Senin, 28 Safar 1444 H / 26 September 2022

Belajar dari Negeri Seribu Menara.

Waktu Cairo nampak mulai berubah dari musim dingin menuju musim semi, saat di mana tubuh ini harus berbalut dengan jaket tebal, untuk sekarang baju lengan pendek pun sudah saatnya di pakai. Siang itu saya mendapat undangan untuk menjadi moderator dalam acara latihan menulis dan menerjemah di daerah Kattamea yang jauhnya mencapai seratusan kilo dari asrama saya yang bertempat di daerah Abbasea.

Perjalanan dari Abbasea ke Kattamea memang jauh, naik bis dua kali dan memakan satu jam, belum lagi nunggu busnya, tapi siang itu saya memang kurang beruntung setelah setengah jam menunggu, baru dapat bis, itu saja penuh dengan penumpang, akhirnya dengan terpaksa saya naik bis itu meski tak ada tempat duduk yang kosong.

Setelah sampai di daerah Sayyidah Aisyah, daerah tempat sayyidah Aisyah, isteri Rasulullah di makamkan. Saya kembali naik bis untuk kedua kalinya, dan Alhamdulillah saya dapat tempat duduk, meski banyak orang lain yang berdiri, bergelentungan, dan berdesak-desakan. Saya dapat menikmati hamparan pasir, beraneka ragam gedung menjulang tinggi. Perusahaan dan pertambangan Mesir membuat suasana khas dengan alam arab nya.

Tanpa saya sadari di tengah-tengah perjalanan saya menuju kattamea, ada seorang wanita hendak menaiki bis yang saya naiki, tapi sayang semua tempat sudah penuh di penuhi semua penumpang, tapi dengan segera saya lihat salah satu lelaki yang naik bismempersilahkan tempat duduknya untuk ditempati oleh si wanita itu dan dirinya memilih berdiri demi wanita itu, tak lama kemudian bus semakin penuh dengan penumpang, saya semakin merasa tidak nyaman, udara semakin terasa panas, saya nyalakan mp3, untuk mnghidupkan suasana hati yang jenuh menghadapi suasana desak-desakan. Tanpa sengaja temanku dari satu negara terdesak dan kena tubuh wanita Mesir langsung saja si bapak yang ada di sampingnya marah-marah, saya sendiri tak tahu kenapa bapak itu marah, "ah mungkin saja bapak itu salah faham" gumamku dalam hati, ternyata sangkaanku itu salah saat salah satu dari teman yang lain bilang kalau "Wanita di Mesir ini sangat di hormati sekali ente menggoda cewek mesir hati-hati kalau sampai ada yang memukul ente." Sayapun mulai faham kenapa si bapak itu marah saat si wanita itu terdesak oleh orang lain.

Setelah beberapa menit saya direngkuh kebisingan yang membosankan, akhirnya sampai pada tujuan, Kattamea, saya maju ke depan untuk siap-siap turun dari bis, namun di depan ada seorang bapak tua yang juga ingin turun, ugh, bapak ini gumamku. nazil?? (artinya turun??) Tanyaku. Insya Allah, ucap bapak itu. Saya pun tak jadi memarahi bapak itu, saya tersenyum manis kepadanya, setelah mendengar bapak itu mengucapkan Insya Allah.

Sejak saat itu saya senang sekali untuk mengucapkan insya Allah dalam banyak hal, saya teringat ketika nabi Muhammad di lerai Allah karena lupa tidak mengucapkan Insya Allah, ketika ada beberapa orang Quraisy bertanya kepada Nabi tentang roh, kisah ashhabul kahfi (penghuni gua) dan kisah dzulqarnain lalu beliau menjawab, datanglah besok pagi kepadaku agar aku ceritakan. Dan beliau tidak mengucapkan "Insya Allah", tapi kiranya sampai besok harinya wahyu terlambat datang untuk menceritakan hal-hal tersebut dan Nabi tak dapat menjawabnya. Maka turunlah ayat alkahfi 23-24, sebagai pelajaran terhadap Nabi; dan Allah mengingatkan juga bilamana Nabi lupa menyebut Insya Allah haruslah segera menyebutkan kemudian.

Pelajaran kedua yang dapat saya petik adalah penghormatan terhadap seorang wanita yang sangat dijunjung tinggi, saya teringat dengan ayat-ayat Allah yang banyak menjunjung tinggi derajat wanita di dalam banyak kisah di dalam Al-Qur’an di antara salah satunya yaitu kisah Maryam. Dan ketika malaikat berkata kepada Maryam Wahai maryam Allah telah memilihmu dan mensucikanmu atas para wanita di muka bumi ini.wahai maryam beribadahlah kamu dan bersujudlah dan ruku’lah beserta orang-orang yang ruku’ (QS: Ali Imran 42-43) bahkan nabipun menggambarkan kedudukan mulianya seorang wanita dengan menggambarkan surga ada di telapak kaki ibu.

Kejadian kecil ini nyaris membuat saya salut dan kagum subhanallah betapa agungnya nilai keberagamaan dan nilai-nilai Islam di negeri seribu menara ini, barang kali inilah perbedaan mencolok antara indonesia dan Mesir, kalau di indonesia yang saya temui hanyalah seorang wanita berlengkak-lengkok menggoyangkan pinggulnya dan di saksikan oleh para ribuan penonton, dan lebih parah lagi media TV menyiarkan hal-hal seperti itu.justru sebaliknya di Mesir wanita di muliakan seperti kejadian kecil di atas. Rasanya kita musti belajar lebih banyak tentang akhlakul karimah dari negeri Tempat Imam Syafi’i dimakamkan ini.

Ikuti update terbaru di Channel Telegram Eramuslim. Klik di Sini!!!

loading...

Baca Juga

Berserikat Dalam Kemaksiatan

Kamis, 06/03/2008 16:22

Keimanan Itu Masih Ada

Kamis, 06/03/2008 03:16

Mengubur Maksiat Menebar Manfaat

Rabu, 05/03/2008 16:03

Hanya Ia yang Setia

Rabu, 05/03/2008 06:57

Apa Kabar Mutiaraku….

Selasa, 04/03/2008 16:05

Kesedihan Itu Indah…

Senin, 03/03/2008 05:17

Sang Kakek

Minggu, 02/03/2008 06:56

Oase Iman Lainnya

Trending