Sabtu, 24 Zulqa'dah 1443 H / 25 Juni 2022

Tak Akan Habis Kuceritakan Tentang Dirinya

Pagi masih berselimut embun. Dingin. Ayam jantan masih terus berkokok dari kandang-kandang para pemilik Tuannya. Menandakan bahwa hari telah berganti. Dan kehidupan mulai beranjak, berputar kembali pada semestinya. Tinggal insan ciptaan Sang Khalik itu sendiri yang menentukan jalannya masin-masing. Mau melakukan hal-hal yang baik, mendapatkan berkah atau pahala dariNya atau tidak hanya insan itu sendiri lagi-lagi yang menentukan.

Pun dengan perempuan muda yang sudah berstatuskan single parent itu. Ia sudah menentukan jalannya sendiri pagi itu. Ia ingin paginya dapat melakukan pekerjaan yang dapat di ridhoi Tuhannya. Yang Maha Pengasih dan Pemberi Rahmat untuknya. Walau pun mentari pagi belum menampakan diri sepenuhnya untuk menyinari alam semesta ini.

Perempuan muda yang sudah berstatuskan single parent itu sudah bersiap-siap ingin menunaikan pekerjaan rutinnya setiap hari. Semoga pagi itu ia bisa melakukan pekerjaannya—yang dimuliakan dan dirahmati TuhanNya.
Kus, begitu nama panggilan perempuan muda yang sudah berstatuskan single parent itu disapa. Dan orang-orang yang sudah mengenalnya pun sudah mahfum jika usai menuaikan kewajibanNya, shalat subuh, ia lantas pergi berangkat bekerja. Walau embun pagi masih sangat terasa di rasakan oleh kulitnya. Masih terasa dingin. Tapi pagi itu ia tetap semangat untuk pergi berangkat bekerja.
Selalu.

Begitulah setiap paginya yang ia lakukan!
Namun sebelum perempuan itu pergi berangkat bekerja ia terlebih dahulu menitipkan pesan kepada Emak. Emak panggilan untuk orangtua satu-satunya yang ia milikinya itu. Ia menitipkan pesannya terlebih dahulu itu untuk anak semata wayangnya—yang kini sudah beranjak remaja dan sudah bekerja pula. Masih terlelap.

”Emak, nanti kalau si Seno sudah bangun. Tolong ya, Mak, kasih uang ini untuk beli sarapan pagi untuknya sebelum ia berangkat kerja.” pesannya kepada orangtua satu-satunya yang ia miliki.

Begitulah setiap paginya yang ia lakukan!
Emak, orangtua yang dipanggilnya itu hanya bisa tersenyum. Dan hanya senyuman saja yang dapat ia berikan untuk anak perempuannya itu sambil mendoakannya. Agar pagi itu ia bisa bekerja sebaik mungkin. Tak mengecewakan majikannya.

**

Menjadi buruh cuci (pembantu) di rumah majikan. Itulah profesi perempuan beranak satu yang sudah beranjak remaja itu kerjakan. Ia pun ikhlas mengerjakan itu. Pun semua ia lakukan demi anak laki-laki semata wayangnya serta Emak dan juga adik-adiknya yang milikinya itu.
Dan menjadi buruh cuci (pembantu) adalah merupakan sebagai penambah dan penompang kehidupan keluarganya.

Lima belas tahun sudah ia menjadi buruh cuci (pembantu)—dan sudah ia kerjakan selama itu. Dari tahun 1995 ia memulai ”karier” nya itu ia. Walau pekerjaan itu dianggap hina bagi yang melihatnya tetapi ia tak peduli anggapan orang lain apalagi para tetangga dekatanya jika mencibirnya. Walau ia hanya bisa menahan di hatinya. Tak ingin membalasnya. Hanya senyuman dapat disunggingkan olehnya dan selebihnya hanya itu yang bisa ia pasrahkan kepada TuhanNya yang Maha Mengetahui hati hamba-hambanya semacam dirinya.

Asal halal dan tidak merepotkan apa pun itulah yang ia terus lakukan. Demi anak semata wayang, Emak serta adik-adiknya ia akan terus ”menekuni” pekerjaannya itu. Tak peduli dengan semua perkataan orang lain dan juga para tetangganya, lagi-lagi asal halal dan tidak merepotkan apa pun ia tetap melakukan pekerjaan itu.

