Rabu, 8 Rabiul Awwal 1444 H / 5 Oktober 2022

Doakan yang Terbaik…

Aku sudah datang terlambat siang itu. Aku sudah hampir ragu untuk hadir di sana. Mungkin juga aku hampir tertinggal kalau saja tak meng-sms salah satu temanku. Aku pun sampai ketika semua teman sudah ada di mobil.

Teteh mengatakan kalau kami akan menengok ayah dari seorang teman yang masuk rumah sakit. Aku pun ingat sms dari temanku tentang dana, tapi saat aku periksa dompet dan isi tasku, tak kutemukan juga uang tunai. Yah, aku lupa, aku tak membawa sepeser uang pun. Kuperhatikan alas kaki pun hanya sendal jepit. Aku memang tak siap untuk bepergian jauh. Aku sama sekali tak tahu menahu kalau hari ini juga kami akan menengok ke rumah sakit. Alhamdulillah, dana yang akan digunakan menyumbang adalah uang kas yang sudah terkumpul sebelumnya.

Sepanjang perjalanan sayup-sayup kudengar kecemasan teteh yang berbicara pada suaminya yang tengah menyetir mobil. Aku bukannya tak peduli apa yang tengah terjadi dengan ayah dari temanku itu, tapi aku hanya coba mendengar dan menunggu penjelasan dari mereka. Entah kenapa, padahal itu bukan kebiasaanku.

Akhirnya, kami sampai di sebuah Rumah sakit sederhana dan ruang yang kami tuju adalah ruang ICU. Kami bertemu dengan seorang akhwat berjilbab biru tua, wajahnya terlihat lelah. Kemudian kami pun bertemu dengan ibu dari temanku, dan saudara-sadauranya yang ikut menunggu.
Baru saat itu aku mulai bertanya, kenapa harus mendatangi ICU, separah apakah….?

Kecelakaan motor, koma, kena bagian kepala!
Aaah….. tidak, andai aku tak di sini.
Rasanya, aku seperti merasakan dejavu.
Rasanya aku seperti dibawa pada kejadian empat tahun lampau.

=======
Aku mungkin yang datang terakhir malam itu ke rumah sakit. Ketika aku lewati pintu depan, aku sudah bertemu dengan teman-teman kakak, saudara sepupu, tetangga dan banyak lagi. Kalau saja ibu tak menyuruhku segera datang saat itu, aku pun enggan untuk datang. Selama aku di rumah, aku tak mendengar dengan jelas keadaan bapak saat itu. Aku hanya tahu bapak kecelakaan dan dibawa ke RSCM. Aku hanya tahu, kakak akan membeli darah setelah ibu dan kakak menyusul ke rumah sakit terlebih dulu. Aku hanya tahu bapak ada di IGD. Kecemasanku benar-benar tak tertandingi, tapi entah kenapa aku tak mau ada di sana.

Aku bersama keponakanku yang berumur 2 tahun ada di rumah. Aku benar-benar tak tenang. Aku berusaha menahan tangis ini. Entahlah apa yang bisa aku rasakan saat itu. Aku sama sekali tak menginginkan hal yang terburuk terjadi pada bapakku. Hingga, akhirnya aku lihat sendiri keadaanya. Ketika berada di depan pintu ruang resustasi IGD, aku langsung dihampiri seorang ibu yang langsung memelukku.

Di sana terbaring sosok laki-laki yang sangat berpengaruh bagiku. Sosok yang memiliki arti besar bagi kami. Beliau terbaring kaku, darah terus ke luar dari pelipis matanya. Bapak seperti orang tidur, tenang. Namun, kulihat, air mengalir dari mata bapak. Di sebelah kiri bapak, ibu berdiri mengusap darah di wajah bapak. Tak jauh dari sana, ada saudara, tetangga, dan sayup-sayup kudengar penjelasan dokter.

Aku ajak ibu menuju masjid untuk shalat isya. Alhamdulillah, ibu masih kuat berjalan, mengingat tetangga-tetangga kami mencemaskan keadaan ibu saat itu. Aku ingat, tak ada lagi yang bisa kami minta selain yang terbaik untuk bapak. Yang terbaik, ya Allah… hanya itu yang bisa kami pinta.

Dokter yang memeriksa keadaan bapak, sudah meminta ibu untuk sabar. Entah firasat apa, kami tak bisa membayangkan apa yang terjadi malam itu. Memindahkan bapak ke ruang ICU, tidak bisa dilakukan karena penuh, memindahkannya ke rumah sakit lain pun tak memungkinkan. Sudah hampir 12 jam ada di sana. Kami hanya memohon yang terbaik dan bergantian melafalkan doa dan bacaan Al-Quran.

Hingga akhirnya… bapak pergi untuk selama-lamanya.

===
Aku tersadar. Ya Allah, aku benar-benar tak kuat ada di sini. Kulihat wajah-wajah sedih, bingung dan perasaan tak menentu. Kulihat seorang ibu yang tengah menangis. Kulihat sosok anak laki-laki yang terus menundukkan kepala. Di sini aku teringat akan bapak. Kematiannya yang diawali kecelakaan yang begitu mirip dengan apa yang dialami ayah temanku.

Ya Allah, berikanlah yang terbaik buat ayah temanku itu
Ya Allah, berikanlah yang terbaik buat keluarga mereka…
Ya Allah, berikanlah yang terbaik.

Keadaannya sang ayah tidak bisa kami ketahui siang itu. Tapi, sayup-sayup kudengar, mereka sangat kesulitan dana, hingga kemungkinan akan menjual rumah. Sementara kemungkinan kesadaran sang ayah tak meyakinkan. Mereka hanya bisa pasrah…

Http://akunovi.multiply.com/

Ikuti update terbaru di Channel Telegram Eramuslim. Klik di Sini!!!

loading...

Baca Juga

Idol dan Berhala

Senin, 16/06/2008 06:14

Miskin dan Kaya

Minggu, 15/06/2008 16:55

Demonstrasi

Minggu, 15/06/2008 08:41

Penghasilan dan Rezeki

Jumat, 13/06/2008 17:56

Sampaikanlah Walau Satu Ayat…

Jumat, 13/06/2008 06:02

Ketika Sehelai Kain Bicara

Kamis, 12/06/2008 13:22

Tidak Tahu Berterima Kasih

Kamis, 12/06/2008 05:35

Oase Iman Lainnya

Trending