Rabu, 8 Rabiul Awwal 1444 H / 5 Oktober 2022

Bila Waktunya Telah Tiba

Masih terngiang di telinga saya teriakan-teriakannya yang berusaha mencuri perhatian, gaya-gayanya yang mengundang gelak tawa, atau pertanyaan-pertanyaanya yang sangat berbeda dengan anak-anak usia sebayanya, aktifitasnya yang lincah, bahkan tidak sedetik pun diam kecuali di situ dia mengerjakan satu permainan. Terkadang saya dibuatnya terheran-heran atas kecerdasannya melihat sebuah persoalan. Sampai suatu saat ketika ayahnya ’tidak pulang’ selama 2 hari, dia berkata-kata dengan tembok, ”Kok ayah ndak pulang ya, apa ayah marah sama saya, Ma”. Sangat lucu.

Ya, dia adalah putra dan putri sahabat saya. Keluarga muda yang hidup penuh kesederhanaan, kearifan dan kesabaran mengahadapi setiap masalah. Sebuah keluarga yang selalu menjadikan keimanan dan ketakwaan dalam melandasi setiap pemecahan problem tak terkecuali terhadap anak-anak mereka.

Sabtu yang lalu, saya berkunjung ke rumahnya. Di kawasan sekitar perumahan Tidar. Waktu itu tujuan saya berkunjung yang pertama adalah silaturahmi, kedua saya memang ingin berkenalan dengan putra putrinya yang setiap hari saya lihat di layar chating-nya, ketiga saya ingin belajar kepadanya karena dalam waktu dekat ini saya akan melangsungkan pernikahan, jadi sebagai studi banding untuk kehidupan keluarga yang akan saya bina kelak.

Saya tiba di rumahnya sekitar jam 14.15 WIB. Biasanya jam ’segitu’ saya masih asyik dengan tut-tut di papan keyboard saya. Tapi karena hari itu Sabtu, saya kerja setengah hari saja, sehingga waktu yang tersisa saya manfaatkan dengan sebaik-baiknya. Sejak pertama kali saya menginjakkan kaki di rumahnya, saya disambut oleh ’ocehan’ anak pertamanya yang sangat luar biasa. Saya katakan luar biasa karena umumnya anak seusianya cenderung menutup diri dengan kehadiran orang-orang asing di sekitarnya. Tapi tidak dengan anak ini, ia begitu berani menunjukkan eksistensi dirinya di hadapan saya, dengan gayanya khas anak-anak, ia berbicara ’melebihi ambang batas’ karena memang demikianlah anak-anak, suka mencuri perhatian orang asing dan saya hanya tersenyum senang melihatnya. Muhammad Husein Haekal namanya, sungguh indah. Saya sempat teringat dengan nama seorang pengarang buku Sirah Nabi dan buku-buku ke-Islaman lainnya ”Muhammad Khair Haekal”. Semoga kelak engkau seperti beliau atau bahkan melebihinya.

Tanpa terasa, waktu menunjukkan pukul 15.00, saatnya Haekal harus mengaji Al-Quraan di sebuah TPQ yang tidak jauh dari rumahnya. Tanpa ba bi bu dan beralasan, ketika mamanya mengajaknya mandi, subhanallah, ia langsung mengerjakannya dan begitu penurut. Sampai akhirnya ia berangkat. Selang beberapa waktu, bidadari kecil sahabat saya terbangun dari mimpinya yang indah, Hafshah dia punya nama. Namun ia masih malu-malu menyambut kehadiran saya, maklum, biasanya bangun tidur memang demikian adanya, tak terkecuali orang dewasa. Tapi saya tetap berusaha agar dia menerima kehadiran saya dan lambat laun kontak kami mulai ada meskipun sang putri malu masih menghinggapi dirinya.

Kebetulan hari itu hujan rintik-rintik, saat yang tepat untuk makan yang hangat-hangat. Alhamdulillah, penjual tahu campur lewat. Sahabat saya pesan dua mangkok besar, satu untuk saya dan satunya untuk dirinya sendiri. Tapi bukan tahu campur dan mangkok besarnya yang menjadi perhatian saya, tapi saat kami makan yang bikin saya cemburu dan iri bahkan ingin segera meraihnya. Ya…, dia begitu kasih, begitu sayang menyuapi sang bidadari kecilnya. Ya Allah, berikanlah saya keluarga yang di dalamnya ada cinta, kasih dan kemesraan yang bersemi indah. Berikan saya buah hati yang dengannya hati kami semakin dekat dengan_Mu, memuji akan Kebesaran_Mu dan syukur atas Karunia_Mu.

