Kamis, 29 Zulqa'dah 1443 H / 30 Juni 2022

Bertahan dengan 3000 Rupiah

Ada satu pengalaman menarik yang saya hendak ceritakan; salah satu pengalaman yang turut memperkuat dan memperkaya pemahaman saya mengenai Islam. Kisah ini adalah salah satu sekian kisah yang memberikan pelajaran yang membekas dalam diri saya dalam 3 – 2 tahun belakangan ini. Sudah beberapa bulan ini saya dan istri berada dalam masalah likuiditas, Kami harus pandai – pandai mengatur pengeluaran sehingga dapat bertahan di setiap bulannya.

Di Minggu malam itu sambil mempersiapkan pakaian dan peralatan kantor untuk bekerja ke-esokan hari, saya memeriksa isi dompet sambil memperhitungkan kira2 berapa besaran pengeluaran yang akan saya keluarkan dalam 1 minggu mendatang. Ternyata apa yang saya temukan:? Hanya uang 3 ribu rupiah di dalam dompet saya. Terlintas dalam benak; sanggupkah saya bertahan dengan uang tersebut? Padahal saat itu masih 7 hari menjelang gajian. Langsung saya berpikir keras mencari langkah untuk menutupi kekurangan; akhirnya terpikir untuk menghubungi beberapa teman yang masih berhutang kepada saya. Malam itu sulit bagi saya untuk memejamkan mata, timbul rasa cemas jika langkah yang akan saya ambil tidak berjalan sesuai dengan rencana. Setelah lelah berpikir akhirnya saya bisa tertidur pulas.

Senin pagi; saya memulai kegiatan dengan normal. Berangkat ke kantor bersama dengan adik; kebetulan kami berangkat ke kantor dengan mengendarai mobil yang sama. Setiap hari mengantar beliau ke kantor, baru melanjutkan perjalanan ke kantor saya dengan mengendarai mobilnya. Sore hari saya menjemput di kantornya; untuk bersama – sama pulang ke rumah. Pagi itu di sepanjang perjalanan pikiran saya tidak tenang. Saya kirimkan SMS kepada 2 orang teman untuk menagih pembayaran; dengan harapan saya akan menerima pembayaran di siang harinya. Sepanjang perjalanan, sambil mendengarkan radio saya mencoba menenangkan diri dengan ber-zikir di dalam hati.

Sampai di kantor, sebelum memulai aktifitas saya melakukan untuk Shalat Dhuha. Sejak 2 bulan ini saya mencoba untuk membiasakan diri melaksanakannya; sebagai salah satu langkah untuk lebih mendekatkan diri kepada Allah SWT; meminta bantuan-Nya mencaria jalan keluar dari masalah yang sedang saya alami; dan sebagai cara bersedekah dengan jiwa & raga saya selain bersedekah dengan materi. Selesai shalat masuklah SMS dari ke 2 teman saya, menyatakan bahwa mereka tidak bisa melakukan pembayaran saat ini. Mereka meminta tempo, karena mereka juga mengalami masalah likuiditas yang berat. Putuslah sudah harapan saya; langsung terbayang kemungkinan terburuk apa yang dapat terjadi jika selama 1 minggu ke depan saya hanya berbekal uang sebesar 3 Ribu Rupiah.

Mampukah saya bertahan; apalagi tugas di perusahaan mengharuskan saya sering bepergian mengunjungi klien. Walaupun ada mobil pribadi yang bisa dikendarai, tetap saja ada pengeluaran bensin, parkir dan keperluan tak terduga; seperti ban kempes, mobil mogok dan kemungkinan lainnya. Selama ini juga bepergian, paling tidak saya harus mempunyai uang pegangan sebesar 50 Ribu. Kebetulan hari itu saya tidak perlu keluar kantor karena harus menyelesaikan beberapa laporan. Hati saya sedikit tenang; saya bisa bertahan karena tidak perlu mengeluarkan uang sedikitpun. Walaupun begitu, tetap kecemasan berkecamuk di diri saya memikirkan langkah apa lagi yang dilakukan untuk bertahan hingga akhir bulan, Saya tidak bisa khusuk melakukan shalat Dhuhur & Ashar karena pikiran buruk dan cemas selalu menghantui. Saya berpikir betapa malangnya nasib saya saat itu; hanya mempunyai sedikit uang untuk bertahan.

