Jum'at, 10 Rabiul Awwal 1444 H / 7 Oktober 2022

Bahagiakah?

Ada yang bilang kebahagiaan itu dari berasal dari hati. Ada juga yang berpendapat bahwa bahagia itu dapat dibeli. Atau bahkan ada juga yang bilang bahwa bahagia itu hanya untuk dirasakan bukan untuk dikonsep. Ah makin bingung saja saya mengenai BAHAGIA itu.

Apakah bahagia itu? Apakah di saat kita bergelimangan harta sedangkan orang lain kesusahan? Apakah di saat kita sehat sedangkan yang lain sakit tak berkesudahan?Apakah di saat kita berhasil sementara orang lain berkesulitan?

Beberapa waktu lalu ada salah seorang saudara saya, yang menyatakan bahwa ia bahagia ketika berhasil lulus SNMPTN dan masuk keperguruan tinggi yang ia cita-citakan. Dalam hati saya berpikir, apakah ini kebahagiaan itu? Ketika kita lulus ujian, seperti halnya kita SD ikut General Test kemudian masuk SMP pilihan kita. Kemudian SMP hingga SMA, dan sampai ke jenjang perguruan tinggi. Atau mungkin lulus ketika test mencari pekerjaan nanti. Lantas bagaimana dengan proses setelah test itu kita lewati?

Apakah kita selalu bahagia ketika kita berada di jenjang SD, SMP, SMA, Perguruan Tinggi, hingga dunia kerja nanti? Akan tetapi sepertinya kenyataan tidak menunjukkan seperti itu.

Sekali lagi, apakah ini bahagia itu? Kebahagiaan yang sesaat (atau mungkin sesat kali ya) temporer, seperti halnya kita minum dan makan, ketika kita haus dan lapar lalu berulang dan terus berulang lagi.

Ada sebuah istilah di dalam dunia perfilman yaitu Happy Ending (Akhir Yang Bahagia). Tetapi sekali lagi, entah mengapa saya sedikit tergelitik mendengar istilah tersebut. Apakah bahagia itu selalu datangnya di saat-saat terakhir? Dalam hati apakah bahagia itu seperti pahlawan-pahlawan di dalam film Action Heroes? Yang mereka selalu datang terlambat! Kalau seperti itu, bisa jadi kita bahagia nanti pada saat kita sudah menjadi kakek atau nenek (Kalau umur kita panjang tentunya). Lantas bagaimana kita menikmati kebahagiaan itu. Kalau ternyata umur kita tinggal sedikit lagi untuk menikmati hal tersebut.

Ada juga istilah senang. Entah apakah sama antara senang dan bahagia itu? Kalau kita perhatikan ucapan dalam sebuah pesta pernikahan. Hampir rata-rata tertulis dikartu ucapan tersebut adalah sebuah kalimat SELAMAT BERBAHAGIA. Coba kita ganti dengan istilah senang, menjadi SELAMAT BERSENANG-SENANG. Mungkin anda akan tertawa sedikit atau minimal tersenyum manis membaca ucapan tersebut. Walaupun tidak ada yang salah dengan ucapan tersebut. Karena memang sepasang pengantin tersebut mereka akan “Bersenang-senang”.

Seketika saya ingat sebuah ucapan dari seorang filsuf atau sufi Imam Al Ghazali, mengenai kebahagiaan. Beliau mengatakan bahwa Bahagia itu ketika kita sudah ditingkat Ma’rifatullah (Mengenal Allah). Seperti halnya perasaan seorang rakyat kecil yang berkenalan dengan pejabat kelurahan, maka ia akan bertambah rasa bahagianya ketika ia berkenalan dengan camat, walikota, gubernur, bahkan presiden atau jabatan-jabatan yang dianggap tinggi. Maka bagaimana tidak bahagianya kita jika kita sudah dapat mengenal Raja dari Segala Raja di dunia ini yakni Allah SWT.

Ketika kita telah melewati tahap Syariah, Thoriqoh, dan Haqiqoh hingga Ma’rifah. Maka kita akan menerima segala sesuatu yang telah diberikan oleh Allah SWT dengan lapang dada. Karena memang hidup ini permasalahan (penuh ujian) yang tidak akan pernah berhenti. Dalam melaksanakan konsep bahagia ini, memang agak sulit untuk direalisasikan. Karena memang PERJUANGAN (dalam mencapai kebahagiaan) adalah PELAKSANAAN KATA-KATA (WS Rendra).

Walau ditimpa berbagai macam parahnya ujian kehidupan ini. Jikalau kita mengenal Allah maka kita akan merasa bahwa kita akan mendapati kebahagiaan itu. Karena kita qonaah (baca: menerima) terhadap segala iradah Allah SWT. Seperti halnya banyak kita jumpai orang yang miskin secara ekonomi di pelosok-pelosok desa akan tetapi hidup mereka bahagia, karena mereka memang menerima dan tidak mengeluh dengan keadaan mereka. Berbeda dengan manusia-manusia rakus yang bergelimangan harta karna menipu rakyat, yang bisa membeli segala sesuatu dengan uangnya, hidup mereka pun tidak-lah se-bahagia yang orang lain bayangkan.

Inilah ciri unik dari orang-orang beriman apabila ia ditimpa ujian maka ia bersabar, dan apabila diberi nikmat maka ia akan bersyukur. Dan inilah juga yang merupakan ciri utama dari orang-orang yang telah mengenal Allah SWT dalam hidupnya.

Sungguh di dalam hati saya pun, berat rasanya mencapai kebahagiaan itu. Mungkin sedikit tulisan ini agar dapat bermanfaat dan memacu saya untuk dapat meraih rasa bahagia tersebut. Maka sekarang mungkin saya akan sedikit mencoba bertanya kepada anda sekalian. APAKAH ANDA BAHAGIA?

Ikuti update terbaru di Channel Telegram Eramuslim. Klik di Sini!!!

loading...

Baca Juga

Ketika Rasa Malas Menyerang Diri

Sabtu, 02/04/2011 15:07

Manusia dan Akal

Sabtu, 02/04/2011 07:03

Karena Aku Sangat Mencintaimu

Kamis, 31/03/2011 14:21

Bertepatan, Bukan Kebetulan

Kamis, 31/03/2011 05:44

Munafik Atau "Lebay"?

Rabu, 30/03/2011 13:52

Berpeluk Hidayah-Nya

Rabu, 30/03/2011 07:18

Oase Iman Lainnya

Trending