Selasa, 7 Rabiul Awwal 1444 H / 4 Oktober 2022

Aku Menangis Untuk Dosenku

Namanya adalah evgeni nikolevic(E.N),seorang dosen bahasa rusia berusia 60 an tahun E.N mengajar penuh dengan keprofesionalan.di tunjang pula dengan kenyangnya beliau dengan pengalaman mengajar sebagai dosen bahasa rusia untuk orang asing.

Seperti yang kita tau, tidak banyak mahasiswa asing yang benar-benar mau dan serius belajar bahasa rusia apa lagi di tambah dengan kesibukan kami para mahasiswa dikampus masing-masing, bagi kami bahasa rusia adalah mata pelajaran yang dianggap tidak penting padahal justru mata kuliah tambahan yang bakal menyelamatkan kita ke depan nanti, karena dikelas bahasa inilah kita belajar untuk berbicara, membaca, dan mengulang gramatika yang sebetulnya sudah kita selesaikan di kelas persiapan bahasa pada taun pertama.

Kelas bahasa ini biasanya diberikan sebagai salah satu program khusus untuk mahasiswa asing yang memang hingga kini meskipun sudah di tingkat 3 ini atau sampai tingkat akhir masih saja akrab dengan kesalahan demi kesalahan. Begitulah..

Kelas bahasaku kebetulan diajar oleh beliau, salah seorang dosen senior yang sangat sederhana dari gaya bicara, hidup dan mengajarnya yang sudah kuanggap bukan hanya sekedar seorang dosen tetapi lebih dari perasaan seorang cucu kepada kakeknya.

Sampai detik ini dijaman yang sangat modern yang mungkin diIndonesia saja seorang penjual jamu gendong pun sudah memiliki HP, tetapi beliau masih terkesan kolot karena tak menggunakan alat itu sekalipun. Sama hal nya dengan internet, beliau punya alamat email tetapi tidak terlalu beliau pusing kan bagi beliau kantor pos itu masih berdiri dan masih harus di pergunakan, jika bukan kita? Kantor pos akan tenggelam seperti dinegara2 maju lain-katanya suatu hari.

Saat awal pertama kali aku masuk di dalam kelas E.N selalu memberikan semangat yang luar biasa, selalu ceria tersenyum dan membuat suasana kelas menjadi hangat, tak lupa jika aku dating tepat waktu disaat kawan-kawan lain dari China dan Angola belum datang beliau akan bertanya tentang kehidupanku di asrama dan pelajaranku di kampus.(hal ini membuatku tersadar.. tidak seperti bayangan orang rusia tidak selalu kaku dan tidak berbasa basi… mereka juga manusia sama seperti kita)

Sayangnya hal ini jarang sekali terjadi bukan karena beliau tidak punya waktu untuk kami secara individu untuk bertanya tetapi hal ini di karenakan kita lah yang sangat jarang masuk kelas bahasa. Seperti yang sudah aku jelaskan di atas,karena kami terlalu meremehkan kelas bahasa ini.

Sejujurnya aku memang belum dewasa, aku masih terlalu egois untuk bisa berdisiplin dan menepati jadwal hanya karena merasa terlalu letih dan kurang istirahat dan masih ingin merasakan empuknya bantal dan kasurku yang keras namun nyaman itu. Aku tak pernah memikir kan E.N dengan segala aktivitas nya yang ternyata tidak kalah sibuk seperti hal nya kami.

Pernah suatu kali hampir semua mahasiswa asing dikelasku yang berjumlah 6 orang itu serempak tidak masuk kelas, kecuali aku seorang. Padahal mereka tidak janjian, tapi pagi hari bagi kita adalah sebuah momok bagi mahasiswa yang kuliah disiang hingga pukul 8 malam, jika tidak ada jadwal sholat subuh mungkin aku akan seperti mereka yang jarang-jarang memperoleh berkah untuk memandang matahari terbit.masyaallah..

Kelas tetap berjalan seperti biasa jam tidak berkurang meskipun hanya aku seorang diri di dalam kelas bersama dengan E.N. itu yang membuatku terkagum kagum dengan kedisiplinan dan ke profesionalan orang-orang rusia. Mereka jarang mempertimbangkan kwantitas, karena bagi mereka kualitas adalah yang utama.

Sesekali wajah tua nya melukiskan letih, untuk seorang kakek berkepala 6 sudah seharusnya beliau beristirahat dan menikmati masa tuanya di rumah dan bermain-main dengan cucunya yang hanya 1 itu. Tapi beliau masih tetap berjuang dengan semangatnya serta mengatakan.. "bagiku membagi ilmu itu penting,meskipun untuk gaji tidak sebanding dengan lelahnya mengajar di 3 fakultas sekaligus semenjak pukul 8 pagi hingga pukul 5 sore"

Kata-kata beliau menamparku, aku yang masih muda yang tenaganya masih lebih kuat dari beliau terkadang tidak kuat menahan hawa nafsu untuk terus memejamkan mata dan membiar kan beliau kecewa karena kami yang diajar masih setengah hati menerima pelajaran. Inilah yang membuatku selalu merasa mendzolimi beliau dengan kelakuanku.

Hingga suatu hari, air mataku tak dapat lagi aku bendung dihadapannya, kesederhanaan beliau bukan karena sikap yang aku anggap kolot itu terhadap perkembangan jaman, tetapi bukan karena keinginannya semata, memang karena tuntutan ekonomi. Aku mendapati beliau berdiri diantara barisan orang orang lansia di jalan balsaya sadobaya dicenter kota sambil menjajakan beberapa tangkai bunga.(biasa nya hal ini di lakukan oleh lansia dengan ekonomi bawah)

Aku tak percaya tapi beliau tidak malu,beliau malah tersenyum kepadaku dan melambaikan tangan kepadaku, aku menangis karena ternyata dibalik sikap angkuhku yang selalu mengikuti hawa nafsu untuk memejamkan mataku dari pada menghadiri kelas bahasa sebagai kewajiban dan penghargaan untuk kedisiplinan beliau membuatku terpukul betapa besar dosa ku melalai kan kewajibanku dan mendzolimi orang lain. Astagfirullah…

Hal ini sangat mengajarkan aku bagaimana harus menghargai orang lain dan berdisiplin dengan apa yang telah ditetapkan untuk kita.

aku juga belajar Melihat selalu kearah bawah bahwa bukan hanya kita yang merasakan lelah dan letih dengan segala kesibukan kita, orang lain pun ada yang lebih sibuk dan letih daripada kita

serta jangan pernah kita menilai orang hanya dari luar saja karena kita tidak pernah tau siapa dan bagaimana orang tersebut dengan keahliannya.

Rostov,Russia 4-4-2010

Ikuti update terbaru di Channel Telegram Eramuslim. Klik di Sini!!!

loading...

Baca Juga

Terima Kasih Istriku

Senin, 05/04/2010 06:50

Zero Point

Sabtu, 03/04/2010 08:42

Berhenti Sejenak

Jumat, 02/04/2010 15:52

Makna Yang Tergerus Masa

Jumat, 02/04/2010 06:14

Oase Iman Lainnya

Trending