Selasa, 7 Rabiul Awwal 1444 H / 4 Oktober 2022

Catatan Seorang Suami

Menjadi suami? Hal yang dahulu begitu kuimpikan. Entahlah rasa apa yang sedang menggelegak dalam jiwa. Namun kerinduan untuk segera bertemu dengan pasangan jiwaku seolah sudah melebihi kadar kemampuan seorang lajang untuk bertahan. Dan kini aku hadir sebagai seorang suami, impian yang mewujud, ya aku kini bersanding dengan seorang bidadari.

Kemudian kini hidupku sedang penuh diliputi kejutan-kejutan. Kehidupan yang semula kupahami (seolah) sebagai kebebasan tanpa batas, kini harus benar-benar menyadari, ada hati yang harus dijaga, ada benih cinta yang harus senantiasa disemai, dipupuk dan dijaga pertumbuhannya di ladang jiwa.

Hadir sebagai seorang suami, menuntut diri untuk senantiasa menghadirkan dan membaluri pasangan kita dengan kebahagiaan, karena kebahagiaan terbesar seorang suami barangkali bukan sekedar terpenuhinya langit-langit harapan, namun melihat senyum manis bidadari kita terukir di wajahnya senatiasa adalah penghapus segala lara.

Di sinilah uniknya, cinta dan keinginan untuk memborong kebahagiaan untuknya terkadang menjadi semacam pintu untuk menyakitinya. Ironi? Barangkali bisa dibilang begitu, tapi bukankah memang itu hal wajar yang terjadi sebagai efek relasi dua orang insan berbeda yang belum pernah mengenal sebelumnya, dua presepsi tentang bahagia yang belum bersua.

Ya, kami hadir dalam keragaman, banyak warna, menyulamnya dengan benang cinta. Dan saat ini diperlukan tingkat kedewasaan yang begitu rupa untuk menahan diri menuntut pasangan kita seperti yang kita inginkan. Karena betapa pun ia tetap adalah dirinya, apa yang lebih menyakitkan dari keterpaksaan untuk menjadi orang lain bukan?

Ini hanya masalah waktu, aku menyakininya. Dan tidak diperlukan rumusan-rumusan sikap, aku kini ingin mengalir, sebisa yang kubisa, aku akan selalu ingin membuatnya tersenyum, biarlah hanya Tuhan yang Tahu betapa aku begitu mencintainya, karena mencintai adalah bentuk ibadahku kepada-Nya. Dan aku bukan pedagang kelontong yang selalu memaknai setiap memberi harus menerima, hidup terlalu sempit untuk selalu dimaknai sebagai transaksi rugi – laba.

Apakah mencintai dan berusaha menjadi baik, modal yang cukup untuk menjadi suami? Biarkan realitas yang menjawabnya, satu tekadku: mencintainya hingga ujung waktuku, cukup bagiku.

Rumah Cinta, Maret 2008
"Terima kasih, telah menemaniku"

-lelaki biasa-

Ikuti update terbaru di Channel Telegram Eramuslim. Klik di Sini!!!

loading...

Rekomendasi

Memotivasi Diri Disaat Futur

Senin, 23/03/2009 15:44

Menikah Dulu, Baru Pacaran

Selasa, 03/02/2009 13:36

MANFAAT DAHSYAT OMEGA 3

Jumat, 14/06/2019 18:27

Zakat Kepada Orang Tua

Selasa, 02/03/2010 09:42

Cara Menasehati Suami

Jumat, 08/08/2008 05:22

Keimanan Itu Masih Ada

Kamis, 06/03/2008 03:16

Mahabharata, Film Epik yang Tak Apik

Jumat, 10/10/2014 09:49

Status Pernikahan Karena Telepon

Kamis, 11/02/2010 10:50

Baca Juga

Jakartaku…

Kamis, 27/03/2008 04:54

Zalimnya Pemerintahan Iniā€¦

Rabu, 26/03/2008 13:54

Siapa Berdoa untuk Saya?

Rabu, 26/03/2008 05:04

Kebaikan Berbalas Kebaikan

Selasa, 25/03/2008 17:19

Ketika Masjid Jadi Museum

Selasa, 25/03/2008 05:00

Pusara Tanpa Nama

Senin, 24/03/2008 05:32

Sosok Seorang Ibu

Minggu, 23/03/2008 06:40

Oase Iman Lainnya

Trending