Lima belas tahun. Ya, lima belas tahun sudah perempuan itu menjadi buruh cuci (pembantu) di rumah majikan. Itu sudah ia lakukan sejak tahun 1995 ia memulai ”karier”nya. Ia sudah melakukan pekerjaannya itu. Dan tak terbersit pun ia menyia-nyiakan pekerjaan itu. Apalagi pekerjaan itu sangat membantu perekonomian keluarganya.

Pernah suatu hari Seno, semata wayangnya berujar kepadanya saat malam semakin larut. Dan mata belum terpejam lebih lanjut. Anak laki-lakinya itu berujar.
”Bu, memangnya tidak lelah dan penat kerja melulu sebagai pembantu. Kan Seno sudah bekerja. Jadi bagaimana kalau Ibu istirahat bekerja. Biarlah Seno yang cari uang. Lagi pula adik-adik Ibukan sudah bisa cari uang sendiri tanpa perlu Ibu bekerja di rumah orang.”

Begitu ucapan anak semata wayang yang kini sudah bekerja menjadi pelayan di sebuah cafe di ibukota dengan penuh keprihatian seorang anak terhadap orangtuanya. Terlebih perempuan muda yang sudah menyandang single parent ketika anak remaja yang sudah bekerja menjadi pelayan kafe itu masih berusia 4 tahun. Perempuan muda itu sudah ditinggal ”pergi” oleh suaminya. Dan jadilah gelar single parent melekat pada dirinya.

Dan betapa kuatnya ia menjalani semua kehidupan ini.
Namun namanya manusia tentu ada titik jenuh dan penatnya. Halnya benda lunak elektonik bernama netbook. Alat penunjang menulis, tentunya akan meledak jika terus-menerus dipakai tanpa diistirahatkannya. Pun begitu yang dirasakan perempuan berstatuskan single parent itu. Perempuan itu akhirnya lelah juga menjalani profesinya itu. Dan ia memutuskan berhenti dari pekerjaannya. Namun bukan berhenti selamanya dari pekerjaannya sebagai kodrati seorang perempuan. Walau ia sudah berhenti menjadi buruh cuci (pembantu) di rumah majikan. Ia tetap melakukannya itu di rumah sekaligus membantu Emak mencuci serta memasak. Dan ia tak menyesali itu. Untuk berhenti dari pekerjaan seperti biasa ia lakukan. Karena ia berpikir bekerja di rumah sama juga. Sama-sama mulia. Apalagi ia menyandang 3 gelar sekaligus. Pertama; menjadi seorang Ibu dari anak laki-lakinya yang kini sudah beranjak remaja. Kedua; menjadi anak perempuan dari Emak, orangtua yang ia miliki yang sama-sama single parent pula. Serta ketiga; menjadi seorang kakak perempuan yang patut dicontoh untuk adik-adiknya.

Dan tahukah Anda siapa perempuan yang aku kisahkan ini?

Tak lain ia adalah kakak perempuanku. Karena ia jugalah aku akhirnya bisa mengenyam bangku kuliah pula. Semua itu hasil selama ia bekerja menjadi seorang buruh cuci (pembantu).

Tak percaya? Tanya aku!

Terima kasih kakak perempuanku! Terima kasih! Tak akan habis kuceritakan tentang dirimu di kisah ini. Kuucapkan sekali lagi terima kasih atas jasa dan kebaikanmu untuk adik-adikmu ini termasuk aku. Terima kasih kuucapkan kembali.[]*

Kamar Inspirasiku, 12052011

Email:[email protected]

FB:[email protected]

Blogg:http://senimankata-kata.blogspot.com/

Ikuti update terbaru di Channel Telegram Eramuslim. Klik di Sini!!!

loading...

Baca Juga

Belajar Dari Tujuh Jenis Manusia

Kamis, 30/06/2011 05:20

Seutas Tali Kebersamaan

Selasa, 28/06/2011 13:46

Pocket Money

Selasa, 28/06/2011 06:56

Harusnya Syukur Bukan Kufur

Senin, 27/06/2011 13:45

Akil Baligh

Senin, 27/06/2011 07:46

Salaman Berhadiah

Sabtu, 25/06/2011 12:18

Malas…Ah..!

Jumat, 24/06/2011 13:36

Oase Iman Lainnya

Trending