Akhirnya waktu menunjukkan pukul 16.00 WIB, saatnya Haekal pulang dari mengaji. Ia pulang membawa oleh-oleh untuk dirinya dan adiknya. Saya lihat mereka begitu rukun, saling berbagi dengan makanan yang sama, kuning telur puyuh dengan sedikit saus dan kecap dalam sebuah plastik kecil, 500 rupiah harganya.

Saat itu mulailah saya melihat sepasang ’atlet’ mulai beraksi. Locat sana sini, naik sana sini, terkadang tiduran di lantai, naik sepeda pancal, mobil-mobilan dengan mouse, naik motor untuk ojek-ojekan, main plorotan di busa kasur dan banyak lagi yang lainnya. Capekkah mereka, tentu jawabannya tidak. Karena memang sesusia mereka adalah masa-masa aktifnya, masa-masa emas untuk menanamkan pelajaran dan pengetahuan karena kebersihan hati dan otaknya. Saya pun sampaikan ke sahabat saya ”Mas, anak kecil itu kebalikan dari orang tua. Kalo anak kecil lincah dan gesit berarti dia sehat, kalo diam saja berarti dia lagi sakit. Beda dengan orang tua, kalo ada orang tua lincah dan gesit berati dia lagi sakit, tapi kalo diam dan tidak banyak ’tingkah’ berarti dia sehat.”

Waktu pulang pun tiba karena memang tidak ada rencana untuk menginap. Saya berpamitan kepada semua anggota keluarga sahabat saya. Dalam perjalanan pulang, suatu keanehan menghinggapi diri saya, rindu dalam dada saya seolah-olah memuncak, perasaan saya seolah tak ingin jauh dari mereka berdua, Haekal & Hafshah. Bahkan sebelum sampai di rumah, saya mampir ke sebuah wartel untuk menelpon ke rumah sang sahabat. Saya ingin mendengar suara-suara lucu mereka, jawaban-jawaban polos yang mereka berikan seakan menambah besar kerinduan ini.

Ya Allah, sudah waktunya kah saya? Sudahkah saya harus bersiap diri untuk menerima amanah darimu? Sudah waktunya kah saya membangun dan membina sebuah keluarga yang di dalamnya ada sakinah, mawaddah dan rahmah? Keluarga yang menjadikan setiap orang bahagia ketika melihatnya. Keluarga yang akan menguatkan dan memperteguh perjuangan ini. Keluarga yang akan menjadi tameng bagi kami untuk terhindar dari kemaksiatan kepada-Mu?

Ya Allah, jika benar dugaan kami sebagai seorang hamba, maka berikanlah Ya Allah bagi kami kemudahan untuk meraihnya, tunjukkan kami jalan yang lurus untuk menggapainya, bimbinglah hati kami senantiasa agar keluarga yang kami miliki menjadi keluarga teladan sebagaimana keluarga yang dimiliki oleh junjungan kami, Rasulullah Muhammad SAW. Jadikanlah keluarga kami menjadi penerang hati kami dikala kami tersesat dari jalan-Mu. Jadikanlah keluarga kami menjadi jalan untuk meraih surga-Mu, bukan menjadi jalan bagi kami untuk terjerumus ke dalam neraka-Mu.

Wahai sahabat, marilah bersama-sama kita membangun keluarga kita dengan landasan agama. Kita jadikan keluarga kita sebagai wasilah untuk saling menasehati dikala diri terjerembab dalam lubang kelalaian. Karena istri & anak-anak kita merupakan amanah dari Allah yang harus senantiasa kita jaga. Sekali lagi, mari kita jadikan keluarga kita sebagai keluarga Sakinah, Mawaddah Wa Rahmah. Amin

sazad_5 at yahoo dot com

Ikuti update terbaru di Channel Telegram Eramuslim. Klik di Sini!!!

loading...

Baca Juga

Ayahku, Idolaku

Rabu, 28/12/2005 10:54

Oase Iman Lainnya

Trending