Kamis, 10 Rajab 1444 H / 2 Februari 2023

Obama, oh Obama

Semua orang melihat bom fosfor itu disembur, kuning pekat dengan suhu ribuan derajat menghambur dari perut jet tempur yang terbang rendah. Lalu ratusan manusia di puing-puing bangunan di bawahnya menjerit kesakitan, dengan luka bakar ganjil yang tak bisa dijelaskan dengan akal-budi. Anak-anak menjerit, ibu-ibu kesakitan, bangunan roboh berpuing-puing, pohon-pohon tandas begitu saja.

Kita semua tidak akan lupa dengan kejadian setahun lalu, saat Israel dengan beringasnya menghancur-luluh-lantakkan Gaza, dengan cara yang paling memalukan –tentu saja cara pengecut. Tak sedikit manusia yang lalu tumpah ke jalanan, menunjukkan simpati, mengutuk PBB dan dunia yang bungkam. Mungkin kita juga melakukannya, dan memekikkan lagu Michael Heart dengan lirik semangatnya. Itu semua terjadi tepat sepekan sebelum upacara pelantikan Obama sebagai presiden AS terjadi.

Di sudut yang lain, di kepulauan terpencil, dekat dengan Kuba –tapi mungkin kita semua tak pernah kesana, sebuah pulau kecil bernama Guantanamo. Di tengah pulau itu di lorong-lorong yang berjeruji layaknya penjara, jerit dan tangis menggaung seperti tak kenal waktu. Mungkin ada yang pernah membaca penyiksaan di penjara teroris: itulah yang terjadi disana. Tapi tentu, tak ada dari sekalian pembaca yang benar-benar merasakannya –merasai kengeriannya: disetrum, diinjak, disuruh mengepel dengan lidah, dicabut kuku kaki dengan tang, untuk sebuah kata “pemeriksaan”. Kebanyakan tahanan adalah para suspect teroris dan warga muslim. Teringat pula janji Obama yang berkehendak membubarkan penjara itu sekiranya benar menjadi presiden Amerika, namun kenyataannya sekarang ia masih tegak berdiri.

Kita semua mungkin sekilas mengingatnya, dari surat kabar dan jaringan maya. Namun, kebanyakan dari kita terlindung dari pelbagai horor di dunia yang menyenangkan ini. Kebanyakan kita tak tahu akan kengerian di tanah kering Gaza, kengerian di ruang-ruang interogasi Guantanamo. Kebanyakan dari kita bangun tidur, bekerja, atau cari kerja, atau ke kampus dan jajan, bercanda, nonton bioskop dan kemudian pulang untuk tidur lagi tanpa tahu bahwa nun di balik hidup rutin kita yang tak terganggu itu, ada orang-orang yang disiksa atas nama keamanan –disiksa atas nama keadilan dan perdamaian.

Kebanyakan dari kita bisa berjam-jam merasa nyaman –dengan setumpuk keluhan jika sedikit saja kenyamanan itu berkurang. Kebanyakan kita lupa, ada yang tidak adil, dan ada yang membiarkan ketidak-adilan itu terjadi.

Maka kondisi kita sebenarnya tak ubah seperti kumbang kekenyangan; meski bunga mekar berlimpah, kita tak pernah merasai kenikmatannya. Dengan setumpuk pengetahuan yang kita punya, tak ada apa yang bisa kita perbuat, apa yang kita lakukan setelahnya? Kita hanya terbuai dengan nasib baik, dengan keamanan negara, kondisi politik yang menguntungkan. Tapi sadarkah? Ada segelintir orang yang mengetahui dan memegang kunci-kunci peristiwa itu, yang seharusnya bisa berbuat adil, namun dengan demikian saja membiarkan ketidak-adilan itu terjadi.

Barangkali, inilah saat dimana kita seharusnya melakukan pekerjaan para pahlawan: keluar dari kenyamanan dan berteriak melawan. Tepatnya itulah pekerjaan orang-orang yang dengan sengaja merasai, menjiwai, merabai ketidakadilan itu, lalu bertindak, mengusahakan sesuatu untuk terjadinya perubahan.

Maka, mari kami tunjuki kawan: Ada saat dimana seorang Obama menjadi baik dan kawan bermain yang menyenangkan bagi teman-teman SD-nya di Menteng Jakarta, ada saat dimana seorang Obama kecil bercanda dengan ibunya –dan ayah tirinya yang seorang berdarah Jawa, ada saat dimana Obama berlibur ke rumah budhe-nya di perumahan Bulaksumur –di selatan Sardjito itu, tapi ada saat-saat yang jauh berbeda dari itu, kawan. Saat Amerika mengirim pasukan ke Afghanistan, saat Amerika mendirikan Guantanamo, saat Amerika mendukung perusahaannya menambangi emas Irian, saat Amerika tutup kuping ketika Israel menindas Palestina. Itulah saat yang seharusnya (juga) tidak kita lupakan.

Sungguh, untuk semua ingatan itu, kita seharusnya menjadi tidak sabar menanti tanggal 20 Maret. Obama, oh Obama, ingin rasanya bicara kata per kata, seperti sahabat lama, namun senjata-senjata itu, mesin-mesin tambang itu, mengatakan bahasa yang tak kami pahami. Maka sebaiknya kami melakukan pekerjaan para pahlawan!

Ikuti update terbaru di Channel Telegram Eramuslim. Klik di Sini!!!

loading...

Rekomendasi

WASPADA MIALGIA (PEGEL LINU)

Selasa, 21/01/2020 18:18

Bayar Zakat dengan Utang

Jumat, 07/11/2008 10:41

Menilai Hasil atau Proses?

Minggu, 16/05/2010 00:11

Finishing Tembok Rumah Baru

Kamis, 02/05/2013 10:00

Pacaran?!

Minggu, 28/02/2010 00:49

Baca Juga

Teroris Juga Manusia

Senin, 15/03/2010 13:39

Diantara Dua Mata Koin

Senin, 15/03/2010 07:13

"Ajalku belum tiba…"

Minggu, 14/03/2010 16:56

Lelaki Tua Dan Koopek (coin Rusia)

Minggu, 14/03/2010 05:56

Dan Saljupun Bertasbih

Sabtu, 13/03/2010 17:01

Amanah Seharga 30 Ribu Rupiah

Sabtu, 13/03/2010 06:09

Bilakah Harus Jatuh Cinta

Jumat, 12/03/2010 13:27

Oase Iman Lainnya

Trending