Senin, 16 Muharram 1444 H / 15 Agustus 2022

dan Burung Pun Berterima Kasih

Waktu baru menunjukkan pukul sembilan pagi. Namun udara pagi di luar sana sudah terasa menghangat dan menyengat. Matahari mulai meninggi. Suara burung-burung berkicau terdengar sayup-sayup dari kejauhan. Teringat saya akan satu kisah nyata dari seorang sahabat. Kisah yang menunjukkan betapa besar kuasa Allah Subhanahu wa Taála kepada makhluknya.

Di sebuah apartemen di Singapura tinggal seorang ibu yang hidup bersama keluarganya. Apartemen ibu itu selalu disinggahi burung-burung yang entah datang darimana. Ibu itu bukanlah orang yang memiliki kandang burung ataupun beternak burung. Bukan, ibu itu hanya sayang kepada burung-burung liar yang selalu hinggap di pelataran dan jendela apartemennya.

Karena iba dan rasa sayangnya, setiap pagi burung-burung itu diberi makan oleh sang ibu. Tidak ada yang berani memberi makan binatang liar di lokasi pemukiman di Singapura. Bila ketahuan para penegak hukum, mereka akan kena denda sekian dollar Singapura. Namun risiko tersebut tidak menggoyahkan niatnya untuk tetap memenuhi kebutuhan perut burung-burung yang lapar itu.

Setiap hari, disebarnya biji-bijian makanan burung di halaman rumah. Dengan cekatan burung-burung liar itupun menyerbu habis tak bersisa makanan yang telah terserak untuk mereka. Seolah-olah mereka berusaha menjaga kebersihan halaman apartemen agar si ibu tidak kena denda aparat.

Bila ibu itu lupa memberi makan karena kesibukannya, burung-burung itu akan mematuk-matuk jendela apartemen dengan paruhnya untuk mengingatkan. “Sudah waktunya makan“, mungkin itu maksudnya.

Suatu saat, salah seorang tetangga di lantai atas si ibu datang mengeluh kepadanya. Dia jengkel dengan ulah burung-burung liar yang selalu membuang kotoran sembarangan dan mengenai pakaian yang dijemur di teras. Sang ibu hanya heran karena pakaian yang dijemurnya di luar tidak pernah sekalipun kejatuhan kotoran burung, tetap bersih dan wangi. Subhanallah. Kalaupun karena posisi jemurannya yang ’aman’ terlindung teras tetangga, toh bisa saja kalau mau burung tersebut terbang danbertengger di jemurannya, kemudian menuntaskan hajatnya di sana.

Muhammad Rasulullah SAW bersabda, “Allah menjadikan kasih sayang terdiri dari seratus bagian. Satu bagian di antaranya diturunkan-Nya ke bumi. Termasuk di dalam satu bagian itu rasa kasih sayang di antara sesama mahluk, sehingga hewanpun mengangkat kaki karena khawatir menginjak anaknya.“ (HR Bukhori).

Mungkin saja burung-burung itu berterimakasih kepada sang ibu karena rasa kasih sayangnyayang telahmemberinya makan setiap hari. Mereka tidak mau melukai hati wanita itu. Tidak mau menambah beban pekerjaannya karena terpaksa harus mencuci ulang pakaiannya bila terkena kotoran burung. Ataukah Allah Subhanahu wa Ta’ala yang telah memerintahkan burung-burung itu untuk membalas jasa sang ibu? Wallahu a’lam bishshawab.

Dan (Kami tundukkan pula) burung-burung dalam keadaan terkumpul. Masing-masingnya amat taat kepada Allah. (QS Shad:19).

Jeddah, Jumada Al-Awwal 1429H

Ikuti update terbaru di Channel Telegram Eramuslim. Klik di Sini!!!

loading...

Baca Juga

Sebenarnya Hidup Itu untuk Apa?

Jumat, 09/05/2008 05:32

Pak Udin dan Sikap Qana'ah

Kamis, 08/05/2008 18:15

Tangis Kecil Raisha

Kamis, 08/05/2008 11:41

Berhemat untuk Sedekah

Rabu, 07/05/2008 13:20

Ketika Waktu Terbuang Sia-Sia

Rabu, 07/05/2008 05:21

Rindu kepada Seorang Pengingat

Selasa, 06/05/2008 13:53

Tak Kenal Maka Ta’aruf

Selasa, 06/05/2008 05:07

Oase Iman Lainnya

Trending