Ahad, 5 Rabiul Awwal 1444 H / 2 Oktober 2022

Air Mata Berharga…

Masih tergambar jelas dipikiranku tiap peristiwa yang mengiringi kepergianmu… Masih teringat saat Bapak berkisah kala menyaksikan sakratul maut beberapa kerabatnya… ada yang mudah, ada pula yang susah.. sampai satu ketika terbesit tanya dalam benakku.. Bagaimana sebenarnya sakratul maut itu terjadi…

Mama…
Masih kuingat rasa sakit yang kau derita sepulang engkau membantu Ibu Mut September 2000 silam yang berencana akan menggelar pernikahan anaknya.. namun dalam sakit itu engkau terlihat begitu tenang sampai akhirnya adik2mu membawamu ke rumah sakit bersamaku dan Ibaad.. waktu itu setelah beberapa hari pengobatan di dokter 24 jam namun engkau tak kunjung sembuh…

Masih kuingat bagaimana sulitnya perawat memasang infus di pergelangan tangan kirimu hingga akhirnya berhasil…

Masih kuingat saat Bapak datang menemuimu dengan membatalkan pengajian yang sebelumnya sudah diagendakan tapi engkau menyuruh Bapak untuk memenuhi janji tersebut karena sudah ada aq dan Ibaad yang menjaganmu..

Masih kuingat saat beberapa kali darah ditanganmu naik ke selang infus dan aq panik bersegera melapor ke suster namun suster2nya terlihat begitu santai seolah hal tersebut bukanlah hal yang dianggap darurat dan aq marah kepada suster itu…

Masih kuingat saat aq menyuapimu sambil menangis karena rasa kesal kepada suster itu lalu kau mengusap air mataku dan berkata: gak apa2…

Masih kuingat saat aq terlelap disamping tempat tidurmu dan tiba2 engkau merasa tubuhmu panas dan Ibaad bersegera mengambil es batu lalu aq yang mengompres dahimu…

Mama..

Masih kuingat saat engkau lalu terlelap dan tiba2 kembali terbangun.. matamu menatap lurus ke atas langit2 kamar sambil bergumam.. Ya.. engkau mengucapkan ayat2 qur-an lalu berdoa meminta Allah menjaga anak2mu.. dan makin lama kata2 yang kau lontarkan semakin tidak jelas.. sampai seorang Ibu disebelah menyuruhku memanggil suster… Saat itulah engkau dibawa ke sebuah ruangan dengan tergesa2 dan kami diminta menunggu di luar…….

Hingga akhirnya.. dokter jaga keluar dan bertanya kepada kami : Dimana Bapak kalian? Dan kami menjawab: Bapak sedang mengisi pengajian. Ada apa dok? Lalu dokter berkata: Ibu kalian meninggal.. Kami pun berlari menuju ruangan ICU dan nampak dengan jelas engkau terbujur kaku dengan beberapa alat2 terpasang ditubuhmu… Aq memandangimu seakan tak percaya kalo engaku telah pergi.. bukan dalam waktu yang sebentar namun selamanya… hingga akhirnya tangispun tumpah ruah..

Ya Rabb apakah tadi baru saja Kau perlihatkan peristiwa Sakratul Maut yang sering dikisahkan Bapakku.. Apakah tanya dibenakku selama ini telah terjawab?? Pertama kalinya kusaksikan bagaimana Maut menjemput orang yang aq sayang…….

Mama…
Masih kuingat saat pertama kalinya aq memandikanmu.. hal yang tidak pernah aku lakukan sebelumnya.. ya.. memandikan jenazahmu.. Bapak, aq, ibaad dan akmal waktu itu.. begitu pula ingatan saat terakhir kalinya aq menciummu.. wajahmu terasa sangat dingin…

Mama.. di awal2 kepergianmu kadang aq sering bertanya apakah ini nyata? Beberapa kali kuusap wajahku berharap semua ini hanya mimpi semata… tapi bukan!!!! … Tak jarang pula kusaksikan saat Bapak memimpin sholat jamaah tiba2 beliau menangis…

Masih kuingat saat orang2 melayat.. sahabat2mu datang ke rumah dan saat itu Bahar (putramu yang paling bungsu) bergelayut dipundakku… ya mama, bahar masih belum mengerti akan kejadian ini.. masih kuingat pula saat teman2 sekolahku datang dan sahabat dekatku berpamitan saat pulang dan berbisik di telingaku : ”Uty kalo ada apa2 cerita ya” dan saat itu pula tangisku pecah…

Mama.. kepergianmu adalah duka mendalam bagi kami.. aq belum sempat mengabdi kepadamu… aq belum sempat mempersembahkan hal berharga kepadamu.. bahkan aq justru sering mengabaikan nasihat2mu..

Mama.. kepergianmu mengajarkan aq banyak hal.. bagaimana menjadi kakak sekaligus Ibu bagi adik2ku.. engkau yang membentukku menjadi seperti sekarang…

Mama.. meski engkau tak ada saat pengumuman kelulusan SMAku atau disaat aq masuk ke perguruan tinggi negeri (seperti keinginan terhadap anak2mu yang pernah kau lontarkan dulu)… meski kau tak hadir menemaniku saat wisudaku berlangsung.. meski aq tak bisa memberikan gaji pertamaku saat aq bekerja… meski kau tak ada saat aq bersyukur lulus tes PNS seperti yang kau impikan dulu.. meski aq tak bisa mengenalkanmu kepada calon suamiku… meski kau tak ada ditengah2 hari bahagiaku.. tapi aq selalu berdoa agar engkau bisa menyaksikan peristiwa2 indah tersebut dari tempat engkau berada kini…

Mama.. aq rindu.. aq memang menangis.. tapi aq ingin kausaksikan betapa berharganya air mata yang berderai ini menjadi berharga bagiku.. bagi hidupku..

Ya Rabb.. izinkan aq bertemu dengannya melalui mimpi..

Jogjakarta, Pk. 0:22, 27 Juli 2009.
Di heningnya malam…

Ikuti update terbaru di Channel Telegram Eramuslim. Klik di Sini!!!

loading...

Baca Juga

Ketika Cinta Tidak Perlu Diberi Nama

Kamis, 24/12/2009 07:13

Menguji Cinta dan Keikhlasan

Rabu, 23/12/2009 13:17

Sebuah Doa Di Hari Ibu

Selasa, 22/12/2009 14:22

Belajar Dari Si Kecil Yang Autis

Senin, 21/12/2009 15:14

Oase Iman Lainnya

Trending