Sore hari dalam perjalan pulang, seperti biasa saya harus menjemput adik di kantornya di Blok M. Kebetulan kantor beliau lokasinya berhadapan dengan salah satu mesjid besar di daerah tersebut. Jika biasanya saya sering shalat Maghrib di kantornya, hari itu saya berkeinginan untuk shalat Maghrib di mesjid tersebut. Sampai disana, ternyata baru selesai adzan dan Alhamdulilah saya bisa mengikuti shalat Mahgrib berjamaah. Selesai shalat, kali ini saya menghabiskan waktu lebih lama untuk berdoa dibandingkan dengan biasanya. Sambil membaca doa yang biasa saya panjatkan; satu permohonan terlontar: agar Allah SWT menjaga saya dan keluarga beberapa hari ke depan; dan menjauhkan hal – hal yang tidak di-inginkan hingga kami bisa bertahan dengan uang yang tersisa.

Selasa pagi, saya memulai rutinitas dengan normal. Sampai di kantor setelah shalat Dhuha, hati saya bertambah tenang, saya sudah pasrahkan diri kepada Allah SWT, saya yakin akan selalu berada dalam perlindungan-Nya. Selain hari senin, saya biasanya mempunyai meeting dan mengunjungi beberapa klien. Biasanya saya bepergian bersama teman dari divisi lain yang kebetulan menangani bidang pekerjaan yang yang sama. Minggu & hari yang lalu kami melakukan kunjungan dengan mengendarai mobil saya; namun pagi ini tidak ada keberanian menawarkan kepadanya untuk bepergian mengendarai mobil saya. Sambil menjawab email yang masuk, sempat terlintas untuk tidak bepergian keluar kantor di beberapa hari mendatang; saya bisa melakukan penawaran dan follow up klien yang ada melalui email.

Jam 9 lewat 10 menit teman saya menghampiri dan bertanya: “Pak minggu ini rencana kita kemana?” Saya terdiam, melihat saya diam beliau kembali berbicara; “Pak, minggu ini saya mau mengunjungi ini…ini…dan ini”. Dia beberkan alamat klien yang sudah disusunya. Saya tidak tahu harus berkomentar apa; Teman saya melanjutkan: “Karena minggu & hari yang lalu saya sudah numpang mobil bapak, minggu ini kita naik taxi aja. Kebetulan voucher saya masih tersedia, udah gitu Bapak juga capek harus nyetir dan cari tempat parkir. Minggu ini kita santai – santai aja pakai Taxi”. Alhamdulilah….Seketika itu juga saya merasa lega. Hilanglah sebagian kecemasan yang melingkupi saya. Dengan segera saya jawab: “OK, Mbak…kita jalan 10 menit lagi”. Sepanjang perjalanan saya mengucap syukur kepada Allah SWT, Beliau telah memberikan jalan keluar dari sebagian kesulitan yang saya hadapi. Hingga akhir bulan, saya tidak perlu memikirkan pengeluaran uang parkir dan bensin.

Kejadian ini sangat membekas dalam diri saya; Allah SWT telah memberikan jalan keluar dari kesulitan saya. Dengan hanya pasrah dan menyerahkan diri kepada-Nya, Allah tunjukan jalan yang tiada saya duga. Saya teringat suatu perumpamaan; jikalau sedang menuju suatu tempat dengan membawa karung yang berat; di tengah perjalanan kita berpapasan dengan satu truk menawarkan tumpangan menuju ke arah yang sama. Tentu saja kita menerima tawaran tersebut. Tugas kita hanya tinggal naik, letakan beban kita diatas truk dan mengikuti jalan truk tersebut hingga sampai ke tempat tujuan. Di sepanjang perjalanan menaikin truk tersebut, lepaskan beban berat tersebut dari pundak kita. Serahkanlah beban berat ke hadapan Allah SWT; berpikir dan berusaha terbaik yang kita mampu dan biarkan Allah SWT mengerjakan yang selanjutnya

Ya Allah SWT Ya Rabbi, pertajamlah mata hati saya yang selama ini masih tertutup; bukalah akal pikiran saya; bahwa selama ini esensi dari agama-Mu bukanlah hanya sekedar ritual Shalat dan Puasa. Tapi juga membawa serta sifat-sifat-Mu ke dalam setiap langkah saya. Ijinkanlah saya menerima pembelajaran dari setiap kejadian dan masalah yang Engkau berikan kepadaku. Amien ya Rabb Al Amien.

Ikuti update terbaru di Channel Telegram Eramuslim. Klik di Sini!!!

loading...

Baca Juga

Rezeki, Tapi Bukan Rezeki

Senin, 13/07/2009 14:13

Sakit Yang Menyenangkan

Minggu, 12/07/2009 06:40

Memanusiakan Manusia

Sabtu, 11/07/2009 17:33

If I'am Boring

Sabtu, 11/07/2009 05:38

Ibu, Sinonim Cinta

Jumat, 10/07/2009 14:04

Memaknai Waktu Luang

Jumat, 10/07/2009 05:57

Warnet Apa Penitipan Anak, Bang!

Kamis, 09/07/2009 14:00

Oase Iman Lainnya

Trending