Senin, 16 Muharram 1444 H / 15 Agustus 2022

Antara Biscuit dan Silaturahim Palsu

Awas! Menjelang lebaran banyak beredar biscuit palsu! Begitu bunyi sms yang kuterima dari beberapa sahabatku, pertengahan Ramadhan lalu. Astaghfirulloh! Sudah sedemikian parahkah pemalsuan / pembajakan di negeri ini, sampai-sampai produk biscuit pun dipalsukan?, aku membatin, prihatin. Tapi keprihatinanku segera berakhir karena biscuit palsu yang mereka maksudkan ternyata tidak sama dengan yang aku bayangkan. Berbagai makanan ringan – khas lebaran – seperti kerupuk, emping dan rengginang dalam kaleng bekas biscuit itulah yang mereka maksudkan.

Selain sms tersebut, beberapa sahabat blogger juga sempat menjadikan ‘biscuit palsu’ sebagai bahan tulisan mereka. Berbeda ketika pertama kali membaca sms, saat membaca judul tulisan aku sudah bisa menebak kemana arah tujuan mereka. Karena itu pula, saat silaturahim ke rumah beberapa sahabat dan kerabat lebaran kemarin, aku tidak lagi kaget melihat beberapa kaleng biscuit ‘palsu’ berjajar di meja. Yang membuat terkejut justru masih saja kutemukan silaturahim ‘palsu’.

Masih ada orang yang memanfaatkan silaturahim untuk sebuah tujuan yang sebenarnya tak lebih dari sekedar ajang untuk pamer. Baju yang indah, kendaraan yang mewah, perhiasan di leher, jari dan pergelangan tangan hingga nyaris seperti toko berjalan. Sayangnya, setelah semua dipertontonkan, mereka berlalu begitu saja tanpa meninggalkan apapun untuk saudaranya nikmati, kecuali satu rasa manusiawi yang jika dituruti akan mendatangkan iri di hati.

Jika ada yang kecewa karena mendapati biscuit ‘palsu’, sebenarnya tidaklah terlalu. Meski isi yang ditemui tak sama dengan gambar yang tertera di kemasan, tetap saja masih ada yang bisa dinikmati. Tapi bila silaturahim palsu, ini benar-benar membuat kecewa. Semoga kita terhindar dari melakukan hal yang semacam ini. Semoga pula, ketika tangan ini tergerak untuk menulis bukan karena terdorong rasa iri terhadap mereka yang berlimpah materi, tapi sebagai pengingat diri bahwa idul fitri bukan saja saat yang tepat untuk bersilaturahim, saling memaafkan, tapi juga untuk berbagi. Dan memaknai idul fitri semestinya bukan saja harinya, tapi juga hatinya.

http://www.abisabila.com

Ikuti update terbaru di Channel Telegram Eramuslim. Klik di Sini!!!

loading...

Rekomendasi

Potret Keluarga Bersahaja

Selasa, 29/05/2007 08:45

Takut Mati

Senin, 14/08/2006 11:54

Jangan Bentak Anak Itu !

Sabtu, 26/03/2011 05:45

Tausyiah Kematian Yang Tidak Disukai

Senin, 02/08/2010 07:36

Kala Hati Tak Dapat Didustai

Sabtu, 07/06/2008 15:34

Baca Juga

Tetap Bernuansa Ramadhan

Kamis, 08/09/2011 13:16

Menikah Karena Allah

Kamis, 08/09/2011 05:01

Jaringan Bebas Pulsa

Rabu, 07/09/2011 13:02

Battle in the Mind

Rabu, 07/09/2011 03:43

Jilbabku Bukan Belenggu

Selasa, 06/09/2011 13:36

The 3 A

Selasa, 06/09/2011 03:43

Pemburu Emas

Senin, 05/09/2011 14:41

Oase Iman Lainnya

Trending