Selasa, 27 Zulqa'dah 1443 H / 28 Juni 2022

Ia Datang Tak Mengetuk Pintu Lebih Dulu

Seorang pemuda di Damaskus telah bersiap-siap untuk melakukan perjalanan. Dia memberi tahu ibunya bahwa waktu take off pesawat adalah jam sekian. Ibunya diminta membangunkannya jika telah dekat waktunya. Dan pemuda itu pun tidur.

Sementara itu, si ibu mengikuti berita cuaca dari radio yang menjelaskan bahwa angin bertiup kencang dan langit sedang mendung. Sang ibu merasa sayang terhadap anak satu-satunya itu. Karenanya, dia tidak membangunkan anaknya dengan harapan dia tidak jadi pergi pada hari itu, lantaran cuaca sangat tidak mendukung itu. Dia takut akan terjadi peristiwa yang tidak diinginkan.

Ketika dia sudah yakin bahwa waktu perjalanan telah lewat dan pesawat telah tinggal landas, ibu itu bermaksud membangunkan anaknya. Ternyata si anak telah meninggal di tempat tidurnya. [1]

***

Di negeri Syam ada seorang laki-laki yang memiliki truk Lorie. Ketika truk itu dijalankan, tanpa diketahuinya di atas badan truk itu ada orang. Truk itu mengangkut peti yang sudah siap untuk menguburkan mayat. Sedangkan di dalam peti itu terdapat kain yang bisa digunakan sewaktu-waktu dibutuhkan.

Tiba-tiba hujan turun dan air mengalir deras. Orang itu pun bangun dan masuk ke dalam peti, dan membungkus dirinya dengan kain yang ada di dalam peti. Kemudian di tengah perjalanan ada seorang yang lain naik menumpang ke bak truk itu di samping keranda. Dia tidak tahu bahwa di dalam peti itu ada orang.

Hujan belum berhenti. Orang yang kedua ini mengira bahwa dirinya hanya sendirian di dalam bak truk itu. Tiba-tiba dari dalam peti ada tangan terjulur—untuk memastikan apakah hujan sudah berhenti atau belum. Ketika tangan itu terjulur, kain yang membungkusnya juga terjulur keluar. Si penumpang itu kaget dan takut bukan kepalang. Dia mengira bahwa mayat yang ada di dalam peti itu hidup kembali. Karena takutnya, dia terjungkal dari truk dengan posisi kepala di bawah. Dan, mati. [2]

***

Sebuah bus penuh sesak dengan penumpang. Sopirnya selalu menoleh ke kiri dan ke kanan, dan secara tiba-tiba sopir itu menghentikan bus itu. Para penumpang pun bertanya, “Mengapa engkau menghentikan bus ini?” Sopir itu menawab, “Saya berhenti untuk menghampiri orang tua yang melambai-lambaikan tangannya hendak turut menumpang bersama kita.”

Para penumpang jadi bertanya-tanya, “Kami tidak melihat siapa-siapa.”

Tapi sopir itu melihatnya, “Lihat, itu dia.”

Mereka tetap bingung, “Kami tidak melihat seorang pun.”

Sopir itu pun kembali berkata, “Kini dia datang untuk naik bersama kita.” Semua penumpang berkata, “Demi Allah, kami tidak melihat siapa-siapa.” Dan secara tiba-tiba pula, sopir itu mati terduduk di atas kursinya. [3]

***

Seorang teman saya sakit demam berdarah dan harus dirawat inap di RSUD Sardjito, Yogyakarta. Selama kurang lebih satu minggu, kami teman-teman dekatnya bergiliran menjaganya di sana.

Di dalam satu ruang perawatan itu, ada dua orang pasien. Di samping ranjang teman saya adalah seorang kakek penderita asma akut. Kakek itu ditunggui istri dan seorang anak perempuannya. Setelah lewat satu minggu menjalani perawatan, kondisi kakek itu sudah berangsur membaik. Nafasnya sudah mulai normal. Selang oksigen yang biasa terpasang di hidungnya sudah boleh dilepas. Dan, sang kakek sudah bisa menghabiskan setiap jatah makannya dengan lahap.

Malam itu, Minggu, 27 Januari 2oo8. Saya kembali kebagian piket menunggui teman saya.

“Wah, kakek sudah sehat ya?” kata saya ikut senang melihat perkembangan kondisi sang kakek. “Kapan pulang, Kek?”

“Besok pagi kakek pulang,” sang istri menimpali pertanyaan saya dengan wajah berhias senyuman.

Lewat tengah malam itu, saat lorong-lorong di sepanjang bangsal perawatan sudah senyap. Saya mencoba memejamkan mata di sebuah bangku dengan posisi duduk. Di ruangan yang sama, istri kakek dan anak perempuannya tampak sudah tertidur di lantai di samping ranjang kakek. Teman saya juga sudah terlelap.

Tiba-tiba asma sang kakek kambuh lagi. Nafasnya tersengal hebat memburu tak teratur. Tubuh kurusnya berguncang-guncang mengikuti irama tarikan nafasnya. Spontan istri dan anak perempuan kakek terbangun dan panik seketika.

Saat itu, agak terlambat dokter jaga tiba untuk memeriksa kondisi sang kakek. Dan, kakek pun menghembuskan nafasnya yang terakhir tak lama berselang setelahnya.

Benar apa yang dikatakan istri kakek, pagi itu kakek pulang. Pulang meninggalkan dunia ini untuk selama-lamanya.

***

Maka, sungguh indah ungkapan Ali bin Abi Thalib, “Sesungguhnya kematian terus mendekati kita, dan dunia terus meninggalkan kita. Jadilah kalian anak-anak akhirat dan janganlah kalian jadi anak-anak dunia. Sesungguhnya hari ini adalah beramal dan tidak ada hisab, dan esok adalah hisab dan tidak ada lagi beramal.”

Ungkapan Ali itu mengingatkan kita, bahwa manusia harus selalu siap siaga, memperbaiki keadaannya, dan senantiasa memperbaharui taubatnya.

Kematian itu tidak pernah meminta izin kepada siapa saja, tidak pernah pilih kasih kepada siapa saja, dan tidak pernah merajuk. Kematian itu tidak pernah memberikan aba-aba terlebih dahulu.

Sesungguhnya ada banyak sekali ragam potret kematian di sekitar kita. Semoga Allah Swt. menghindarkan kita dari kematian su’ul khotimah. Amin.

***

4 April 2oo9 o8:o6 p.m.

Catatan: [1], [2], dan [3] dikutip dari buku Laa Tahzan karya Dr. Aidh Al-Qarni

http://setta81.multiply.com/

Ikuti update terbaru di Channel Telegram Eramuslim. Klik di Sini!!!

loading...

Rekomendasi

SBY dan Isu Kriminalisasi KPK

Jumat, 20/11/2009 09:28

KOMPLIKASI KRONIS DIABETES MELITUS

Jumat, 23/11/2018 18:48

Ibuku, Madrasahku

Jumat, 16/05/2008 20:12

Pengawasan Allah

Jumat, 19/10/2007 18:29

Daripada Manohara mending……??

Senin, 01/06/2009 08:11

Asma-ul Husna dan Bisnis (1)

Selasa, 30/03/2010 00:27

Baca Juga

Pak Tua Itu

Senin, 06/04/2009 08:04

Wajah Sebuah Negeri

Sabtu, 04/04/2009 09:01

Kok Berita Ini Lagi

Kamis, 02/04/2009 07:58

Pagi itu Di Situ Gintung

Rabu, 01/04/2009 14:45

Oase Iman Lainnya

Trending