama-nama… [] (Bersambung)

[1] Pangkat setara Kapten.

[2] Kulon Progo berarti “Sebelah barat Kali Progo”

Ikuti update terbaru di Channel Telegram Eramuslim. Klik di Sini!!!

loading...

Baca Juga

Novel Lainnya

Trending