Senin, 16 Muharram 1444 H / 15 Agustus 2022

Catatan Harian dari Negeri Para Nabi

Segenap puja dan puji hanyalah diperuntukkan ke hadirat Allah. Lakal hamdu wa lakasy syukru ya Rabb. Aku bersyukur bisa datang ke negeri ini, Mesir. Dulu, itu hanyalah mimpi, namun kini diriku telah tinggal dan hidup disini. Banyak hal yang telah ku temui dan telah memberi warna indah dalam kehidupanku.

Teman-teman yang soleh, yang selalu ‘berkejar-kejaran’ datang ke mesjid demi shalat di shaf pertama. Teman-teman yang tak pernah bosan mengayuh kaki untuk menimba ilmu di Univ. Al-Azhar. Lingkungan tempat tinggal yang begitu mendukung ku untuk selalu mengenal hakikat diri sebagai seorang hamba Allah dan penuntut ilmu.

Disini, di negri para Nabi ini aku belajar mengenal siapa diriku. Di negri ini aku bertemu dengan berbagai saudara dari berbagai negara, membawa semangat yang sama dan spirit yang begitu tinggi untuk menuntut ilmu.

Di negri ini pula, adalah hal yang biasa ketika orang membaca al-Qur`an di halte, saat-saat menunggu bis, atau di dalam bis. Dan di negri ini, begitu mudahnya salam terucap pada saudara se-iman.

Negri yang memberiku sejuta harapan dan membangkitkan padaku beribu inspirasi dan motivasi. Negri yang membuatku sadar bahwa hidup di dunia hanyalah sebuah persinggahan sementara. Negri yang mengajarkan padaku arti kerja keras, kesungguhan, ketabahan dalam menjalani hidup, menggapai cita-cita, dan menuntut ilmu. Disinilah mentalku dilatih, jiwaku dididik, hatiku dibina, pikiranku diasah, dan imanku diuji.

Usai shalat subuh berjamaah di mesjid, di pagi yang syahdu, aku sering merenung sejenak, tentang diriku yang kini singgah di negri para nabi, sungguh sebuah nikmat yang tak terhingga.

Di negri ini aku mengenal teman-teman yang soleh, yang ketika melihat mereka membuatku ingat pada Allah dan akhirat, teman-teman yang penuh semangat, yang ketika berbincang dengan mereka, membuatku seolah telah jauh tertinggal ilmu dari mereka. Negri yang telah mempertemukanku dengan hamba-hamba Allah yang taat. Negri yang diberkahi, negri para nabi. Mimpiku telah menjadi kenyataan.

Ya, teman-teman yang bagiku sebuah anugerah terindah yang diberikan Allah padaku. Teman-teman yang rela menahan rasa kantuk untuk i`tikaf di mesjid setelah subuh. Teman-teman yang seakan tak penah bosan berdiri dan bersujud sepanjang malam di hadapan Allah. Teman-teman yang tak pernah absen berpuasa senin & kamis, dan teman-teman yang punya kepedulian yang tinggi membantu saudara-saudara yang kesulitan.

Disini, di negri ini,  aku belajar makna sebuah cinta fillah, berbuat lillah, dan beramal karena Allah. Dari mereka ku reguk nasihat-nasihat berharga, dan dari akhlak mereka aku belajar akhlaknya Rasulullah. Ya, aku merasa cintaku pada Allah semakin  tumbuh dan bersemi semenjak ku menginjakkan kaki di negri ini, negri yang diberkahi.

Di negri ini, hari-hari yang indah ku jalani dengan teman-temanku. Hari-hari memburu  ilmu, hari-hari merangkai ukhuwah, dan menebar dakwah. Hari-hari  yang menyenangkan, hari-hari yang semakin membuatku menjadi lebih soleh, lebih peduli terhadap sesama, dan lebih alim. Aku semakin bersemangat menimba ilmu, aku semakin terpacu untuk menjadi lebih baik.

Waktu terus berlalu, si fulan tetangga rumahku telah selesai menamatkan al-Qur`an dalam waktu yang cukup singkat, kurang dari setahun. Teman dekat ku pun telah selesai menghafal hadits arba`in. Semuanya saling berlomba dengan yang lain. Berlomba dalam ibadah, menuntut ilmu, beramal, dan kebaikan.

Yang lain pun begitu sibuk dengan kegiatan dakwah, dengan jilsah imaniyah, dengan malam-malam ukhuwah untuk membina iman dan takwa. Malam-malam yang ditemani dengan renungan-renungan indah penyejuk kalbu dan penentram jiwa. Malam-malam merangkul kebersamaan.

