Sabtu, 15 Jumadil Awwal 1444 H / 10 Desember 2022

Jalan Datar

jalan likuMengapa kita terjatuh di jalan yang datar, sementara di jalan terjal berliku kita selamat sampai tujuan? Salah satu yang menjadi penyebabnya adalah karena kita kurang waspada, terlena ketika berada di zona aman dan nyaman.

***

Seorang laki-laki terisak memprihatinkan setiap kali ia mengingat istri dan anak-anaknya. Bukan hanya malu, tapi mereka juga harus menanggung beban hidup yang tidak ringan. Kenikmatan dan kemewahan hidup yang mereka nikmati selama ini tiada lagi, bahkan untuk makan sekedar bertahan hidup saja mereka harus berjuang sendiri. Tak banyak yang bisa ia lakukan, hanya menyesali semuanya dari balik jeruji tahanan. Karir yang ia bangun dengan segala perjuangan dan pengorbanan, runtuh oleh tangannya sendiri. Ketika orang-orang mengutuk korupsi, ia justru menikmati. Kesadaran datang hanya berselang detik dengan penyesalan.

Seorang wanita muda tergugu pilu ketika menyadari bahwa laki-laki yang ia cintai telah pergi meninggalkannya. Bukan karena pihak ketiga, tapi karena ia tak bisa menempatkan sang suami pada posisi yang semestinya. Apapun yang dilakukan, ia salahkan, ia rendahkan. Terpilih dari sekian wanita yang ingin menjadi pendamping, membuat ia terlena, mengira bahwa sang laki-laki tak akan mungkin meninggalkannya. Terlebih ada hutang budi di antara mereka. Unggul di banyak hal membuat ia terlupa bahwa meski laki-laki cenderung menggunakan logika, tapi ia juga mempunyai rasa.

Seorang siswa nyaris pingsan di hadapan teman-temannya ketika mendapati kata tidak lulus atas nama dirinya. Sulit dipercaya, peringkat sepuluh besar yang tak pernah lepas dari namanya ternyata bukan jaminan untuk ia mendapatkan kelulusan. Kepercayaan diri yang berlebihan mengabaikannya untuk belajar. Ada yang terlewat darinya yaitu bahwa salah satu sifat yang melekat pada manusia adalah lupa. Meski sebenarnya ujian sekolah hanya mengulang apa yang sudah pernah diajarkan, belajar harus tetap dilakukan karena otak kita butuh penyegaran.

***

Pengalaman adalah guru yang berharga dalam kehidupan. Seseorang semestinya tidak perlu jatuh dua kali di lubang yang sama. Kita harus bisa mengambil pelajaran dari sebuah kegagalan untuk meraih keberhasilan. Namun bukan sebuah ketentuan bahwa keberhasilan harus diawali dengan kegagalan. Kita bisa belajar dari pengalaman orang lain, bahkan kita bisa mengantisipasi kegagalan sebelum melakukan. Jangan pula lupakan bahwa bagian terpenting – dan juga tersulit – dari sebuah pencapaian adalah mempertahankan.

Jangan terpesona, jangan terlena oleh keindahan dan kenyamanan dunia. Tetap pertahankan kehati-hatian dan juga kewaspadaan dalam melangkah. Hati-hati bukanlah ragu-ragu, pun waspada bukanlah berburuk sangka. Bagaimanapun harus diingat bahwa ujian bukan saja ketika kita menderita, ditimpa masalah, tapi ujian juga ketika kita berbahagia. Perlu diwaspadai ketika kita merasa bahwa hidup kita tak ada masalah, sebab boleh jadi itulah masalah yang sebenarnya.

Berhati-hatilah, bukan saja saat berada di jalan terjal berliku, tapi di jalan yang datarpun harus tetap waspada, jangan sampai tersandung, terpeleset dan terjatuh justru oleh batu, pasir dan kerikil yang kecil.

 

Penulis:

Abi Sabila

Email: [email protected]

Ikuti update terbaru di Channel Telegram Eramuslim. Klik di Sini!!!

loading...

Baca Juga

Perselingkuhan

Senin, 27/05/2013 13:19

Berkejaran Dengan Waktu

Jumat, 24/05/2013 13:26

Siap Kecewa

Selasa, 21/05/2013 10:36

Negeri Ideal Yang Didambakan

Jumat, 17/05/2013 10:02

Pintar Berikhtiar

Kamis, 16/05/2013 07:51

Oase Iman Lainnya

Trending