Mereka memandang bahwa Islam adalah agama yang luas, yang rahmatan lil`alamin, agama yang membawa rahmat ke seluruh alam, agama yang tinggi dan agung. Agama yang komprehensif, yang mencakup seluruh lini kehidupan, berjuang demi tersebarnya dakwah dan ajaran-ajaran islam yang membawa pesan-pesan perdamaian, kesejahteraan, keadilan, dan ketentraman. Perjuangan yang patut didukung dan diberi apreasiasi tinggi.

Mereka juga adalah orang-orang yang cinta pada ilmu, mereka selalu meramaikan majlis-majlis ilmu. Ahmad-nama samaran- hampir tak pernah absen hadir talaqi di Azhar. Lain halnya Riyan-nama samaran-, seolah tidak pernah merasa capek mengayuh sepeda dari Hay Sabi` ke Hay `Ashir untuk menghadiri talaqi dengan seorang syaikh, itu ia lakukan setiap hari. Dan banyak lagi, yang tak mungkin ku sebutkan satu persatu.

Rahmat-nama samaran-, walau pesatnya kecanggihan teknologi tidak membuatnya terjebak dan terlena. Waktunya di depan komputer selalu dipakai untuk membaca artikel-artikel keislaman, mendengar ceramah dari berbagai masyaikh, menulis pesan-pesan dakwah di berbagai forum dan media,  semua itu ia lakukan dengan semangat keimanan yang menggelora. Di tengah kesibukannya, ia tak lupa untuk selalu menyempatkan waktu bersilaturahmi pada yang lain.

Tak jauh beda dengan Raihan-nama samaran-, setiap hari, setiap usai shalat ashar ia selalu menyempatkan waktu bersilaturahmi  ke rumah-rumah mahasiswa, dalam rangka saling mengajak pada kebaikan dan merekat ukhuwah.

Aku bersyukur pada Allah bisa mengenal, bergaul, dan  menimba ilmu serta kebaikan dari mereka. Manusia-manusia yang hadir membawa rahmat dan kebaikan pada sekitarnya.

Tiada hiburan yang lebih menemani saat-saat yang mereka lalui melainkan lantunan ayat-ayat Allah yang mereka baca di waktu pagi, siang, sore, dan malam. Itulah hiburan hati dan penyejuk jiwa. Hiburan yang menentramkan hati yang resah dan gelisah. Hiburan yang menyalakan api nurani dan spirit keimanan.

Kini, tak hentinya rasa syukur mengalir deras alam hatiku, syukur karena telah bisa menginjakkan kaki di negri ini, syukur karena telah dikenalkan pada teman-teman yang soleh, dan syukur atas nikmat ukhuwah. Aku tak merasa takut dan khawatir, karena di sisiku banyak saudara-saudara yang kapan pun aku butuh, mereka selalu datang membantu.  Saudara yang selalu memompa semangatku, menghidupkan spirit, dan membangkitkan motivasiku. 

Mereka juga selalu setia  menyuarakan kebenaran, walau ada yang tidak suka, karena mereka menyadari, hati dan pikiran manusia tidak bisa disamakan semuanya. Ada yang cepat mengerti, ada yang butuh proses. Ada yang mudah menerima dan ada yang sulit; apakah karena kondisi hatinya yang sakit atau telah terpengaruh ide dan pemikiran lain.

Aku merasa beruntung berada di negri para nabi ini, negri yang dulu pernah ku impikan. Lakal hamdu wa lakasy syukru ya Rabb…

Salam ukhuwah dari Negri Para Nabi

"Selalu belajar dan berlatih untuk bersyukur atas setiap kebaikan dan nikmat yang dicurahkan Allah dan bersabar atas kesulitan dan musibah yang menimpa. Belajar untuk memahami hidup, memandang hidup dengan bijak, dan jernih. Melihat kehidupan dengan pikiran sehat, jiwa bersih, dan hati yang salim. Dimana setiap saat kehidupan yang dilalui berupaya menjadikannya bernilai dan bermakna. Bagaimanapun juga, tidak semua yang kita lihat, dengar, rasakan, dan alami seperti yang kita impikan, tapi, kita bisa  melatih diri untuk melihat kehidupan dari sisi lain; dari sisi positif, dari sisi spirit untuk memberi warna indah pada kondisi tidak bersahabat yang kita lalui. Disanalah peran ikhlas, sabar, qana`ah, iman dengan taqdir, dan  ridha sangat dibutuhkan."

[email protected] 

www.marifassalman.multiply.com

 

 

Ikuti update terbaru di Channel Telegram Eramuslim. Klik di Sini!!!

loading...

Baca Juga

Rindu Akan Kampung Akhirat

Senin, 27/07/2009 14:00

Bahagia Menyambut Ramadhan

Sabtu, 25/07/2009 07:22

Sedekah Meringankan takdir

Jumat, 24/07/2009 07:51

Kejujuran Yang Sesat

Kamis, 23/07/2009 07:56

Merancang Kematian

Rabu, 22/07/2009 14:02

Oase Iman Lainnya

Trending